Demam dengue atau demam berdarah dengue bukanlah hal asing bagi masyarakat Indonesia apalagi masyarakat perkotaan seperti Jakarta. Sudah menjadi hal lumrah bila ada tetangga kita yang mengeluhkan anggota keluarganya dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Penyakit ini tidak lagi musiman tapi sudah endemis di seluruh Indonesia. Demam dengue adalah infeksi virus yang disebarkan melalui perantara nyamuk. Terdapat 4 serotipe virus penyebab demam dengue yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Vektor perantara primer demam dengue adalah nyamuk Aedes aegypti betina dan Aedes albopictus (terutama di Amerika Utara dan Eropa).1,3,5 Umumnya penderita demam dengue dapat sembuh dalam waktu seminggu. Tapi kita harus waspada dengan demam berdarah dengue (DBD) dan dengue dengan renjatan (DSS/Dengue Shock Syndrome) yang bisa berakibat fatal bahkan kematian. [caption id="attachment_24726" align="aligncenter" width="400"]Penyebaran Penyakit Infeksi Dengue Penyebaran penyakit infeksi dengue[/caption] Insiden terjadinya demam dengue meningkat tajam dalam beberapa dekade terakhir, dimana setengah dari populasi dunia saat ini berisiko menderita demam dengue.1,2 Demam dengue umumnya terjadi di area beriklim tropis dan subtropis, terutama di daerah urban (kota) dan semi-urban. Demam dengue dapat menyerang siapa saja baik usia muda hingga usia tua. World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 50-100 juta infeksi dengue di seluruh dunia setiap tahunnya.1,2 Demam berdarah dengue atau dikenal juga dengan istilah dengue berat merupakan penyebab kematian utama di beberapa negara Asia dan Amerika Latin. Mayoritas dari sekitar 500.000 penderita demam dengue berat yang dirawat di RS setiap tahunnya, adalah anak-anak dengan tingkat kematian yang terjadi sebesar 2,5%.1,2 Gejala demam dengue menyerupai gejala flu berat, ditandai dengan demam tinggi (dapat mencapai 40oC), disertai minimal 2 dari gejala penyerta seperti:1,2,3,5
  • Sakit kepala hebat
  • Nyeri di bagian belakang mata
  • Nyeri otot dan sendi
  • Mual muntah
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Kemerahan pada kulit.
  Gejala umumnya timbul dalam 4-10 hari sejak terinfeksi dan akan dialami oleh penderita selama 2-7 hari. Pada demam berdarah dengue terjadi perdarahan dan kebocoran plasma. Perdarahan dan kebocoran plasma terjadi karena rusaknya dinding pembuluh darah akibat infeksi serta rendahnya kadar trombosit5 sehingga dapat berisiko menimbulkan komplikasi yang mematikan seperti sulit bernafas akibat karena efusi pleura (akumulasi cairan di rongga pleura), perdarahan hebat, dan gangguan fungsi organ tubuh.1,2 Pemantauan ketat terutama dilakukan pada hari ke 3-7 sejak gejala timbul (umumnya justru pada saat-saat demam turun). Apabila dijumpai tanda dan gejala berikut:3,5
  • Nyeri perut hebat
  • Muntah yang terus-menerus
  • Nafas cepat
  • Perdarahan gusi
  • Mimisan
  • Lemas
  • Gelisah
  • Muntah darah
  • Bintik-bintik merah (perdarahan) di kulit
  • Buang air besar yang berwarna hitam
  Dalam 24-48 jam berikutnya merupakan fase kritis yang dapat berisiko kematian. Jadi bila dijumpai keadaan penderita sangat lemas, kesadaran menurun, rasa haus berlebihan, nadi teraba lemah dan tangan-kaki teraba dingin serta pucat, segera bawa ke RS terdekat karena kemungkinan penderita berada dalam tahap DSS dan memerlukan penanganan segera.3,5 Diagnosa demam dengue umumnya ditegakkan dari anamnesa dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah lengkap dan serologi terhadap virus Dengue. Hasil pemeriksaan darah lengkap yang umumnya dinilai adalah kadar trombosit (semakin rendah jumlahnya, semakin tinggi risiko perdarahan) dan hematokrit (untuk menilai ada tidaknya kebocoran plasma).5 Tidak ada terapi khusus/spesifik untuk demam dengue, namun yang lebih diutamakan adalah deteksi dini dan akses ke pelayanan medis. Selain itu penatalaksaan lebih dititikberatkan pada istirahat, pemenuhan kebutuhan cairan tubuh pasien dan pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala seperti obat anti demam. Namun perlu diingat untuk menghindari penggunaan Ibuprofen maupun Aspirin karena dapat menurunkan kadar trombosit dalam darah.3 Pencegahan dan pengendalian demam dengue sangat bergantung pada tingkat efektivitas dalam mengontrol vektor perantara (nyamuk). Nyamuk Aedes aegypti hidup di daerah perkotaan dan umumnya berkembang biak dalam tempat penampungan air buatan, terutama penampungan air bersih. Selain itu, berbeda dengan nyamuk pada umumnya, nyamuk Aedes aegypti menggigit pada saat hari masih terang (terutama di pagi hari dan menjelang sore). Sedangkan nyamuk Aedes albopictus biasa berkembang biak pada ban bekas. Usaha pencegahan dan pengendalian demam dengue adalah langkah 3M PLUS yang mungkin sudah sering didengar yakni Menguras, Menutup, dan Mengubur:
  • Menguras tempat penampungan air secara berkala
  • Menutup tempat-tempat yang berpotensi menjadi penampungan air
  • Mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk
  • Memberikan larvasida (abate) ke dalam penampungan air untuk memberantas larva nyamuk
  • Menyemprotkan insektisida atau fogging (pengasapan) untuk membunuh nyamuk dewasa
  • Memakai alat perlindungan diri seperti baju lengan panjang, memakai repelan, dan memasang kelambu pada sekeliling tempat tidur
  Penyakit demam dengue dan demam berdarah dengue memang mengintai kita semua tapi bisa dicegah dengan mengendalikan vektor nyamuk: membasmi tempat berkembang biak dan gunakan selalu repellan anti nyamuk. Yuk kita lebih peduli dan lindungi diri kita serta orang-orang yang kita cintai.   Sumber:
  1. World Health Organization. Dengue and severe dengue [Fact Sheet]. Updated March 2014, Cited 20 March 2014. Available from: WHO Fact Sheet - Dengue and severe dengue
  2. World Health Organization. Dengue [Fact Sheet]. Cited 20 March 2014. Available from: WHO SEARO - Dengue
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Dengue. Updated 24 January 2014, Cited 20 March 2014. Available from: CDC - Dengue
  4. World Health Organization. Dengue [Aide-memoire]. Cited 20 March 2014. Available from: Aide Memoire - Dengue
  5. World Health Organization. Frequently Asked Questions on Dengue. 2013. Cited 20 March 2014. Available from: WHO - FAQs on Dengue