Banyak anak mengalami gatal hilang timbul disertai ruam kemerahan pada bagian tertentu tubuh.  Akibatnya anak menjadi rewel, menggaruk badan sampai lecet, dan tidak bisa tidur karena gatal yang sangat menyengat. Kalau sudah demikian, tentulah orang tua yang pusing tujuh keliling memikirkan tentang anaknya. Sebenarnya apa sih yang dialami kesehatan kulit si anak? Jangan-jangan ...  si anak mengalami dermatitis atopik !   APAKAH DERMATITIS ATOPIK ITU? Dermatitis atopik, atau lebih dikenal dengan istilah eksim, adalah radang pada kulit berbentuk ruam yang timbul hanya pada orang yang memiliki kulit sensitif dan mudah teriritasi. Umumnya penyakit ini terjadi pada bayi , anak kecil dan dapat menghilang sebelum masa dewasa. Gangguan pada kulit ini terjadi dalam jangka waktu lama dan sewaktu-waktu dapat kambuh.  Biasanya, penderita dermatitis atopic memiliki kecenderungan untuk menderita asma atau penyakit alergi lainnya. Diperkirakan angka kejadian di masyarakat sekitar 1-3% dan pada anak kurang dari  5 tahun sebesar 3,1%. Prevalensi dermatitis atopik pada anak  meningkat 5-10% pada 20-30 tahun terakhir. Sangat mungkin peningkatan prevalensi ini berasal dari faktor lingkungan, seperti  bahan kimia industri, makanan olahan, atau benda asing lainnya. Ada dugaan bahwa peningkatan ini juga disebabkan perbaikan prosedur diagnosis dan pengumpulan data. Dermatitis atopik lebih sering terjadi pada perempuan, dan rentang usia yang paling sering mengalami gangguan ini antara 25-44 tahun dan 1-4 tahun. Balita merupakan kelompok umur yang paling sering mengalami gangguan ini. Umumnya episode pertama terjadi sebelum usia 12 bulan dan episode-episode selanjutnya akan hilang timbul hingga si anak melewati masa tertentu. Sebagian besar anak akan sembuh dari penyakit ini sebelum usia 5 tahun, dan sebagian kecil anak akan terus mengalaminya hingga dewasa.   APA SAJA GEJALANYA? Umumnya gejala DA timbul ketika bayi berumur 8 minggu - 6 bulan. Dermatitis atopik dapat menyembuh dengan bertambahnya usia, tetapi dapat juga menetap, bahkan meluas dan memberat sampai usia dewasa. Menurut beberapa penelitian, semakin lama dan berat dermatitis yang diderita semasa bayi, semakin besar kemungkinan dermatitis tersebut menetap sampai dewasa. Penderita dermatitis atopik pada dasarnya memiliki kulit yang kering dan mudah teriritasi oleh sabun, detergent dan pakaian dari bahan yang kasar. Cuaca yang terlalu panas dan terlalu dingin juga dapat merangsang dermatitis atopik. Gatal merupakan gejala yang mencolok dari gangguan ini. Jika bayi mengalaminya, maka ia akan menjadi gelisah, rewel, dan tidurnya terganggu. Karena garukan akibat tidak tahan akan rasa gatalnya, pada sebagian penderita dapat disertai infeksi bakteri maupun jamur. Selain itu, gejala yang mencolok pada bayi adalah timbulnya lentingan, baik berisi serum atau padat, pada daerah muka terutama pipi dan daerah ekstensor ekstremitas. Lain halnya jika dermatitis atopic ini terjadi pada anak dan dewasa. Gejala klinis pada anak ditandai dengan adanya kulit kering dalam jangka waktu lama, biasanya di daerah siku tangan, lipatan lutut bagian belakang, tangan, kaki dan sekitar mata. Pada dewasa, gejala yang timbul berupa penebalan kulit dan lapisan kulit yang terkelupas.Umumnya gejala tersebut berlokasi di daerah lipatan, muka, leher, badan bagian atas dan ekstremitas. Terdapat beberapa gambaran klinis lain dan tanda-tanda dermatitis atopik, yakni :
  • White dermatographism. Goresan pada kulit penderita DA akan menyebabkan kemerahan dalam waktu 10-15 detik diikuti dengan vasokonstriksi yang menyebabkan garis berwarna putih dalam waktu 10-15 menit berikutnya.
  • Lipatan telapak tangan  Terdapat pertambahan mencolok lipatan pada telapak tangan
  • Sindrom ‘buffed-nail’  Kuku terlihat mengkilat karena selalu menggaruk akibat rasa sangal gatal.
  • Hiperpigmentasi Terdapat daerah yang berwarna lebih gelap daripada sekitarnya akibat garukan terus menerus.
  • Kulit kering Kulit penderita dermatitis atopik umumnya kering, bersisik, pecah-pecah, dan membentuk lentingan padat.
