Anak merupakan harta yang berharga bagi setiap orang tua. Setiap orang tua pastilah ingin memiliki anak yang cerdas, sehat, berbudi, dan berkarakter baik. Kita sering mendengar ungkapan bahwa seorang anak merupakan cerminan dari pribadi orang tua mereka. Hal ini benar, karena sejak dalam kandungan dan dilahirkan kemudian bertumbuh besar, seorang anak bergantung penuh pada orang tuanya atau pada orang yang mengasuh dirinya. Sehingga karakter orang tua atau pengasuhnya akan berdampak besar pada pertumbuhan fisik maupun perkembangan karakter dan mental. Oleh karena itu dalam mendidik anak diperlukan pola asuh yang tepat karena berkaitan erat dengan pembentukan karakter anak yang berkualitas. Orang tua berperan penting dalam mengasuh anak. Pola asuh merupakan suatu bentuk interaksi antara orang tua kepada anak dalam melakukan kegiatan mendidik, membimbing, merawat, serta melindungi anak, hingga anak tersebut mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya secara dewasa dan mandiri tanpa pendampingan dari orang tua lagi. Tipe pola asuh antar keluarga dapat saling berbeda karena dapat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan serta kehidupan sosial dan budaya orang tua. Secara umum, tipe pola asuh pada orang tua terdiri dari dua perilaku, yaitu perilaku directive dan perilaku supportive. Pada perilaku directive, orang tua menggunakan komunikasi satu arah untuk memberitahukan peran anak dan apa saja yang seharusnya anak lakukan. Sedangkan pada perilaku supportive, orang tua menggunakan komunikasi dua arah dimana orang tua mendengarkan anak, memberi teguran positif kepada anak, serta membantu mengarahkan perilaku anak. pola asuh Selain dua perilaku tersebut, terdapat pula beberapa pendapat lain mengenai tipe pola asuh anak. Pola asuh ini diantaranya menurut teori Baumrind, menurut Hoffman, serta menurut Hersey dan Blanchard. Baumrind mengemukakan empat tipe pola asuh, yaitu: pertama, pola asuh otoriter, dimana lebih menekankan kepada pengawasan dan kontrol dari orang tua terhadap anak untuk mendapatkan kepatuhan anak. Sifat pola asuh ini cenderung kaku, tegas, dan mengekang anak dalam melakukan segala tindakan. Kedua, pola asuh demokratis, yang mampu menciptakan keseimbangan antara hak dan kewajiban orang tua dan anak, sehingga anak dapat bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Ketiga, pola asuh permisif, atau disebut juga dengan pola asuh pemanja, dimana pegawasan yang diberikan sangat longgar, orang tua memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan tindakan tanpa pengawasan yang cukup. Keempat, uninvolved parenting (pola asuh penelantar). Pada pola asuh ini, orang tua memberikan waktu, biaya, dan kasih sayang yang sangat sedikit kepada anak karena orang tua lebih sering melakukan kepentingan pribadi mereka sendiri. Menurut Hoffman, terdapat tiga tipe pola asuh, yaitu: pertama, pola asuh bina kasih, dimana orang tua menjelaskan kepada anak alasan mengenai tindakan yang dilakukan. Terdapat perilaku directive dan supportive yang tinggi dari orang tua pada pola asuh ini. Kedua, pola asuh unjuk kuasa yang dapat menghasilkan tekanan pada anak agar bertindak sesuai dengan orang tua. Pola asuh ini memiliki perilaku directive yang tinggi, dan supportive yang rendah dari orang tua. Ketiga, pola asuh lepas kasih, orang tua tidak lagi memberikan kasih sayang pada anak jika orang tua tidak setuju terhadap suatu tindakan yang dilakukan anak, hal ini dilakukan hingga anak merubah tindakan dan perilakunya. Pada pola asuh lepas kasih ini, baik perilaku directive dan supportive dari orang tua sama-sama rendah. Sedangkan menurut Hersey dan Blanchard, pola asuh terdiri dari empat tipe, yaitu: telling, selling, participating, dan delegating. Pada pola asuh telling menyerupai pola asuh unjuk kuasa, menggunakan komunikasi satu arah, dimana peran anak ditentukan sepenuhnya oleh orang tua. Pola asuh selling serupa dengan pola asuh bina kasih, yang menggunakan komunikasi dua arah, dimana anak diberikan dukungan dan arahan dalam bertindak. Tipe pola asuh participating memiliki perilaku directive rendah dan supportive dari orang tua yang tinggi, dimana orang tua dan anak memutuskan sesuatu dan membuat kesepakatan melalui komunikasi bersama. Sedangkan pola asuh delegating yang memiliki perilaku directive dan supportive dari orang tua yang rendah, dimana orang tua menetapkan apa yang harus dilakukan anak tetapi anak diberi kesempatan untuk melakukan dan memutuskan tindakan sendiri. Kemudian, apa itu karakter? Karakter dapat diartikan sebagai sifat bawaan yang menjadi ciri khas individu serta mempengaruhi tingkah laku dan watak seseorang. Sedangkan karakter anak merupakan sikap kejiwaan anak yang cenderung masih dapat berubah dan dapat diarahkan sesuai dengan pola asuh sehari-hari dalam keluarga. Pola asuh otoriter misalnya, dapat menghasilkan karakter anak menjadi tidak berinisiatif, tidak mampu menyelesaikan masalah, komunikasi buruk, mudah gugup dan ketakutan. Sedangkan pada pola asuh demokratis, anak terlatih untuk membuat keputusan secara bebas, dapat berkomunikasi dengan baik, dan lebih disiplin. Pola asuh demokratis memperlihatkan karakter anak dengan emosional positif dan perkembangan kognitif yang baik. Jadi sebagai orang tua, karakter apa yang ingin kita bentuk dalam diri anak-anak kita? Mulailah dengan menerapkan pola asuh yang sesuai. Semoga bermanfaat! Sumber Pustaka
  1. Pola Asuh Orang Tua dan Perilaku Remaja. Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27211/4/Chapter%20II.pdf. Diunduh pada tanggal 13 Juni 2013, pukul 09.00 WIB.
  2. Karakter Anak berdasarkan Pola Asuh Orang Tua. Universitas Pendidikan Indonesia. http://repository.upi.edu/operator/upload/s_a0351_0606350_chapter1.pdf. Diunduh pada tanggal 13 Juni 2013, pukul 19.30 WIB.