Dalam percakapan sehari-hari, sering kali kita mendengar ungkapan “merokok menimbulkan perasaan rileks dan membantu mengurangi stress” atau “apabila tidak merokok, maka rasanya gelisah dan cemas”. Bahkan dalam tayangan iklan rokok di TV, sang bintang iklan ditampilkan dalam keadaan “rileks, santai, dan berperforma sempurna”. Benarkah demikian? Yuk simak ulasan artikel ini! REAKSI TUBUH TERHADAP ROKOK Data WHO tahun 2002 menyatakan 20% dari seluruh perokok adalah remaja berusia 13-15 tahun dan 65% dari perokok yang mulai merokok dari usia muda akan merokok sampai 20-25 tahun kemudian. Terdapat berbagai jenis zat berbahaya di dalam sebatang rokok, antara lain nikotin yang  memiliki sifat adiktif atau menimbulkan kecanduan. Setelah merokok, zat nikotin akan masuk dalam peredaran darah dan beredar ke seluruh tubuh termasuk ke otak kemudian akan dimetabolisme di hati dan ginjal lalu dikeluarkan dari tubuh. Apabila kadar zat nikotin dalam darah perokok yang telah kecanduan nikotin tersebut menurun, akan timbul suatu sensasi kecemasan. Sensasi ini akan hilang segera setelah konsumsi nikotin. Hal inilah yang menimbulkan salah presepsi bahwa merokok dapat mengurangi stress dan kecemasan! Padahal yang terjadi adalah gejala putus nikotin! Ketika tubuh mengalami stress baik secara psikis maupun fisik, akan dihasilkan hormon kortisol. Semakin tinggi tingkat stress, semakin banyak pula jumlah hormon kortisol yang dihasilkan. Dalam suatu penelitian Universitas Yale tahun 2011, ditemukan bahwa orang merokok memiliki kadar kortisol lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak merokok. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh kita menganggap kegiatan merokok sebagai salah satu stressor–pencetus stress. rokok-stress PENGARUH ROKOK TERHADAP TINGKAT STRESS SESEORANG Jurnal kesehatan Nicotine and Tobacco research mengadakan penelitian mengenai hubungan antara tingkat stress di pekerjaan dengan merokok pada tahun 2012 di seluruh Eropa. Ditemukan bahwa orang yang merokok lebih dari tiga batang rokok per hari akan lebih mudah mengalami stress di dalam pekerjaan. Dalam penelitian ini, perokok melaporkan beban kerja yang dialami 12% lebih berat dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Selain itu, perokok juga mengalami kelelahan dan kejenuhan dalam bekerja 34% lebih cepat dibandingkan dengan non-perokok. Tidak terdapat perbedaan dalam hal etnis dan jenis kelamin dalam tingkat stress yang terjadi. Merokok juga dapat menyebabkan terjadinya perubahan mood (suasana hati), gangguan cemas, dan depresi. Penelitian di Inggris menunjukan bahwa 65% orang yang mengalami gangguan cemas adalah perokok. Nikotin telah dikategorikan sebagai zat anxiogenik, yakni zat yang dapat menyebabkan kecemasan. Penelitian ini membedakan perokok menjadi 2 kategori, yaitu orang yang merokok untuk kesenangan dan orang yang merokok untuk menghilangkan gejala kecemasan. Orang yang merokok untuk kesenangan akan merokok dengan jumlah yang relatif lebih sedikit dan tidak mengalami perubahan suasana hati. Orang yang merokok untuk menghilangkan gejala kecemasan, ternyata merokok dengan jumlah lebih banyak per harinya, bahkan jumlah rokok yang digunakan per hari mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan perokok memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami serangan panik dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Orang yang merokok lebih sering mengalami suasana hati yang bersifat negatif. Penelitian di Australia tahun 2012 menunjukan bahwa 90% penderita depresi adalah perokok. Risiko depresi pada perokok meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan non-perokok. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa merokok dapat menyebabkan stress. Stress ini akan menyebabkan peningkatan beban kerja, terjadinya perubahan mood (suasana hati), gangguan cemas, dan depresi. Jadi persepsi bahwa “merokok menimbulkan perasaan rileks dan membantu mengurangi stress” atau “apabila tidak merokok, maka rasanya gelisah dan cemas” adalah SALAH! Maka berhentilah merokok sekarang juga! Sumber Pustaka;
  1. Richards J, et al. Biological mechanism underlying the relationship between stress and smoking. Biol Psychol 2011;88(1):1-12.
  2. Lawrence D, Mitrou F, dan Zubrick SR. Non-specific physiologic stress, smoking status, and smoking cessation : United States National Health Interview Survey. BMC Public Health 2011;11:256-68.
  3. Mendelsohn, C. Smoking and Depression : a Review. Aust Fam Physician 2012;41(5):304-307.
  4. McDermott MS, et al. Change in anxiety following successful and unsuccessful attempts at smoking cessation : cohort study. British Journal of Psychiatry 2013; 202: 62-67.
  5. Kiviniemi MT, et al. Psychological distress and smoking behavior. Nicotine and Tobacco Research 2011; 13(2):113-119.
  6. Childs E dan Harriet W. Effects of acute psychological stress on cigarette craving and smoking. Nicotine and Tobacco Research 2010;12(4): 449-453
  7. Hamer M dan Steptoe A. Cortisol response to mental stress and incident of hypertension on healthy men and women. J Clin Endocrinol Metab 2012; 97(1):E29-34.
  8. Katriina H, et al. Job Strain and Tobacco Smoking : a Meta-Analysis. PLoS One 2012; 7(7): e35463