"I, myself, was always recognized . . . as the "slow one" in the family. It was quite true, and I knew it and accepted it. Writing and spelling were always terribly difficult for me. My letters were without originality. I was . . . an extraordinarily bad speller and have remained so until this day."- Agatha Christie

agatha_christie_

Pernahkah Sobat mendengar nama Agatha Christie? Agatha Christie adalah seorang penulis novel thriller novel terlaris sepanjang sejarah. Namun tahukah Sobat, bahwa sebenarnya Agatha Christie memiliki keterbatasan/disabilitas dalam membaca dan mengeja? Ia adalah seorang yang lahir dengan disleksia! Tidak mudah baginya untuk belajar membaca dan mengeja di masa mudanya, sehingga ia harus melawan keterbatasan dirinya sendiri sebelum dapat meraih prestasi luar biasa yang kita kenal sekarang. Disleksia Pertanyaan selanjutnya, apa itu disleksia? Disleksia merupakan kesulitan dalam identifikasi kata (membaca) dan mengeja.2 Disleksia dapat timbul dalam berbagai macam tanda tergantung dengan usia dan tingkat perkembangan. Secara umum tanda dan gejala yang terlihat adalah kesulitan mengeja, mengenali kata, dan membaca tulisan. Seiring berjalannya waktu, seorang anak mungkin dapat meningkatkan kemampuannya dalam membaca, namun kecepatannya tidak seperti anak pada umumnya. Ketidakmampuan mengeja terutama terlihat dari kesulitan saat membaca dengan suara. Orang dengan disleksia sebenarnya memiliki intelegensi, motivasi, dan kesempatan yang cukup untuk dapat membaca dengan baik dan akurat.3 Faktor Utama penyebab Disleksia: Genetik 

Agatha-Christie5

Faktor genetik merupakan faktor utama penyebab disleksia. Faktor inilah yang menyebabkan gangguan pada bagian otak tertentu yang seharusnya bekerja saat mengolah kata-kata.2,3 Orang tua dengan disleksia memiliki 50% risiko bahwa anaknya juga memiliki disleksia.4 Diagnosis dari disleksia didasarkan dari manifestasi klinis yang muncul. Keluhan dari orang tua mengenai performa anaknya pada saat menjalani taman kanak-kanak, misalnya anak kesulitan membaca, belajar huruf dan angka. Orangtua mungkin dapat menyadari pula bahwa anaknya menolak membaca dengan suara atau hanya ingin membaca sendiri.3  Terkadang orangtua juga melihat bahwa anaknya sering tampak cemas dan takut, sering membuat penyakit-penyakit palsu (terutama saat harus menjalani ujian di sekolahnya), memiliki masalah tingkah laku, mengompol, dan sebagainya.2 Diagnosis disleksia sebenarnya dapat ditegakkan menggunakan test kognitif yang sebaikanya dilakukan oleh psikolog pendidikan, psikolog klinik, atau terapis bicara dan bahasa.2 Namun tidak jarang masalah ini ditemukan oleh guru saat anak menjalani pendidikan ataupun ditemukan oleh dokter saat melakukan kunjungan karena penyebab lain. Cara termudah membuktikan disleksia adalah meminta anak untuk membaca dengan keras tulisan dalam buku pelajarannya dengan diberikan batas waktu. Anak dengan disleksia perlu bekerja keras untuk membaca karena seringnya salah mengeja dan mengulang kata-kata yang asing baginya. Mereka cenderung hanya dapat membaca dengan lambat.3 Tips Mengatasi anak disleksia Agatha-Christie_2 Sampai saat ini belum diketahui cara untuk memperbaiki abnormalitas pada otak yang mendasari disleksia. Dengan demikian tatalaksananya pun tidak dilakukan dengan obat-obatan kecuali ada penyakit penyerta, seperti attention deficit/hyperactivity disorder (ADHD).5 Disleksia harus diatasi dengan pendidikan. Semakin cepat intervensi dilakukan, hasil yang didapat akan semakin baik. Guru dapat menggunakan teknik pendekatan melalui pendengaran, pengelihatan, dan sentuhan untuk meningkatkan kemampuan membaca. Hal-hal yang diajarkan seperti pengenalan akan bunyi suatu kata, huruf dan paduan huruf yang menggambarkan bunyi tersebut, pengertian terhadap apa yang dibaca, membaca dengan suara keras, dan perbendaharaan kata. 6 Sebagai sosok yang hidup bersama dengan anaknya, orangtua pun dapat berperan serta membantu anaknya mengatasi disleksia dengan beberapa langkah, yaitu:6
  • Kenali masalah sejak dini. Jika timbul tanda-tanda yang telah disebutkan di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter atau ahli disleksia lain. Anak dengan disleksia harus mendapatkan perlakukan khusus saat sekolah untuk mengatasi keterbatasan yang dimilikinya. Saat anak tidak memperoleh intervensi secara dini, anak akan semakin tertinggal dan semakin sulit untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
  •  Bacakan cerita untuk anak Sobat. Membacakan cerita untuk anak sudah dapat dimulai sejak anak berusia 6 bulan bahkan lebih muda. Bila anak sudah cukup besar, sebaiknya anak dimotivasi untuk dapat membaca bersama-sama setelah Sobat membacakannya sekali.
  • Bekerja sama dengan pihak sekolah. Harus dibuat sebuah strategi pendidikan anak. Hal ini harus dilakukan dengan kerja sama antara orantua dan anak untuk memperoleh gambaran kebutuhan anak dan bagaimana sekolah dapat membantunya. Bahkan, jam latihan khusus di luar jam sekolah dapat membantu bagi anak dengan disleksia.
Memiliki anak dengan disleksia memang bukan merupakan hal mudah untuk dihadapi. Orangtua juga dapat melakukan penelusuran melalui internet untuk mencari lembaga-lembaga yang dapat menyediakan dukungan bagi penderita disleksia, mulai dari pemeriksaan yang sederhana yang dapat dilakukan, sampai kepada pelayanan tatalaksana jarak jauh.2 Disleksia mungkin membuat seseorang memiliki keterbatasan terutama yang berhubungan dengan membaca dan mengeja, namun tidak berarti orang dengan disleksia tidak akan berhasil. Agatha Christie telah membuktikannya. Ia berhasil melewati masa kecilnya yang sulit. Menjadi anak yang dikatakan lambat dalam keluarganya justru menjadi motivasi tersendiri baginya untuk menjadi orang yang sukses. Sampai ia dewasa pun, menulis dan mengeja masih merupakan hal yang sulit baginya, namun hal tersebut bukanlah penghalang baginya memperoleh prestasi yang luar biasa sebagai penulis novel terlaris sepanjang sejarah. Demikianlah bahwa orang dengan disleksia juga dapat mencapai hal yang luar biasa. Referensi :
  1. Anonim. Agatha Christie. Diunduh dari: http://www.famousdyslexicpeople.com/tag/agatha-christie
  2. Smythe I. Dyslexia. British Journal of Hospital Medicine 2011;72(1):39-4
  3. Lyon GR, Shaywitz SE, Shaywitz BA. Specific Reading Disability (Dyslexia). Di Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF (editor). Nelson Textbook of Pediatrics. 18th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2010. Hlm 110-2
  4. McBride-Chang C, Lam F, Lam C, Chan B, Fong CYC, Wong TTY, dkk. Early predictors of dyslexia in Chinese children: familial history of dyslexia, language delay, and cognitive profiles. Journal of Child Psychology and Psychiatry 2011;52(2):204–11
  5. Snowling MJ. Changing concepts of dyslexia: nature, treatment and comorbidity. Journal of Child Psychology and Psychiatry 2012;53(9):e1–3
  6. Mayo Clinic. Dyslexia. Diunduh dari: http://www.mayoclinic.com/health/dyslexia/DS00224