Pastinya semua orang sudah mengenal apa yang namanya dengan HIV/AIDS. HIV yang mana di sebut juga Human Immunodeficiency Virus adalah jenis virus yang mana mengakibatkan terjadinya AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome), merupakan sebuah kondisi dimana gagalnya kekebalan tubuh yang ditandai dengan rentan terhadap penyakit seperti infeksi dan kanker. Seperti yang diketahui oleh banyak orang, penularan HIV melalui 3 wadah utama, meliputi:
  • Sexual intercourse atau hubungan intim
  • Mother to child atau ibu ke anak
  • Transfusi darah
Secara khususnya salah satu wadah yang mengakibatkan penyebaran HIV yang meluas dengan cepatnya adalah penggunaan obat-obat terlarang melalui pemakaian jarum suntik yang tidak steril antara satu sama lain. Infeksi dinding jantung Pada pemakai obat-obat terlarang melalui injeksi ditemukan adanya meningkat insiden endokarditis infektif. Endokarditis infektif adalah jenis gangguan dinding jantung bagian dalam yang terinfeksi oleh kuman atau bakteri. Gangguan dinding ini akan mempengaruhi katup jantung dan bisa menyebabkan gagal jantung. Endokarditis Infektif pertama kali dikenali sebagai penyakit komplikasi pada penderita penguna obat-obat melalui jarum suntik pada tahun 1950. Biasanya endokarditis infektif cenderung terjadi pada para remaja, dan diperkirakan pada insiden 150-200 dari 100.000 orang-tahunan, dan lebih tinggi lagi apabila ditemani oleh kelainan atau penyakit katup jantung. Pada beberapa penelitian ditemukan bahwa infeksi HIV meningkatkan kecendurungan resiko untuk terjadinya endokarditis infektif, terutama pada pasien pengguna jarum suntik. Kuman yang biasanya menyebabkan hal ini adalah Staphylococcus aureus, dimana menyebabkan meningkatnya angka kematian pada penderita HIV. Manifestasi, diagnosis, terapi endokarditis infektif: Pada penderita endokarditis infektif sering kali menunjukan gejala-gejala kelainan luar jantung dimana menunjukkan tingkat keparahan dari infeksi dalam jantung sendiri. Demam merupakan gejala yang paling sering ditemui, akan tetapi seringkali bisa juga absen atau minimal pada pasien yang mangalami gagal jantung, gangguan ginjal kronis dan gagal organ hati. Pada penderita yang dicurigai endokarditis infektif, pelaksanaan ekokardiografi atau USG jantung harus dilakukan, penilaian EKG (elektrokardiogram) juga dilakukan untuk melihat ada tidaknya gangguan saraf jantung. Hasil laboratorium yang tidak spesifik seperti meningkatnya laju endap darah (kekentalan darah), anemia, leukositosis (meningkatnya darah putih), tes urin abnormal dan meningkatnya CRP (C-reactive protein, salah satu tanda pada radang) seringkali dapat dideteksi. Terapi biasanya dilakukan di instalasi rawat inap tergantung dengan kondisi pasien pada saat itu, sering kali pasien dibiarkan untuk pulang terutama apabila demam sudah reda dan kultur darah negatif. Penentuan pemberian antibiotik biasanya disesuaikan dengan bakteri yang terdeteksi pada pemeriksaan kultur darah. Apabila terapi obat tidak berhasil, pelaksanaan operasi bedah dianjurkan. Pada khususnya penderita HIV/AIDS, dengan kondisi dimana rawan terhadap infeksi, kondisi endokarditis infektif meningkatkan angka kematian pasien HIV/AIDS. Perlu diketahui kerusakan pada otot atau sel pada jantung yang diakibatkan oleh bakteri, dengan intesif terapi, penggunaan antibiotik yang sesuai, dapat memperbaiki kondisi dan gejala-gejala, akan tetapi ditemukan adanya kerusakan otot jantung yang parah dan terutama apabila ditemukan adanya kerusakan katup jantung, kondisi ini meningkatkan komplikasi-komplikasi yang mengancam nyawa seperti terjadinya emboli. Dengan perkembangan teknologi dan medis yang cepat, desas desus dan harapan terapi untuk menuntaskan infeksi HIV atau menyembuhkan HIV diharapkan untuk dapat tercapai. Seperti kita ketahui, dengan terapi yang teratur, penggunaan obat yang terarah, diet dan gizi yang sehat, HIV merupakan penyakit yang bisa dikontrol. Dengan terapi yang teratur kualitas penderita HIV/AIDS dapat ditingkatkan. Referensi:
  1. Frontera JA, Gradon JD. Right-side endocarditis in injection drug users: review of proposed mechanisms of pathogenesis. Clin Infect Dis 2000;30:374-379
  2. Manoff SB, Vlahov D, Herskowitz A, et al. Human immunodeficiency virus infection and infective endocarditis among injecting drug users. Epidemiology 1996;7:566-570
  3. Ribera E, Miro JM, Cortes E, et al. Influence of human immunodeficiency virus 1 infection and degree of immunosuppression in the clinical characteristics and outcome of infective endocarditis in intravenous drug users. Arch Intern Med 1998;158:2043-2050
  4. Eleftherios Mylonakis, MD, Stephen B. Calderwood,MD. Infective Endocarditis in Aduls. N Engl J Med 2011; 345:1318-1330.