Berapa banyak orang yang menderita AIDS di Indonesia?  Data membuktikan...

balon_AIDS

Prevalensi HIV/AIDS di Indonesia cenderung mengalami peningkatan yang siginifikan setiap tahunnya! Saat ini di Indonesia pada tahun 2010, jumlah penderita HIV/AIDS telah mencapai 404.600 orang. Angka tersebut sangatlah besar dan mencengangkan, ditambah lagi dari jumlah tersebut banyak terjadi pada usia produktif dan perempuan yang berisiko menularkan secara vertikal kepada anaknya.

Karenanya, sudah tentu hal tersebut menjadi beban tersendiri baik bagi pemerintah Indonesia karena tingginya angka mortalitas dan morbiditas dan juga secara ekonomi dan sosial. Apalagi masih banyak masyarakat Indonesia yang cenderung mengucilkan penderita penderita HIV/AIDS; hal tersebut menjadikan beban psikologis bagi penderita dan juga keluarga yang pada akhirnya berdampak buruk terhadap proses pengobatan serta kehidupan mereka. Oleh karena itulah diperlukan dukungan dan perawatan yang holistik dan komprehensif baik dari berbagai pihak.

Program Pemerintah - Kemenkes tentang AIDS

174642_hivaidsts460

Pemerintah Indonesia melalui kementrian kesehatan dan kementrian kordinator bidang kesejahteraan rakyat dan bidang terkait lainnya telah memberikan sejumlah perhatian terhadap penderita HIV/AIDS. Perhatian dan dukungan pemerintah terhadap penyakit ini diwujudkan dengan:

  • Pembentukan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) baik di daerah maupun pusat.

  • Menunjuk beberapa perusahaan farmasi untuk mendistribusikan terapi anti-retroviral (ARV) standar WHO berupa fixed-dose combination (FDC),  terdiri atas AZT + 3TC .

  • Menunjuk 262 rumah sakit rujukan yang dilengkapi dengan:

    • Kelompok kerja AIDS (Pokja AIDS),

    • 2 Dokter

    • 1 Perawat dan konselor

    • Petugas administrasi.

ARV_treatment

Tim tersebut kemudian mengadakan kerjasama dengan dokter spesialis, apoteker untuk memberikan pelayanan secara cuma-cuma kepada penderita HIV/AIDS Obat-obat yang bisa didapatkan secara gratis pada rumah sakit tersebut, adalah sebagai berikut:

  • Lini pertama utama: AZT/zidovudine + 3TC/lamivudine (FDC: 300mg AZT + 150mg 3TC) + NVP/nevirapine; AZT sendiri tersedia dalam sediaan kapsul 100mg, 3TC sendiri tersedia dalam sediaan tablet 150mg

  • Alternatif pilihan pertama: 4T/stavudine (30mg,), EFV/efavirenz (600mg), ABC/abacavir (300mg)

  • Lini kedua: TDF/tenofovir + 3TC or FTC/emtricitabine (FDC bersama TDF) + Aluvia (lopinavir)

  • Khusus untuk anak-anak: AZT + 3TC + NVP (FDC), d4T + 3TC dan d4T + 3TC + NVP (FDCs)

  • Selain program penyediaan ARV dan pengobatan infeksi oportunistik, dilakukan pula beberapa program, yakni sarana pelayanan konseling dan tes HIV/AIDS termasuk kepatuhan, pencegahan dari ibu ke anak, dan perawatan paliatif.

  • Melakukan penyuluhan serta promosi kesehatan, pencegahan serta tata laksana HIV/AIDS.

Dukungan Organisasi non Profit bagi Penderita AIDS

Selain dukungan pemerintah, dukungan bagi penderita HIV/AIDS juga datang dari beberapa organisasi non-profit seperti :

  • Yayasan Spiritia

Yayasan Spiritia didirikan pada tahun 1995 oleh Suzana Murni dan rekan-rekan pada tahun 1995 sebagai bukti nyata dukungan terhadap orang dengan HIV (ODHA) dan orang yang hidup dengan penderita HIV (OHIDHA).

Adapun kegiatan-kegiatan yang menjadi agenda rutin yayasan ini, antara lain:

  1. Pertemuan ODHA tingkat provinsi

Pertemuan ODHA dan OHIDHA tersebut bersakala nasional dan telah dilaksanakan sebanyak dua kali, dengan bantuan dana dari Ford Foundation dan organisasi lainnya.

  1. Pertemuan nasional kelompok penggagas

  2. Pelatihan ketrampilan ODHA

  3. Kunjungan penguatan daerah

  4. Dukungan sebaya

Melalui dukungan AusAId dan Ford Foundation, Yayasan ini mengadakan pelatihan dan dukungan sebaya bagi ODHA dan keluarganya. Pelatihan tersebut berisikan pengembangan ketrampilan, seperti kemampuan berbicara di depan umum dan kemapuan advokasi, diharapkan dengan kegiatan ini para ODHA mampu berperan akif dalam menanggulangi kejadian epidemi HIV/AIDS dalam jangka panjang.

  1. Penyebaran informasi

Dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya melalui kegiatan simposium setengah hari bertajuk informasi pengobatan HIV terkini yang telah diadakan sebanyak tiga kali, pertama mengenai pengobatan HIV sebagai pencegahan, kedua tentang kesinambungan penyediaan obat antiretroviral dan ketiga mengenai pedoman nasional pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak.

