CoQ10 adalah salah satu suplemen yang tentunya sudah akrab di telinga penderita gangguan jantung dan hipertensi. CoQ10, yang juga dikenal dengan koenzim Q10, CoQ, atau ubiquinone ini adalah suatu koenzim. Koenzim diartikan sebagai bahan yang penting dalam fungsi enzim yang besar dan kompleks. Ketiadaan koenzim membuat enzim tidak menjalankan tugasnya secara semestinya. Koenzim bukanlah sejenis vitamin, mineral atau hormon. Nama ubiquinone berasal dari keberadaannya yang ada di mana-mana di alam (ubiquitous), dan struktur quinone yang menyerupai vitamin K. Ubiquinone ditemukan dalam mitokondria berbagai organ, seperti jantung, paru, hati, ginjal, anak ginjal, limpa, pankreas, dan otot rangka. Sumber utamanya berasal dari metabolismenya dalam tubuh kita. Sumber lainnya juga ditemukan juga dalam daging, ikan, minyak sayuran, sayuran segar, buah-buahan, dan kacang-kacangan dalam jumlah sedikit.

Koenzim Q10 dijumpai dan diekstrak dari mitokondria hati lembu oleh Dr. Frederick Crane dari University of Wisconsin, USA pada tahun 1957. Pada tahun itu juga, Professor Morton dari Inggris juga menjumpai benda yang sama dari hati tikus dan memberikannya nama ubiquinone. Pada tahun 1958, Professor Karl Folkers dari Merck, Inc., telah mengenal pasti struktur kimia bahan ini:2,3 dimethoxy-5 methyl-6 decaprenyl benzoquinone dan menjadi orang pertama yang mengeluarkannya secara sintetik. Pada tahun 1960, ilmuwan Jepang, Professor Yamamura adalah orang pertama yang menggunakan koenzim Q7 (kumpulan yang sama dengan Q10) untuk merawat penyakit gagal jantung kongestif. Pada pertengahan tahun 1970, orang Jepang telah mulai produksi bahan ini dalam jumlah yang besar untuk tujuan kajian klinis. Ilmuwan Peter Mitchell menerima Hadiah Nobel kerana perannya dalam kajian yang berkaitan dengan bahan ini.

Secara sederhana, CoQ10 dapat dianalogikan sebagai produsen energi tubuh. Karena sifat inilah CoQ1o juga mempunyai efek yang cukup signifikan dalam mengurangi serangan migrain. Hal ini dikarenakan salah satu penyebab migrain adalah kekurangan energi dalam sel otak. CoQ10 juga dikatakan mampu mengurangi tekanan darah tinggi sebesar 10mmHg selama 10 minggu terapi.

Sedangkan pada pasien dengan penyakit jantung seperti gagal jantung kongestif, suplemen ini cukup membantu. Ini karena CoQ10 didapati banyak sekali pada sel-sel jantung yang butuh banyak tenaga untuk memompa 100.000 kali sehari tanpa henti. Selain itu, obat untuk menurunkan kolesterol yang banyak dipakai pasien jantung, seperti golongan statin, menurunkan produksi CoQ10 yang penting bagi produksi energi sel jantung. CoQ10 juga mempunyai efek antioksidan dan berperan dalam pengobatan penyakit Parkinson ketika diberikan dalam dosis tinggi. Karena itu, ada krim muka yang mengandung CoQ10 untuk memperlambat proses penuaan. Beberapa penelitian juga menunjukkan manfaat CoQ10 pada menghambat proses aterosklerosis, distrofi otot, kanker payudara, diabetes mellitus, infertilitas pria, Acquired Immune Deficiency Syndrome/AIDS, alergi, asma, psoriasis, kelainan tiroid, penyakit periodontal, penyakit Alzheimer, serta amyotrophic lateral sclerosis/ALS.

Sumber:

Alternative Medicine Review 2007; 12:159-68. CoEnzyme Q10 (Ubiquinone) - Monograph.

Bertram G. Katzung (Editor). Basic and Clinical Pharmacology 10th International Edition. Singapore: McGraw-Hill. 2007