Di Jakarta, seringkali kita temukan kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan terjadinya cedera perut. Hal ini dapat disebabkan karena terbentur setir mobil, stang motor ataupun dapat juga karena sabuk pengaman yang seharusnya merupakan alat untuk mencegah pengemudi terhindar dari cedera, dan tindakan kekerasan seperti dipukul. Oleh karena itu kita harus mengetahui  seluk beluk cedera perut untuk mendeteksi secara dini cedera yang serius pada daerah perut. Mengenal Cedera Perut Cedera perut (abdominal trauma atau trauma abdomen) adalah cedera pada bagian perut,  dapat berupa trauma tusuk perut maupun trauma tumpul perut. Cedera tusuk dapat dibedakan apakah cedera tusuk tembus atau tidak tembus yang berarti kulit tidak terluka atau tidak terdapat luka terbuka. Selain itu, cedera perut  dapat diklasifikasikan berdasarkan single trauma (cedera hanya meliputi organ  perut) dan multiple trauma (cedera perut disertai dengan trauma organ lain diluar perut misalnya bagian dada, kepala, atau bagian tubuh lainnya) . Pada setiap kasus trauma atau cedera apapun, harus diingat 3R yaitu Recognition, Resuscitation dan Repair. Hal ini dimulai dengan wawancara, yang dapat dilakukan secara auto/langsung bila pasien masih sadar penuh ataupun secara alloanamnesis (wawancara dengan orang lain selain pasien) apabila keadaan pasien sudah tidak memungkinkan untuk memberikan informasi mengenai kejadian atau kecelakaan tersebut. Melalui wawancara,  harus  didapatkan informasi mengenai bagaimana terjadinya cedera, apakah cedera tembus atau tumpul bagaimana arah tusukan maupun tembakan dan juga lokasi cedera. Pada cedera tembus dapat terlihat bekas tusukan atau luka tembak , sedangkan pada cedera tumpul dapat dilihat tanda berupa jejas atau memar yang berwarna kebiruan, kemerahan, atau biru keunguan. Waktu kejadian kecelakaan, keterangan mengenai kesadaran pasien, keluhan yang dirasakan pasien saat itu dan riwayat penyakit pasien sebelumnya merupakan beberapa komponen penting wawancara  yang harus digali pada pasien cedera perut.