Dewasa ini, perkembangan arus informasi yang pesat banyak mempengaruhi remaja. Salah satunya dalam hal gaya hidup. Remaja-remaja Indonesia sedikit demi sedikit mulai mengadopsi budaya Barat dalam cara berpakaian, bertutur kata, maupun pola pergaulan yang semakin bebas. Perilaku seks bebas yang sudah lazim di belahan dunia Barat sudah mulai merebak di kalangan remaja Indonesia. Salah satu dampak yang diakibatkan perilaku seks bebas ini yaitu hamil usia dini (kehamilan pada usia remaja, antara 13 - 19 tahun). Remaja merupakan kelompok dengan signifikansi tingkat komplikasi yang lebih tinggi selama kehamilan dan persalinan. hamil usia dini Sebagai gambaran  data Survei Kesehatan Ibu dan Anak tahun 2000 menunjukkan median umur kehamilan pertama di Indonesia adalah 18 tahun, di mana sebanyak 46% perempuan mengalami kehamilan pertama di bawah usia 20 tahun, di desa lebih tinggi (61%) daripada di kota. Kehamilan pada remaja wanita berusia 14 tahun kebawah memiliki resiko komplikasi medis lebih besar daripada wanita dengan usia lebih dewasa karena panggul belum berkembang dengan sempurna. Dari penelitian Royston Erica, 1994 ditemukan bahwa dua tahun setelah menstruasi yang pertama, seorang anak wanita masih mungkin mencapai pertumbuhan panggul antara 2-9% dan tinggi badan 1%, sehingga tidak mengherankan apabila persalinan akibat disproporsi antara ukuran kepala bayi dan panggul ibu (disproporsi sefalopelvik) paling sering ditemukan pada ibu yang sangat muda. Selain itu alat reproduksinya juga belum siap sepenuhnya. Masalah-masalah ini dapat mengakibatkan kesulitan sewaktu melahirkan bayi. Di negara-negara yang sudah maju, biasanya problem ini diatasi dengan tindakan bedah Caesarea. Namun, di negara berkembang dimana pelayanan kesehatan mungkin tidak tersedia, hal ini dapat menyebabkan eklampsia (kejang saat melahirkan), fistula obstetrik, kematian bayi, maupun kematian ibu. Sedangkan untuk kehamilan pada wanita di usia remaja akhir (15 tahun keatas), usia sudah bukan merupakan faktor resiko utama dalam kehamilan. Beberapa studi yang dilakukan di Amerika Serikat, Kanada, Britania, Perancis, dan Swedia sejak tahun 1970 menunjukkan suatu kesamaan bahwa resiko komplikasi pada kehamilan dan persalinan pada remaja, khususnya yang berusia 15-19 tahun, lebih dikarenakan faktor sosial-ekonomi daripada biologis.