Selama ini yang kita tahu kalau bicara penyakit gula selalu bicara soal diabetes. Pengetahuan tentang gulanya jarang dibahas, padahal sehari-hari kita selalu bertemu dengan gula, sampai banyak yang merasa kurang dalam hidupnya bila tidak “manis”. Gula sudah menjadi suatu kebutuhan atau “need”. Sebelum lanjut dengan pembahasan yang lebih mendalam, perlu diketahui bahwa kita harus paham bedanya karbohidrat, gula dan sumber energi. Sumber energi adalah zat yang digunakan tubuh untuk dimetabolisme menjadi energi. Sumber energi bisa bermacam-macam, bisa dari karbohidrat, protein, lemak atau cadangan lemak pada tubuh. Karbohidrat adalah salah satu zat gizi atau makronutrien yang dapat dimetabolisme tubuh menjadi energi. Sumber karbohidrat adalah nasi, tepung dan bahkan bisa diperoleh dari gula. Gula adalah bentuk karbohidrat sederhana yang bisa dicerna menjadi sumber energi. Jadi kalau kita konsumsi es teh manis, kopi dengan gula atau jus buah dengan gula tambahan atau kita makan sepiring nasi dengan lauknya maka, saat masuk di tubuh makanan tersebut, baik karbohidrat, protein maupun lemak yang terkandung akan dicerna di lambung dan diolah menjadi sumber energi. Dan gula pada teh manis juga menjadi sumber karbohidrat dalam minuman tersebut untuk diolah menjadi energi. Gula terbagi ada beberapa jenis bentuk gula, misalnya gula pasir, gula tebu, gula kelapa, dan lainnya. Gula pada buah, misalnya kurma, mangga, melon adalah fruktosa. Madu, yang sering digunakan untuk menggantikan gula dalam memberi rasa manis, mengandung fruktosa dan glukosa. Lantas bedanya di mana? Tidak ada bedanya! Tubuh manusia tetap mengenalinya sama, saat masuk ke tubuh kita, semua bentuk gula ini akan dicerna dalam lambung menjadi glukosa. Glukosa kemudian dibawa bersama sel darah merah dan dengan bantuan insulin, glukosa kemudian masuk ke dalam jaringan dan diolah jadi sumber energi yang bisa dipakai dalam sel tubuh. Tanya gula event Bagaimana dengan glukosa yang tidak terpakai oleh sel tubuh? Glukosa yang berlebih ini akan disimpan di hati dan di otot dalam bentuk glikogen menjadi cadangan energi, sisanya diolah jadi lemak. Nah, jadi bila konsumsi gula berlebih dan tidak diimbangi adanya aktivitas fisik, maka terjadilah timbunan lemak pada tubuh. Jadi berapa banyak gula yang boleh dikonsumsi agar kita tetap sehat? Saran dari Kemenkes RI disarankan adalah 50 gram atau setara 4 sendok makan. Badan Kesehatan Dunia atau WHO malah menyarankan batas yang lebih rendah, yaitu 25 gram atau 2 sendok makan dalam sehari! Dan tidak ada perbedaan gender dalam pembatasan konsumsi gula, laki-laki maupun perempuan batasannya sama saja. “Tapi kalau saya tidak makan manis rasanya saya tidak kuat”, ini adalah pernyataan yang sangat umum kita dengar. Kondisi ini dikenal sebagai “sugar craving”. Gula bisa menyebabkan adiksi. Konsumsi gula yang cukup tinggi akan menyebabkan pelepasan hormon dopamin. Hormon dopamin inilah yang menyebabkan kita ketagihan dengan gula! Apakah rasa manis pasti dari gula? Vape cair yang sedang menjadi tren menggunakan gliserol atau sejenis minyak nabati untuk rasa manis. Gliserol bukanlah gula. Gliserol dimetabolisme dalam organ hati menjadi trigliserida dan fosfolipit, salah satu bagian dari komponen lemak. Trigliserida dan fosfolipit ini akan disimpan jadi cadangan lemak hati. Bukan gula tapi perlu disadari risiko kesehatan lain yang bisa timbul akibat vape ini. Gula memang adalah sumber energi, apalagi komponen gula umumnya adalah karbohidrat sederhana (glukosa atau fruktosa). Hal inilah yang menyebabkan gula cepat diserap tubuh sehingga segera setelah makan atau minum yang manis, tubuh terasa berenergi. Hal inilah mengapa setelah kita berolahraga, membakar energi, bila kita mengkonsumsi makanan manis, tubuh kembali terasa berenergi. Tapi wajib diwaspadai bahwa gula tidak memberikan rasa “kenyang” pada lambung. Jadi rasa lapar pasca berolahraga tidak bisa dipuaskan dengan gula saja. Malah bisa keasyikan makan gula saat lapar, orang seringnya kebablasan sehingga konsumsi gula tanpa disadari melebihi batasan yang dianjurkan. Jadi kita wajib waspada terhadap konsumsi gula dan bijak dalam mengkonsumsi makanan “manis”. Tips dari acara KopdarGula yang bisa kita praktekkan sehari-hari adalah:
  1. Selektif dalam pemilihan jenis makanan dan minuman. Konsumsi harian gula yang disarankan adalah maksimal 50 gram per hari atau 4 sendok makan.
  2. Lakukan aktivitas fisik secara rutin. Gula yang dikonsumsi bila berlebihan akan ditimbun sebagai lemak tubuh, yuk mulai membakar gula yang sudah dikonsumsi sebagai sumber energi saat kita berolahraga.
  3. Jangan lupa, mulai dengan komitmen hidup sehat agar kualitas hidup kita lebih baik di masa mendatang. Lebih baik mencegah daripada mengobati.
Jadi, sudahkah Anda hitung berapa sendok gula yang Anda tambahkan ke teh atau kopi Anda hari ini?   Referensi:
  1. Saris W. Sugars, energy metabolism, and body weight control. American Society for Clinical Nutrition [Internet]. 2003 [cited 11 April 2017];78(4):850S-857S. Available from: http://ajcn.nutrition.org/content/78/4/850S.full
  2. Carbohydrates and Blood Sugar [Internet]. The Nutrition Source. 2016 [cited 11 April 2017]. Available from: https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/carbohydrates/carbohydrates-and-blood-sugar/
  3. Kappico J, Suzuki A, Hongu N. Is Honey the Same as Sugar?. COLLEGE OF AGRICULTURE AND LIFE SCIENCES [Internet]. 2012 [cited 11 April 2017];:1-4. Available from: https://extension.arizona.edu/sites/extension.arizona.edu/files/pubs/az1577.pdf
  4. Guideline: Sugars intake for adults and children. Geneva: World Health Organization; 2015
  5. Ünal D. Insulin hormone: Mechanism and effects on the body and relationship with central nervous system. Dicle Medical Journal / Dicle Tip Dergisi. 2012;39(2):310-315.
  1. Avena N, Rada P, Hoebel B. Evidence for sugar addiction: Behavioral and neurochemical effects of intermittent, excessive sugar intake. Neuroscience & Biobehavioral Reviews. 2008;32(1):20-39.