Imunisasi ... kata ini populer sekali di kalangan anak-anak. Tapi ternyata, bukan berarti orang dewasa kebal terhadap imunisasi. Justru ada tanggapan bahwa orang dewasa lebih memerlukan imunisasi dibandingkan anak-anak. For the fact, imunisasi pada orang dewasa dapat mencegah kematian sepuluh kali lipat daripada imunisasi anak.

Sebelum masuk lebih jauh, ada baiknya kita mengenal sekilas tentang imunisasi itu sendiri. Imunisasi adalah pemberian vaksin agar tubuh memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu. Biasanya imunisasi diberikan dengan cara disuntikkan atau diteteskan pada mulut. Vaksin merangsang kekebalan tubuh yang nantinya akan melawan kuman penyakit.

Ada dua macam imunisasi, yakni imunisasi pasif dan aktif. Imunisasi terjadi aktif ketika kekebalan didapat dari produksi antibodi akibat paparan dengan antigen yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh, seperti pada imunisasi BCG, DPT, hepatitis B, dll. Sementara imunisasi terjadi pasif ketika kekebalan didapat dari masuknya antiserum atau antitoksin ke dalam tubuh. Biasanya imunisasi pasif diberikan pada kasus-kasus darurat. Imunisasi pasif bekerja secara cepat namun masa kerjanya singkat, berlawanan dengan imunisasi aktif.

Tidak semua imunisasi perlu bagi orang dewasa. Sebagai contoh, orang dewasa bisa mendapatkan vaksin anti-tetanus, tetapi cukup vaksin TT (tetanus-toxoid) saja, bukan vaksin DPT (difteri, pertusis, dan tetanus). Pertusis dan difteri hanya diderita oleh balita, sehingga orang dewasa tidak membutuhkan vaksin terhadap penyakit ini. Sejauh ini, vaksinasi dewasa yang sudah dilaksanakan meliputi hepatitis B, heptitis A, tetanus (TT), tifoid, influenza, pneumokok, meningokok.

Indikasi pemberian vaksin pada orang dewasa berupa riwayat paparan (TT), risiko penularan (influenza, hepatitis A, tifoid, MMR), usia lanjut (pneumokok, influenza), risiko pekerjaan (hepatitis B, rabies), imuncompromise (pneumokok, influenza, hepatitis B, hemophilus influenza tipe B) dan rencana bepergian (Japanese B Enchephalitis/JE, tifoid, hepatitis A, yellow fever).

Ada saat-saat dimana pemberian vaksin tertentu diwajibkan, seperti pada jemaah haji. Mereka perlu mendapatkan imunisasi meningokokus yang bisa mencegah radang selaput otak. Mereka yang akan bepergian ke Afrika pun sebaiknya mendapatkan imunisasi Meningokokus dan Yellow Fever lebih dulu. Hal ini disebabkan bakteri meningokokus banyak terdapat di negara Afrika, bukan hanya di Arab Saudi.

Untuk orang dewasa yang sering alergi atau asma, dapat diberikan vaksin influenza. Bahkan sekarang sedang dikembangkan vaksin HPV yang diduga dapat mencegah kanker leher rahim. Namun penelitian untuk vaksin ini masih diteliti di Eropa dan Amerika, sementara di Asia dan Indonesia sendiri masih dijajaki kemungkinan untuk mengadakan penelitian terhadap vaksin ini.

Sejauh ini, imunisasi untuk orang dewasa masih belum populer. Hal itu disebabkan kepedulian tenaga kesehatan masih kurang. Selain itu, harga vaksin yang mahal, belum ada pendanaan dari pemerintah dan perusahaan asuransi, menjadi kendala lain dalam menggalakkan imunisasi dewasa.

Para ahli kesehatan menyatakan, menggalakkan imunisasi pada orang dewasa harus dimulai dari tenaga kesehatan. Dokter umum merupakan ujung tombak dalam proses penggalakan ini, karena belum semua dokter merasakan perlunya menjelaskan pentingnya imunisasi kepada pasien. Selain melalui dokter umum, penggalakkan imunisasi untuk orang dewasa dapat dilaksanakan melalui puskesmas. Cara ini merupakan cara paling efektif pada penggalakkan pelaksanaan imunisasi pada anak, yang rasanya dapat diterapkan pula pada pelaksanaan imunisasi orang dewasa.