MultipleSclerosis1

Penyebab cacat bisa dikarenakan banyak faktor dan salah satunya adalah karena penyakit Multiple Sklerosis. Penyakit yang masih terdengar asing ini, jangan dianggap remeh karena ternyata penyakit ini sangatlah serius bahkan dapat mengakibatkan kecacatan atau disabilitas!

Yuk, kita kenali lebih dalam disabilitas akibat Multiple Sklerosis!

Apakah multiple sklerosis itu?

ribbon_MS

Multiple sklerosis adalah suatu kelainan autoimun dengan terjadinya proses peradangan yang menyerang otak dan sumsum tulang belakang dimana terjadi infiltrasi sel limfosit T (penyerangan oleh sistem pertahanan tubuh yang terus menerus seperti halnya infeksi) sehingga merusak myelin (selubung saraf) dan axon (cabang saraf).  Pertama kali, peradangan ini bersifat sementara dan selubung saraf yang rusak akan dibentuk kembali  tapi hal ini tidak bertahan lama.

Jadi pada awal perjalanan penyakit ini ditandai episode gangguan saraf yang menyembuh kembali, dan seiring berjalan waktu kelainan akan meluas dan terjadi kerusakan syaraf atau  neurodegenerasi yang kronis. Gejala klinis yang tampak dari kerusakan-kerusakan saraf yang terjadi bahkan dapat menyebabkan seseorang mengalami disabilitas atau kecacatan.

Dari 250.000 sampai 350.000 pasien di Amerika Serikat yang menderita Multiple sklerosis, 50% pasien akan membutuhkan bantuan dalam berjalan dalam 15 tahun setelah menderita penyakit ini.

Wanita lebih sering terkena dua kali lipat dibandingkan pria, dan keturunan Eropa Utara mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk terserang penyakit ini. Multiple sklerosis ini biasanya muncul pada usia dewasa muda antara 20 sampai 45 tahun. Namun disayangkan, dalam data WHO, Indonesia tidak mempunyai data sebaran penderita multiple sklerosis.

Penyebab penyakit ini belum diketahui, tapi memerlukan pemicu yang terdiri dari faktor genetik dan non genetik, seperti virus, kelainan metabolisme, dan faktor lingkungan yang berakibat pada kelaianan autoimun, yaitu pertahanan tubuh yang menyerang susunan saraf pusat tubuh si penderita itu sendiri berulang kali.

Gejala-gejala multiple sklerosis

Gejala multiple sklerosis tergantung dari area sistem saraf pusat yang mengalami kerusakan myelin (selubung saraf). Gejala awal biasanya terjadi:

  • Baal rasa tertusuk yang terus menerus di tubuh, biasanya kaki atau lengan tangan
  • Kelemahan, pusing dan rasa lelah yang tidak bisa dijelaskan
  • Penglihatan ganda, atau kabur bahkan kebutaan

Selama fase remisi (fase menghilangnya gejala sementara), pasien akan merasa lebih baik namun lengan akan tetap terasa kaku. Kelemahan tubuh, rasa baal dan masalah penglihatan akan tetap ada.

Ketika gejala-gejala itu kambuh kembali, akan menjadi lebih berat, misalnya:

MultipleSclerosis.3jpg

  • Kejang otot
  • Masalah pencernaan dan berkemih
  • Bicara cadel atau pelo
  • Kebutaan
  • Masalah seksual
  • Kelumpuhan
  • Menjadi cepat lupa
  • Nyeri yang meliputi area wajah atau alat gerak

Lebih dari 30% penderita Multiple sklerosis memiliki spastisitas (kekakuan ) dari tingkat sedang sampai berat, kebanyakan terjadi di kaki.

Gejala klinis yang pertama terjadi adalah gangguan sensori, seperti  baal dan rasa tertusuk, terbakar, penglihatan ganda, vertigo. Yang umum terjadi pada MS adalah rasa baal pada satu kaki yang menyebar ke kaki yang lain, naik ke pinggang, perut atau dada. Gangguan sensorik ini akan menyembuh tapi terkadang akan berubah menjadi nyeri saraf kronik (chronic neuropathic pain). JIka ada peradangan saraf optic, maka penderita akan kehilangan sebagian atau seluruh penglihatan.

Gangguan berkemih terjadi pada lebih dari 90% penderita MS dan berakibat pada episode inkontinesia (tidak mampu menahan keinginan berkemih) pada 1/3 pasien. Dan, sebanyak 30% pasein mengalami konstipasi.

Untuk menegakan diagnosis multiple sklerosis diperlukan penilaian klinis dan penunjang medis, yang menunjukan  lesi diseminata (kelainan yang menyebar). Meskipun diagnosis dapat dibuat berdasarkan penilaian klinis saja, tapi pencitraan MRI dari susunan syaraf pusat dapat mendukung, atau bahkan menggantikan kriteria klinis dari multiple sklerosis. Semuanya itu dirangkum dalam criteria McDonald yang dibuat berdasarkan International Panel on Diagnosis of Multiple Sclerosis.

Kriteria McDonald memiliki peranan untuk mendiagnosis lebih awal multiple sklerosis dengan tingkat spesifisitas dan sensitivitas yang tinggi, sehingga pasien dapat berkonsultasi dan diobati lebih awal.