  • Keringat berlebihan  Penderita dermatitis atopik cenderung berkeringat banyak
  MENGAPA BISA TERJADI DERMATITIS ATOPIK? Penyebab pasti dari dermatitis atopik tidak diketahui, tetapi diduga berkaitan dengan faktor keturunan dan lingkungan. Penyakit ini merupakan suatu warisan yang cenderung berlangsung di dalam suatu keluarga.  Perlu diketahui, dermatitis atopik tidak menular dan tidak mempengaruhi kesehatan tubuh pada umumnya.   APA PENCETUS DARI DERMATITIS ATOPIK?
  • Makanan. Hampir 40% bayi dan anak dengan DA sedang dan berat mempunyai riwayat alergi terhadap makanan.
  • Alergen hirup, seperti tungau debu rumah, bulu binatang rumah tangga, jamur atau ragweed di negara-negara dengan 4 musim.
  • Infeksi kulit. Penderita dengan dermatitis atopik mempunyai kecenderungan infeksi kulit oleh Staphylococcus aureus, virus dan jamur.
  BAGAIMANA AGAR BEBAS DARI DEMATITIS ATOPIK? Sampai saat ini tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penderita dermatitis atopic secara permanen. Artinya, setiap timbul gejala, dapat diberikan obat agar gejala mereda, tetapi sewaktu-waktu gejala dapat kambuh kembali. Jangan putus asa! Tetap ada cara kok, untuk dapat mengendalikannya.  Senyawa kortison yang dioleskan ke kulit merupakan obat yang selama ini dipakai untuk mengendalikan dermatitis atopik. Kebanyakan salep tersebut dapat digunakan dengan aman selama bertahun-tahun. Selain kortikosteroid, dapat digunakan antihistamin untuk mengurangi reaksi kulit terhadap alergen. Efek sedasi antihistamin pun ternyata mengurangi ketidaknyamanan akibat rasa gatal pada dermatitis atopik. Jika daerah tersebut sudah terinfeksi, tentunya ditambahkan antibiotik untuk mengatasinya. Bila daerah tubuh yang diobati dengan salep kortison cukup luas, perlu diperlukan pemeriksaan medis berkala. Kortison yang dioleskan ke kulit dapat berbentuk lotion, cream atau salep yang mengandung minyak. Bila kulit sangat kering, paling baik diberikan salep yang mengandung minyak.  Untuk dermatitis atopik yang berat , kadang-kadang perlu minum obat kortison, tetapi hal ini dikerjakan dalam jangka waktu singkat, dibawah pengawasan yang ketat oleh dokter. APA SAJA YANG HARUS DIPERHATIKAN SELAMA PENGOBATAN?
  1. Jaga agar kulit anda selalu dalam keadaan lembab. Bila kulit terlalu kering, gunakan salep kortison berminyak. Menggunakan minyak mandi di dalam bak mandi rendam (bathtub) atau mengoleskannya setelah mengeringkan badan dengan handuk, akan menjaga kelembaban kulit anda.
  1. Hindari sabun pada daerah yang mengalami gejala. Sabun akan mengiritasi dan mengeringkan kulit. Bila mandi berendam atau bersiram, gunakanlah air biasa.
  2. Hindari panas yang berlebihan. Kebanyakan orang-orang mengalami gejala yang lebih parah ketika cuaca panas atau banyak berkeringat.
  3. Hindari kontak langsung antara kulit dengan pakaian wool atau bahan yang sama kasarnya.
  4. Hindari segala sesuatu yang dapat merangsang timbulnya dermatitis atopik.
  APA AKIBAT DARI DERMATITIS ATOPIK ? Pada anak yang menderita dermatitis atopik, kemungkinan besar ia akan mengalami penyakit alergi lain di kemudian hari. Selain itu, penderita dermatitis atopik mempunyai kecenderungan untuk lebih mudah mengalami infeksi virus ataupun bakteri. Infeksi virus umumnya disebabkan oleh Herpes simplex (karena tertular oleh salah seorang anggota keluarga) atau vaksin, biasanya terjadi pada pemberian vaksin cacar kepada penderita atau tertular.  Infeksi bakteri disebabkan karena kecenderungan meningkatnya jumlah koloni Staphylococcus aureus.   ADAKAH CARA LAIN YANG TANPA OBAT? Kasus dermatitis atopik sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan keturunan yang sulit dihindari. Ilmu pengetahuan yang makin maju membawa kita pada terobosan baru dalam penanganan alergi yang dapat memperberat kasus dermatitis atopik. Metode bioresonansi yang menggunakan dasar ilmu biofisika bekerja melalui komunikasi antar sel, sehingga tubuh dapat mengatasi stress yang disebabkan oleh lingkungan. Pendekatan terapi denga metode bioresonansi adalah langsung ke sumber masalah sehingga dengan demikian meminimalisasi pemakaian obat dan terapi ini tidak invasif sehingga nyaman untuk anak-anak. Evidence based study yang dipublikasi menunjukkan angka keberhasilan 84-93% untuk terapi alergi. Angka ini memberikan harapan baru terutama bagi pasien-pasien alergi, salah satunya pasien dengan dermatitis atopik.   SUMBER REFERENSI: