Infeksi kuku mengintai para perempuan berjari lentik nan cantik. Sudah tak asing lagi bahwa banyak kaum hawa yang senang melakukan perawatan kuku sehingga perawatan kuku seperti manicure dan pedicure menjadi suatu kebutuhan. Kaum wanita lebih sering mendatangi pusat perawatan kuku untuk mempercantik tampilan kuku mereka atau hanya sekedar untuk merawat kuku. Sering kali setelah melakukan perawatan kuku, timbul kemerahan dan rasa nyeri di sekitar kuku, bahkan sampai membengkak dan bernanah. Infeksi dan radang atau inflamasi yang terjadi di jaringan lunak di sekitar kuku (area perionychium) disebut Paronikia atau Cantengan. Paronikia terdiri dari 2 tipe, akut dan kronis. Paronikia akut sebaian besar disebabkan oleh bakteri. Bakteri penyebab tersering adalah Staphylococcus aureus, Streptococci, dan Pseudomonas. Paronikia kronik disebabkan oleh bahan iritan atau alergik serta infeksi sekunder oleh Candida. Perjalanan suatu paronikia kronis diselingi oleh episode inflamasi akut yang nyeri dan bersifat self-limiting. [caption id="attachment_230765" align="aligncenter" width="600"]Infeksi kuku Infeksi kuku[/caption] Sumber gambar: Paronychia [Internet]. Wikipedia. 2016 [cited 9 April 2016]. Paronikia akut dapat berupa nyeri terlokalisir, merah, bengkak dan teraba hangat. Bernanah dan abses, lalu menjadi tegang. Nyeri berdenyut merupakan gejala utama-nya. Intervensi bedah harus dilakukan agar tidak terjadi inflamasi dan distrofi kuku. Paronikia akut terjadi jika sering menggigit kuku, menghisap jari tangan, dan mengalami trauma kuku (seperti manicure/pedicure). Paronikia kronis, permukaan kuku menjadi kasar dan rapuh, garis iregular yang melintang dan ukuran kuku mengecil. Paronikia kronis terjadi pada yang sering terpapar dengan air atau iritan (seperti bartender, pekerja cuci piring). Terapi paronikia akut, rendam air hangat 3-4 kali dalam sehari, efektif  disaat belum terbentuk abses. Bebat untuk melindungi bagian jari yang terkena. Jika bengkak harus di drainase. Antibiotik oral yaitu clindamycin dan kombinasi amoxicillin-asam clavulanate. Antiseptik topikal seperti chlorhexidine atau povidone-iodine serta rendam air hangat kombinasi dengan pemberian antibiotik sistemik. Terapi paronikia kronis, menghindari paparan terhadap lingkungan yang lembab,serta bahan alergen atau kontak iritan seperti sabun dan deterjen. Area yang terkena harus kering. Terapi dengan steroid topikal dan sistemik. Aplikasi steroid topikal potensi tinggi (clobetasol propionate 0,05%). Jika infeksi Candida, diberikan topikal golongan imidazole. Kombinasi topikal steroid dan agen antifungal. Pada kasus berat, steroid intralesi atau steroid sistemik dapat digunakan untuk mengurangi inflamasi dan nyeri. Terdapat beberapa tehnik intervensi bedah yaitu teknik marsupialisasi eponychial, teknik eksisi en bloc dan teknik Swiss roll. Prognosis baik jika pada paronikia akut dilakukan terapi yang adekuat. Namun, jika tidak adekuat, paronikia akut yang sering kambuh dapat membentuk suatu paronikia kronis. Cara mencegah infeksi kuku dan supaya kuku tetap sehat:
  1. Hindari kebiasaan menggigit kuku
  2. Pakailah sarung tangan karet jika sering melakukan aktivitas mencuci atau saat berkebun atau saat melakukan aktivitas yang berkontak dengan tanah, pertukangan, atau pekerjaan di mana tangan berpotensi kotor.
  3. Pakai juga sarung tangan atau pelindung tangan saat melakukan pekerjaan yang rawan terjadi kecelakaan kerja seperti luka atau tergores.
  4. Cucilah tangan Anda setelah melakukan aktivitas.
  5. Bagi yang sering melalukan kegiatan manicure dan pedicure, pastikan sang beautician sudah membersihkan alat terlebih dahulu dan mengulanginya dengan antiseptik (alkohol), mintalah agar proses perawatan dilakukan secara perlahan dan jangan dilakukan sampai terlalu dalam.
  Tips untuk Anda yang sekiranya timbul gejala infeksi kuku maka:
  1. Jangan sembarangan mencabut kuku Anda, tapi jika anda memakai kuku tambahan, kuku tambahan tersebut boleh dicabut.
  2. Rendam air hangat 3-4 kali dalam sehari
  3. Oleskan antibiotik topikal yang dijual bebas.
  4. Jika 2-3 hari belum membaik, segeralah Anda berobat ke Dokter terdekat.
  Referensi:
  1. Alevizos D. Acute and Chronic Paronychia - American Family Physician [Internet]. Aafp.org. 2016 [cited 24 January 2016]. Available from: http://www.aafp.org/afp/2008/0201/p339.html
  2. Azminingrum A, Ervianti E. Paronikia (Paronychia). Berkala Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin. 2012; 24(3):205-211
  3. Clark D. Common Acute Hand Infections - American Family Physician [Internet]. Aafp.org. 2016 [cited 24 January 2016]. Available from: http://www.aafp.org/afp/2003/1201/p2167
  4. Relhan V, Goel K, Bansal S, Garg V. Management of chronic paronychia. Indian Journal of Dermatology. 2014;59(1):15.
  5. Rockwell P. Acute and Chronic Paronychia - American Family Physician [Internet]. Aafp.org. 2016 [cited 24 January 2016]. Available from: http://www.aafp.org/afp/2001/0315/p1113
  6. Paronychia [Internet]. Wikipedia. 2016 [cited 9 April 2016]. Available from: https://en.wikipedia.org/wiki/Paronychia
  7. Jerry R. Balentine F. Paronychia (Nail Infection) Causes, Symptoms, Treatment - What Follow-up Is Needed After Treatment of a Paronychia? - eMedicineHealth [Internet]. eMedicineHealth. 2016 [cited 6 April 2016]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/paronychia_nail_infection/page4_em.htm#is_it_possible_to_prevent_a_paronychia
  8. Paronychia (Nail Infection) Treatment [Internet]. WebMD. 2016 [cited 6 April 2016]. Available from: http://www.webmd.com/first-aid/paronychia-nail-infection-treatment