"Tidak ada orang yang menerima hal, tanggung jawab, dan kewajiban yang lebih besar terhadap kehidupan manusia daripada menjadi seorang dokter. Dalam merawat orang yang menderita, ia memerlukan keterampilan klinis, pengetahuan ilmiah, dan pemahaman terhadap kemanusiaan. Sentuhan, simpati, dan pemahaman perlu untuk dimiliki oleh seorang dokter. Pasien bukanlah sekedar orang dengan kumpulan gejala, tanda, gangguan fungsi, organ yang rusak, dan emosi yang terganggu. Pasien juga adalah manusia dengan ketakutan dan harapannya, dalam mencari kesembuhan, bantuan, dan pemulihan." (Dikutip dari Harrison's Principal of Internal Medicine, 1950) Memang kalau dibaca dalam kutipan di atas memang agak sedikit berhiperbola, namun kutipan tersebut menggambarkan jelas bahwa menjadi seorang dokter bukanlah hal yang mudah atau yang dianggap enteng. Menjadi seorang dokter adalah kesediaan memanggul sebuah amanah, yakni kemanusiaan. Namun dewasa ini, praktik kedokteran telah banyak berubah. Bila kita bandingkan tahun-tahun ini dengan puluhan tahun ke belakang, kita bisa menyaksikan betapa pemahaman dalam biologi molekuler, stem cell (sel punca), internet, teknologi informasi, semuanya begitu berpengaruh dalam kedokteran. Semua perkembangan ini tampak sedang melaju dengan gigi-lima. prosehat harbolnas 1 Dengan segala modernisasi ini, inti dari praktik kedokteran sendiri tidak akan pernah berubah. Para ahli berpendapat bahwa perkembangan teknologi ini memang baik, namun ini saja tidak cukup untuk menjadi dokter yang baik (be a good physician). Dokter memerlukan ilmu dan seni kedokteran. Inilah inti dari bagaimana dokter itu bekerja. Sobat mungkin bingung, sebenarnya bagaimana dokter itu bekerja? Bagaimana ia bisa mengidentifikasi banyak penyakit yang ada? Pada dasarnya, ketika seorang dokter mendapati masalah, andaikan ada seorang pasien yang sakit, maka ia harus dapat mengenali masalah tersebut dengan wawancara dan pemeriksaan fisik, kemudian memastikannya dengan pemeriksaan penunjang, dan akhirnya menentukan diagnosis. Anamnesis Wawancara atau anamnesis adalah serangkaian tindakan dokter untuk mengetahui masalah pasien. Ketika pasien mengemukakan keluhannya, maka dokter berusaha membantu pasien, menanyai ia, mengenai masalah tersebut secara mendalam. Dokter akan bertanya, sejak kapan keluhan itu terjadi, bagaimana rasanya, apakah ada pemacunya, apakah ada riwayatnya, dan lain-lain. Selain itu dokter akan memperhatikan pasien dari gestur, tatapan, perilaku, dan lainnya. Dengan bertanya dan observasi ini, dokter sudah mengantongi sebagian besar dari kemungkinan-kemungkinan diagnosisnya yang disebut diagnosis banding. Andaikan ada orang datang dengan nyeri sendi, maka dokter sudah harus berpikir apa saja yang mungkin. Apakah reumatoid artritis, apakah nyeri sendi akibat chikungunya, apakah ada keseleo karena cedera, dan lainnya. Inilah diagnosis banding. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik adalah tindakan pemeriksaan yang dilakukan langsung pada diri pasien. Tujuannya adalah untuk mendapatkan petunjuk lain, karena penyakit akan memberikan gejala-gejala yang dapat dilihat, didengar, disentuh, dan diraba. Dokter akan memeriksa keseluruhan bagian untuk mendapatkan petunjuknya atau bagian yang ia anggap perlu dan dapat memberi petunjuk. Pemeriksaan fisik ini mengutamakan kenyamanan pasien, maka dari itu dilakukan secara standar, lembut, dan  memerlukan persetujuan pasien. Dengan adanya pemeriksaan ini, maka dapat membantu dokter membuang diagnosis banding yang tak cocok yang ada di pikirannya tersebut. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan ini yang kita kenal adalah pemeriksaan laboratorium dan radiologis. Dokter dapat meminta pemeriksaan ini bila dirasa perlu, dan memang beberapa penyakit memiliki penentuan diagnosis yang didasarkan pada pemeriksaan penunjang. Misalnya demam berdarah dengue, maka dapat dibantu dengan penemuan adanya trombosit darah menurun, atau IgM dengue positif. Selain itu, pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mengeliminasi diagnosis lain yang dianggap meragukan. Diagnosis Seperti detektif, seorang dokter setelah mengumpulkan data-data yang ada, maka ia menyimpulkan ke sebuah keputusan yang disebut diagnosis. Ada dua macam diagnosis yaitu diagnosis kerja dan diagnosis banding. Diagnosis kerja adalah diagnosis yang menurut keputusan dokter adalah yang paling mungkin merupakan masalah pasien, dan atas dasar diagnosis inilah dilakukan terapi. Di samping itu, diagnosis banding masih diperlukan sebagai kemungkinan terdekat berikutnya. Diagnosis banding ini diperlukan sebagai tanda waspada, dan pengganti diagnosis kerja bila diperlukan untuk diganti. "Apa? Diagnosis kerja diganti? Mengapa dokter bergonta-ganti diagnosis?" Seperti yang saya ceritakan bahwa dokter menentukan diagnosis yang paling mungkin atas dasar petunjuk yang ia dapatkan. Namun apabila dalam perawatannya, ternyata ada hal lain yang ditemukan, misalnya gejala yang baru saja muncul, lalu hal ini membuat petunjuk ke diagnosis terdekat lainnya, maka dokter harus mempertimbangkan untuk mengganti diagnosisnya. Penyakit yang ada begitu banyak dan tak sedikit yang mirip, maka dari itu banyak hal yang serupa tapi tak sama. Dokter pun berusaha untuk menentukan diagnosis yang terbaik bagi pasien. Diagnosis bukanlah vonis Suatu hal yang cukup saya sesali adalah penyalahgunaan kata "vonis" dalam mengganti kata "diagnosis". Dokter bukanlah dewan hakim yang keputusannya tidak dapat diganggu gugat. Dokter, dalam menentukan diagnosis adalah kerjasama dengan pasien, dan dapat berubah sesuai dengan kondisi pasien. Maka dari itu, kata "vonis" bukanlah hal yang tepat. Terapi Terapi dilakukan atas dasar diagnosis kerja yang ada. Dalam kedokteran modern ini, semua tindakan dokter perlu didasarkan pada berdasarkan bukti (evidence based) dan sesuai dengan panduan yang ada. Pendekatan ini diperlukan agar dalam praktiknya, dokter memiliki standar tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan. Demikian bahasan mengenai bagaimana dokter bekerja, dan semoga semakin memberi pemahaman Sobat DokterAnda mengenai tindakan dalam praktik kedokteran. Referensi: Longo, dkk. Harrison's Principles of Internal Medicine 18th ed. 2011. McGrawHill.