Pneumonia adalah istilah untuk radang infeksi akut pada saluran pernafasan bawah yang disebabkan oleh virus, bakteri ataupun jamur. Pneumonia merupakan penyebab tersering pada bayi usia di bawah 2 tahun. Penyakit infeksi ini dapat menyebabkan kematian pada balita jika tidak ditangani dengan tepat dan segera. Gejala pneumonia yang perlu diwaspadai, antara lain demam, batuk, susah nafas atau napas cepat, dan sesak. Penyebaran pneumonia ditularkan oleh bakteri melalui percikan ludah baik saat batuk, bersin atau ketika berbicara. Hampir 99,9%, balita pneumonia yang meninggal berasal dari negara berkembang, yaitu Afrika bagian sub-Sahara dan Asia Selatan. 1,2,3 Penyebab tersering infeksi saluran pernafasan pada anak adalah bakteri Pneumokokus (Streptococcus Pneumoniae) dan Haemophilus influenza type B (Hib). Lebih dari 50% kematian pada balita pneumonia disebabkan oleh kedua jenis bakteri tersebut. Data kematian anak balita di seluruh dunia menunjukkan bahwa 10% dari 12 juta kematian balita disebabkan oleh infeksi bakteri Pneumokokus, terutama akibat radang paru-paru.1,2,3,4 Mengingat bahaya Pneumonia sebagai salah satu penyebab kematian tersering pada balita, maka salah satu langkah paling tepat untuk memerangi Pneumonia adalah dengan imunisasi. Pemberian vaksin sejak dini mampu mengurangi angka kematian balita akibat pneumonia. Jenis vaksin yang dapat diberikan pada balita adalah vaksin pneumokokus dan vaksin Haemophilus influenza type B (Hib).1 1. Pneumokokus (PCV)1 Vaksin jenis ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari bakteri Pneumokokus yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan infeksi telinga. Vaksin Pneumokokus dapat dilakukan secara simultan bersamaan dengan vaksin lain (polio, DPT dan Hib) untuk mencegah keterlambatan imunisasi lainnya. Jadwal imunisasi: Vaksin PCV diberikan pada anak usia 2, 4, 6 bulan, dan diulang saat usia 12 - 15 bulan. Apabila anak baru memulai vaksin pada usia >7 bulan, maka pemberian jadwal dan dosis pada anak sebagai berikut (Tabel 1).

Umur datang pertama kali

Dosis vaksin yang diberikan

7-11 bulan

3 dosis*

12-23 bulan

2 dosis**

≥ 24 bulan – 5 tahun

1 dosis

Tabel 1. Jadwal dan Dosis PCV Pada Anak

Keterangan: *2 dosis interval 4 minggu, dosis ketiga diberikan setelah 12 bulan, paling sedikit 2 bulan setelah dosis kedua; **2 dosis paling sedikit interval 2 bulan 2. DPT Hib (Haemophilus influenza type B)1 Vaksin gabungan antara Vaksin DPT dan Hib. Vaksin ini berfungsi mencegah infeksi yang disebabkan oleh Haemophilus Influenzae type B, seperti meningitis, pneumonia, dan epiglotitis (infeksi pada katup pita suara dan tabung suara), sekaligus mencegah infeksi yang disebabkan oleh difteri, pertussis, dan tetanus. Vaksin Hib dapat diberikan secara terpisah atau kombinasi dengan vaksin DPT. Jadwal imunisasi : Vaksin DPT-Hib diberikan pada anak usia  2, 4, dan 6 bulan. Vaksin Hib sendiri perlu diulang saat anak berusia 18 bulan. Apabila anak baru memulai vaksin pada usia 1 – 5 tahun, vaksin cukup diberikan 1 kali.   Pemberian vaksin dapat menimbulkan efek samping pada anak, tetapi efek tersebut tidak terlalu parah. Beberapa efek samping yang timbul setelah vaksinasi antara lain1:
  • Tanda radang (nyeri, kemerahan, dan bengkak) di tempat suntikan
  • Demam, suhu bisa mencapai 38oC atau lebih
  • Anak menjadi rewel, kehilangan nafsu makan, muntah atau diare
  • Reaksi berat seperti reaksi anafilaktik sangat jarang ditemukan
Efek samping setelah pemberian vaksin adalah wajar dan normal bagi tubuh anak, ibarat kata seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas (paracetamol) ataupun dikompres jika demam anak belum reda. Apabila diperlukan penjelasan, pertolongan, dan pengobatan spesifik, Ibu dapat berkonsultasi kepada petugas kesehatan yang telah memberikan imunisasi.5 Pemberian vaksin sangat efektif (85%-95%) untuk mencegah penyakit dan aman digunakan. Berdasarkan pernyataan Institute of Medicine tahun 1994 bahwa risiko kematian akibat vaksin adalah amat rendah (extra-ordinarily low), sebaliknya membawa manfaat yang besar pada anak untuk mencegah penyakit infeksi berbahaya. Pemberian imunisasi yang tepat adalah sebelum anak terpapar penyakit berbahaya.6  Daftar Pustaka
  1. Satgas Imunisasi, Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi kelima. Jakarta : Badan Penerbit IDAI, 2014.
  2. Bridy-Pappas, Margolis MB, Center KJ, Isaacman DJ. Streptococcus pneumoniae: description of the pathogen, disease epidemiology, treatment and prevention. Pharmacotherapy. 2005;25(9):1193-1212
  3. Madhi, S. (2008). Vaccines to prevent pneumonia and improve child survival.Bull World Health Organ, 86(5), pp.365-372.
  4. The pink book: Course textbook., Haemophilus influenza type B. 12th New York: Centers for Disease Control and Prevention; May 2012.
  5. IDAI - Ikatan Dokter Anak Indonesia, (2013). Pentingnya Imunisasi untuk Mencegah Wabah, Sakit Berat, Cacat, dan Kematian Bayi – Balita. [online] Available at: http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/pentingnya-imunisasi-untuk-mencegah-wabah-sakit-berat-cacat-dan-kematian-bayi-balita.html [Accessed 19 May 2015].
  6. IDAI - Ikatan Dokter Anak Indonesia, (2014). Persepsi yang Salah Tentang Imunisasi (Bagian 2). [online] Available at: http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/persepsi-yang-salah-tentang-imunisasi-bagian-2.html [Accessed 19 May 2015].