Kehamilan merupakan proses yang indah dalam kehidupan seorang wanita. Kehamilan berpengaruh terhadap perubahan fisik maupun psikologis calon ibu. Setiap proses biologis dari fungsi keibuan dan reproduksi (sejak pembuahan) hingga melahirkan dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh psikis tertentu, sehingga dapat dikatakan ada saling ketergantungan antara faktor-faktor fisik dan faktor-faktor psikis. Depresi postpartum (setelah melahirkan) adalah suatu masa saat terdapatnya kumpulan gejala gangguan yang terjadi pada masa pascapersalinan secara tiba-tiba pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan. Menurut statistik, sekitar 85% ibu pasca persalinan menderita gangguan mood, data dari American Associates of Pediatric mengungkapkan lebih dari 450.000 bayi lahir dari ibu yang terdepresi setiap tahun nya. Meskipun derajat penyakitnya bervariasi dari ringan hingga berat. 10-15% dari penderita mengalami hambatan dalam menjalankan aktifitas fisiknya dan 0,1-0,2% berkembang menjadi lebih berat Tidak semua wanita hamil yang melahirkan menderita depresi postpartum. Terdapat beberapa faktor yang merupakan resiko untuk berkembangnya mood buruk setelah melahirkan menjadi depresi post partum, yaitu faktor biologi, hormonal, dan psikososial. Faktor biologi seperti pernah menderita depresi sebelum hamil, faktor psikososial meliputi kehilangan suaminya, kondisi bayi yang cacat, atau memerlukan perawatan khusus pasca melahirkan yang tidak pernah dibayangkan oleh sang ibu sebelumnya, melahirkan di bawah usia 20 tahun, ketergantungan pada alkohol atau narkoba, kurangnya dukungan dan komunikasi yang diberikan oleh anggota keluarga, suami, dan teman, kesulitan ekonomi, tidak adanya perencanaan kehamilan atau kehamilan yang tak diharapkan. Faktor hormonal berkaitan dengan kadar hormon estrogen, progesteron dan kortisol yang turun dalam 48 jam pertama setelah melahirkan, namun pada depresi postpartum kadar hormon tersebut dapat menetap. Gejala yang menonjol pada depresi post partum adalah adanya trias depresi seperti berkurangnya energi, mood buruk setelah malahirkan, dan hilangnya minat (anhedonia). Namun hal ini diikuti pula dengan gejala umum lainya seperti sukar tidur, merasa bersalah, kelelahan, sukar konsentrasi, hingga pikiran bunuh diri, kurang nafsu makan, sedih – murung, perasaan tidak  berharga, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, merasa terganggu dengan perubahan fisik, sulit konsentrasi, melukai diri, anhedonia, menyalahkan diri, lemah dalam kehendak, tidak mempunyai harapan untuk masa depan, tidak mau berhubungan dengan orang lain. Di sisi lain kadang ibu jengkel dan sulit untuk mencintai bayinya yang tidak mau tidur dan menangis terus serta mengotori kain yang baru diganti. Hal ini menimbulkan kecemasan dan perasaan bersalah pada diri ibu walau jarang ditemui ibu yang benar–benar memusuhi bayinya. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV), gangguan pasca persalinan diklasifikasikan dalam gangguan mood dan onset gejala adalah dalam 4 minggu pascapersalinan. Kriteria diagnosis spesifik psikosis postpartum tidak dimasukkan di dalam DSM-IV, dimana tidak terdapat informasi yang adekuat untuk membuat diagnosis spesifik. Diagnosis dapat dibuat jika depresi terjadi dalam hubungan temporal dengan kelahiran anak dengan onset episode dalam  6 minggu pasca persalinan. Meskipun belum ada kriteria diagnosis spesifik dalam DSM-IV, secara karakteristik penderita psikosis postpartum mulai mengeluh adanya delusi, halusinasi, kelelahan, perubahan mood, memiliki episode kesedihan, kecurigaan dan kebingungan serta tidak mau berhubungan dengan orang lain. Selain itu, penderita depresi postpartum memiliki perasaan tidak ingin merawat bayinya, tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya. Untuk mendeteksi adanya depresi postpartum atau risiko untuk mengalami depresi postpartum, ada beberapa kuisioner yang digunakan, salah satunya menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale yaitu berupa kusioner terdiri dari 10 pertanyaan yang secara ekstesif dapat memprediksi adanya gangguan depresi, jumlah skor lebih dari 10 berarti mengalami atau berisiko menderita depresi postpartum. Depresi postpartum dapat dicegah diantaranya dengan banyak istirahat sebisanya, mintalah bantuan  suami, keluarga, teman atau tenaga profesional untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. mengikuti kegiatan sosial di luar rumah dan berekreasi bersama teman dan keluarga, bertukar pengalaman dengan ibu atau orang yang sudah memiliki anak, jangan ragu untuk mengikuti grup pendukung dalam menghadapi depresi, berkonsultasi dengan tenaga medis ketika keluhan dirasakan semakin berat. Pengobatan pada depresi dibagi menjadi konseling dan obat-obatan. Konseling meliputi psikoterapi, modifikasi lingkungan. Konseling dapat membantu mencarikan permasalahan dalam menghadapi stresor, mendapatkan solusi dan membawa kesembuhan,  keluarga dan orang-orang terdekat berperan penting dalam proses ini. Obat-obatan anti depresi terbukti dapat menyembuhkan depresi postpartum, namun sebelum mengkonsumsi obat anti depresi, sebaiknya diskusikan dengan dokter obat mana yang tepat dan aman bagi bayi untuk dikonsumsi oleh ibu hamil atau ibu menyusui. Dengan pengobatan yang adekuat dan dukungan sosial serta keluarga, gangguan depresi postpartum dapat sembuh sempurna dalam beberapa bulan, namun dala beberapa kasus, depresi dapat menetap dan bertambah berat serta mengarah kepada ide dan tindakan bunuh diri. Sangat penting untuk melanjutkan pengobatan sesuai instruksi dokter, meskipun gejala yang dirasakan sudah berkurang, menghentikan pengobatan terlalu cepat beresiko untuk kambuh kembali. Depresi postpartum tidak hanya mengganggu penderita namun juga bayi dan orang-orang terdekat. Depresi saat kehamilan dapat menyebabkan kelahiran premature dan kelahiran bayi dengan berat badan kurang.  Depresi dapat mempengaruhi ibu hamil sehingga, mereka tak ada nafsu makan, kurang asupan makanan sehingga janin tidak berkembang sebagai semestinya. Bahkan setelah melahirkan sang ibu dapat mencederai sang buah hati atau dirinya sendiri.  
  1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry.  Behavior Sciences/Clinical Psychiatry. 10th ed. Lippincott Williams &Wilkins, 2007, p.527-30
  2. American Psychiatric Association. 2000. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Fourth Edition (Text Revision). Washington, DC : American Psychiatric Assosiation (APA).
  3. Cunningham G.F., Leveno K.J., Bloom S.L., Hauth J.C., Rouse D.J., Spong C.Y., et al. 2010. Williams Obstetrics. 23rd ed. USA : McGraw-Hill Company.