Chikungunya, pernahkah Anda mendengar istilah itu? Mungkin Anda atau kerabat Anda pernah mengalami demam disertai nyeri sendi kemudian berobat ke dokter dan didiagnosa menderita demam tulang. Nah, Chikungunya adalah istilah medis untuk demam tulang. Lalu, bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan Chikungunya alias demam tulang itu? Mari kita simak artikel berikut. Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus genus Alphavirus dan family Togaviridae. Penyebaran Chikungunya terjadi melalui perantara nyamuk yang terinfeksi, sedangkan kontak langsung dengan penderita tidaklah menular. Chikungunya sendiri berasal dari bahasa Kimakonde yang memiliki arti “menjadi bengkok”, istilah ini sesuai dengan penampilan klinis penderita akibat nyeri sendi (arthralgia) yang dialami.1,2,3 Chikungunya memiliki gejala klinis yang menyerupai demam dengue dan sering tidak terdiagnosis terutama di daerah dimana demam dengue sering dijumpai. Chikungunya terutama terjadi di Afrika dan Asia. 4,7 [caption id="attachment_24667" align="aligncenter" width="500"]Sebaran Chikungunya di dunia Cakupan penyebaran Chikungunya di dunia[/caption] Virus penyebab Chikungunya disebarkan melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi. Vektor atau perantara yang paling sering adalah nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dua jenis spesies yang terkenal dalam menyebarkan penyakit yang diperantarai nyamuk, termasuk demam dengue. Salah satu ciri khas kedua spesies nyamuk ini adalah tubuh berwarna hitam dengan bintik-bintik putih pada tubuh dan kaki. Umumnya spesies nyamuk ini menggigit terutama di pagi hari dan menjelang sore. 3,4,6, Gejala utama Chikungunya adalah demam yang muncul secara tiba-tiba dan nyeri sendi yang hebat. Gejala penyakit umumnya timbul dalam 4-8 hari sejak gigitan nyamuk, namun dapat berkisar antara 2 hingga 12 hari. Gejala lain yang dapat timbul antara lain nyeri otot, sakit kepala, mual, lemas, dan kemerahan pada kulit. Nyeri sendi yang muncul bisa sangat menggangu aktivitas dan umumnya hanya berlangsung selama beberapa hari. Namun pada kasus tertentu, nyeri sendi dapat dirasakan hingga beberapa minggu.1,2,3,5 [caption id="attachment_24636" align="alignright" width="399"]Nyamuk Aedes aegypti Nyamuk Aedes aegypti[/caption] Diagnosis Chikungunya umumnya ditegakkan dari gejala klinis, namun beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan serologis untuk mengetahui kadar antibodi terhadap Chikungunya dapat dilakukan untuk memperoleh diagnosis yang lebih pasti. Tidak ada obat khusus untuk penyakit Chikungunya ini. Penatalaksaan difokuskan untuk mengurangi gejala yang dialami yakni dengan memberikan obat anti demam dan obat anti nyeri, serta memenuhi kebutuhan asupan cairan dan melakukan fisioterapi.3,5 Seringkali, gejala yang dialami bersifat ringan sehingga tidak disadari dan pada umumnya penderita akan sembuh sempurna. Namun terdapat beberapa kasus dimana nyeri sendi tetap ada bahkan hingga beberap bulan atau tahun. Komplikasi ke mata (uveitis, retinitis/radang retina), saraf (myelitis / radang selaput saraf, meningoensefalitis / radang otak dan selaput otak), jantung (miokarditis/radang otot jantung), dan saluran pencernaan (hepatitis / radang hati), [caption id="attachment_24637" align="alignright" width="403"]Nyamuk Aedes albopictus Nyamuk Aedes albopictus[/caption] walaupun jarang namun dapat terjadi. Komplikasi yang fatal sangatlah jarang, namun pada penderita dengan usia sangat muda (bayi baru lahir yang terinfeksi pada proses melahirkan) maupun penderita lanjut usia (lansia, >65 tahun), penyakit ini dapat menimbulkan kematian. 1,5 Walaupun gejala Chikungunya umumnya ringan dan komplikasi berat jarang terjadi, namun pada daerah endemis demam dengue, gejala klinis yang dialami penderita harus dibedakan dari gejala demam dengue yang sangat mirip dengan Chikungunya, terutama karena demam dengue berisiko menimbulkan perdarahan yang dapat berujung pada kematian.5 Saat ini belum ada vaksinasi khusus untuk mencegah Chikungunya. Tindakan pencegahan ditekankan pada tindakan mengurangi jumlah nyamuk perantara melalui pengurangan jumlah tempat penampungan air yang dapat menjadi habitat berkembangbiaknya nyamuk (seperti ban bekas, kaleng kosong, dan lain-lain). Selain itu, hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran Chikungunya antara lain:1,2,3,4,5,6
  • Menyemprot insektisida untuk membunuh nyamuk dewasa
  • Menggunakan bubuk abate untuk membunuh larva nyamuk di tempat penampungan air
  • Memakai pakaian yang meminimalisir paparan kulit terhadap gigitan nyamuk
  • Memakai repellan, terutama yang mengandung DEET, Picaridin, minyak eucalyptus lemon, atau IR3535.
  • Memasang kelambu di sekeliling tempat tidur
Download di sini untuk Tips terbebas dari gigitan nyamuk dan terhindar dari penyakit Apabila Sobat mengalami  demam yang muncul secara tiba-tiba dan nyeri sendi yang hebat, waspadalah dan bila terus berlanjut segera berobat ke dokter untuk melakukan pemeriksaan dan mendapatkan penatalaksaan lebih lanjut. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan Anda mengenai Chikungunya alias demam tulang. Salam sehat!   Referensi: 1. World Health Organization. Chikungunya [Fact Sheet]. Updated March 2014, Cited 17 March 2014. Available from:  WHO Fact Sheet - Chikungunya 2. World Health Organization. Chikungunya. Cited 17 March 2014. Available from: WHO - Chikungunya 3. Center for Disease Control and Prevention. Chikungunya Fever. Updated 12 December 2013, Cited 17 March 2014. Available from: CDC - Chikungunya Fever 4. WHO Southeast Asia Region. Chikungunya [Fact Sheet]. Cited 17 March 2014. Available from: WHO SEARO - Chikungunya Fact Sheet 5. Center for Disease Control and Prevention. CHIKUNGUNYA –Information for healthcare providers-. Updated 5 February 2014, Cited 17 March 2014. Available from: CDC - Chikungunya Information for healthcare providers 6. Center for Disease Control and Prevention. CHIKUNGUNYA –Information for vector control programs-. Updated 29 January 2014, Cited 17 March 2014. Available from: CDC - Chikungunya Information for vector control programs 7. Dash AP, Bhatia R, Sunyoto T, and Mourya DT. Emerging and re-emerging arboviral disease in Southeast Asia. J Vector Borne Dis 50, June 2013: pp. 77-84. Available from: Emerging and re-ermerging arboviral disease in Southeast Asia