  1. Advokasi peningkatan akses terhadap pengobatan ODHA

  2. Memberikan bantuan teknis serta dana bagi pembentukan serta pengembangan kelompok penggagas dan kelompok dukungan yang serupa seperti program Positive Fund dan Anak Fund. Positive Fund adalah program yang ditujukan bagi penderita HIV yang tidak mampu untuk membiayai keperluan dasar, mendirikan usaha kelompok sesama ODHA, dan perbaikan fasilitas rawat di rumah atau rumah sakit namun bukan untuk membiayai pengobatan sehingga tidak bertujuan untuk menjadi tumpuan penderita HIV. Beberapa contoh nyata yang telah dihasilkan misalnya, di Makasar terdapat usaha percetakan ODHA, perbaikan ruang rawat penderita HIV/AIDS di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta sehingga terasa lebih memadai. Adapun program Anak Fund merupakan penggalangan dana secara swadaya, bersumber dari individu (masyarakat umum), organisasi dengan memberikan beasiswa sebesar 3.600.000/tahun per anak yang ditujukan bagi anak-anak penderita HIV dengan keterbatasan ekonomi. Hingga tahun 2011, sebanyak empat anak di DKI Jakarta, Surabaya dan Makasar telah mendapatkan beasiswa tersebut.

  • Yayasan Pelita Ilmu (YPI)

Serupa dengan Yayasan Spiritia, YPI juga memliki aneka kegiatan yang berfokus pada pencegahan, pelayanan kesehatan serta dukungan bagi ODHA.

Adapun yang termasuk dalam program pencegahan diantaranya, memberikan pendidikan kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi, AIDS, dan penanggulangan narkoba di sekolah, lapas, ruang publik, para calon tenaga kerja Indonesia (TKI), pendampingan anak dan remaja di area publik dan komunitas, konseling mengenai pencegahan penularan HIV  dari ibu ke bayi (PMTCT); YPI dalam hal ini memberikan suatu arahan serta bimbingan kepada ibu-ibu hamil dengan HIV/AIDS.

Mereka mendapatkan pengobatan pencegahan (profilaksis) HIV/AIDS, pemantaun secara berkesinambungan mulai saat mendekati persalinan hingga proses persalinan berlangsung (kelahiran terawasi), dan cara perawatan bayi termasuk kelebihan dan kekurangan pemberian ASI.

Kegiatan yang ditujukan bagi ODHA yaitu layanan sahabat (buddy services), kunjungan rumah dan RS, pembuatan sanggar kerja yang diperuntukkan sebagai rumah model perawatan bagi ODHA; para staf di sanggar yang terletak di Tebet, Jakarta Selatan tersebut memberikan penyuluhan mengenai HIV/AIDS termasuk apa saja yang dapat menularkan dan tidak juga secara khusus mengenai cara perawatan ODHA di rumah. Selain itu, kegiatan lainnya berupa  pemberian dukungan kesehatan, nutrisi dan pendidikan ODHA anak, bantuan biaya pengobatan dan perawatan, konseling permasalahan diksriminasi, dan lain-lain.

Ke mana Para Penderita AIDS harus menghubungi?

Hingga sekarang, telah banyak berdiri kelompok dukungan sebaya (KDS) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Untuk mendapatkan informasi yang terperinci mengenai keseluruhan KDS termasuk kontak yang dapat dihubungi, Anda dapat membuka link berikut dan mengunduhnya dalam bentuk pdf :  http://spiritia.or.id/KDSDaftar.php?gg=0.

Yuk kita lebih bijaksana dalam menghadapi ODHA dan mari, jangan mengucilkan mereka tapi berbagi informasi ini kepada mereka sebagai wujud kepedulian kita. Kita juga bisa berempati dengan mereka dengan menghindari perilaku-perilaku berisiko dan mencegah penularan HIV. Selamat Hari AIDS Sedunia!

Referensi:

  1. Green CW, Nagar K. Care, Support & Treatment for PLHIV in Indonesia[24 August 2013]. Available on: http://spiritia.or.id/art/bacaart.php?artno=2018

  2. Indonesian National AIDS Commision. The Response to HIV and AIDS in Indonesia 2006-2011[pdf].2011.p.68.

  3. Kemenkes RI. Rencana Kerja Jangka Menengah Perawatan, Dukungan dan Pengobatan untuk ODHA serta Pencegahan HIV/AIDS tahun 2005-2009[pdf].h.6-7;23-30.

  4. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Strategi dan Rencana Aksi NAsional Penanggulangan HIV dan AIDS tahun 2010-2014[pdf].2010.h.7-10.

  5. Komite AIDS Nasional dan UNAIDS. Mari Bergabung Menanggulangi HIV/AIDS di Indonesia[pdf].2002.h.4-9.

  6. Yayasan Pelita Ilmu. Program YPI[ 6 Januari 2012].[25 Okt 2013].Diunduh dari: http://www.ypi.or.id/programs.html

  7. Yayasan Spirita. Daftar Kelompok Dukungan Sebaya untuk ODHA di Indonesia[8 Februari 2011].[25 Okt 2013].Diunduh dari: http://spiritia.or.id/KDSDaftar.php?gg=0