Untuk menegakan diagnosis MS, dokter harus;

  • Menemukan bukti kerusakan minimal dua area yang terpisah dari susunan saraf pusat, meliputi otak, sumsum tulang belakang dan saraf optic
  • Menentukan bahwa kerusakan tersebut terjadi terpisah minimal 1 bulan
  • Mengeluarkan kemungkinan diagnosis yang lain
  • Mengamati gejala yang terjadi lebih dari 24 jam dan terjadi dalam episode yang terpisah selama 1 bulan atau lebih.
  • MRI (pencitraan yang paling sensitive untuk MS)
  • Lumbal pungsi (mengambil sample cairan sumsun tulang belakang)

Kecacatan pada multiple sklerosis

Multiple sklerosis ada suatu penyakit yang menimbulkan kecacatan fisik karena adanya kerusakan pada pelindung saraf ( myelin ) sehingga terganggunya hubungan antara otak, sumsum tulang belakang, dan area-area tubuh yang dipersyarafi. Proses ini terjadi irreversible (kerusakan yang terjadi tidak dapat dikembalikan ke kondisi semula).

Dalam sebuah penelitian,  Prof Gilles Edan dan teman-teman di Perancis (Journal Brain 2010) dikemukakan bahwa multiple sklerosis dibagi dalam 2 fase, dimana pengukuran kecacatan akibat multiple sklerosis berdasarkan :

Kurtzke scale - cara menilai tingkat kecacatan akibat Multiple Sclerosis

Yang memiliki range 0 sampai 10. Semakin tinggi nilainya menandakan semakin tinggi pula tingkat kecacatannya. Hal ini berhubungan dengan mobilitas pasien.

  • 0 = Normal
  • 1-1.5 = tidak ada kecacatan, tapi menunjukan tanda- tanda gangguan persarafan.
  • 2–2.5 = kecacatan minimal
  • 3–4.5 = kecacatan sedang, mempengaruhi aktivitas sehari-hari, namun pasien masih bisa berjalan
  • 5–8 = kecacatan lebih berat, mengganggu aktivitas dan memerlukan bantuan dalam berjalan
  • 8.5–9.5 = kecacatan sangat berat, aktivitas hanya dapat berbaring di ranjang
  • 10 = kematian

Penelitian menunjukan bahwa jumlah kecacatan dalam multiple sklerosis berkorelasi dengan kerusakan pada syaraf ( aksonal ) akibat peradangan.

Penelitian menunjukan bahwa progress kecacatan multiple sklerosis mengikuti dua tahap, pada fase pertama masih ada keterkaitan dengan peradangan yang bersifat fokal, dan fase kedua sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan peradangan yang ada. Konsep ini mempengaruhi strategi terapi pada multiple sklerosis.

Sehingga dengan intervensi terapi yang lebih awal dapat terjadi penundaan progress kecacatan, sedangkan pada tahap yang sudah lanjut, terapi yang sama memiliki pengaruh yang kurang pasti.

Bagaimana terapi / pengobatan pada Multiple Sklerosis?

Outside world

Walaupun belum ditemukan terapi yang dapat menyembuhkan multiple sklerosis, namun ada terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi gejala dan menurunkan keparahan dari penyakit ini.

Bagi penderita multiple Sklerosis dapat dilakukan fisioterapi untuk mengatasi gejala-gejala kecacatan yang ada sehingga mereka tetap dapat bekerja dan hidup lebih baik.

Fisioterapi yang dilakukan ini untuk mengatasi:

  • Masalah keseimbangan
  • Koordinasi yang buruk
  • Kelelahan
  • Nyeri
  • Kelemahan tubuh

Yang dilakukan adalah mengevaluasi kecacatan penderita multiple sklerosis, dan jenis latihan yang dapat dilakukan di rumah.

Terapis akan menunjukan kepada pasien multiple sklerosis cara terbaik untuk bergerak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mereka akan diajarkan untuk:

  • Peregangan otot untuk mencegah atau mengurangi kekakuan otot
  • Latihan gerak untuk melatih kekuatan otot
  • Latihan untuk melatih range of motion (jangkuan gerak)
  • Latihan jalan
  • Bagaimana menggunakan tongkat, cruther, kursi roda, dan alat bantu lain

Bagi penderita multiple sklerosis di negara yang memberikan jaminan sosial kecacatan, terapis akan melakukan evaluasi masalah , dinamakan evaluasi kapasitas fungsional, hal ini akan menentukan apakah orang tersebut masih dapat bekerja 8 jam sehari dan akan membantu untuk mendapatkan jaminan sosial kecacatan.

Nah, demikianlah sekilas ulasan tentang Multiple Sklerosis dan bagaimana hubungannya dengan terjadinya kecacatan akibat penyakit ini, serta bagaimana penanganan dan pilihan pengobatan  yang dapat dilakukan. Semoga dengan membaca ulasan artikel berikut kita akan lebih waspada mengenai penyakit ini dan terhindar dari komplikasi yang paling kita takutkan yaitu kecacatan. Salam sehat!

Referensi :

1. How MS Disability is Measured. Webmed.com.2013 diunduh pada http://www.webmd.com/multiple-sclerosis/disability-measured

2. Physical Therapy for Multiple Sclerosis. Webmd.com. 2013 diunduh pada http://www.webmd.com/multiple-sclerosis/guide/multiple-sclerosis-physical-therapy

3. Multiple Sclerosis. Mayo Clinic. 2012 diunduh pada http://www.mayoclinic.com/health/multiple-sclerosis/DS00188/METHOD=print&DSECTION=all

4. Goldenberg, Marvin. M. PhD. Multiple Sclerosis Review. P&T. 2012

5. Edan, Gilles. Prof, et all. Evidence for a two-stage disability progression in multiple sclerosis. Brain A journal of Neurology. Perancis. 2010

6. Multiple Sclerosis. X-plain. The Patient Education Institute Inc. 2010

7. Pollman, Chris. MD et all. Diagnostic Criteria for Multiple Sclerosis: 2010 Revisions to the McDonald Criteria. American Neurological Association. London. 2011