Tetralogi Fallot merupakan penyakit jantung bawaan tipe sianotik yang paling sering. Disebut Tetralogi Fallot karena kelainan yang terdapat pada jantung ada 4 buah, sedangkan Fallot adalah dokter yang pertama kali mendeskripsikan kelainan ini. Kelainan-kelainan yang terdapat pada tetralogi Fallot ini meliputi:
  • Defek septum ventrikel: adanya lubang di sekat pemisah bilik kiri (ventrikel kiri) dengan bilik kanan (ventrikel kanan)
  • Aorta overriding: pembuluh darah utama yang keluar dari bilik kiri mengangkang sekat bilik, sehingga seolah-olah sebagian aorta keluar dari bilik kanan
  • Stenosis pulmonal: penyempitan klep pembuluh darah yang keluar dari bilik kanan menuju paru, bagian otot dibawah klep juga menebal dan menimbulkan penyempitan
  • Hipertrofi ventrikel kanan: penebalan otot bilik kanan akibat kerja keras (karena jalan keluarnya terhambat) dan tekanan dalam rongga ini meningkat.
Adanya tetralogi Fallot ini bisa dikenali pada pasien yang tampak biru karena terjadinya aliran darah kotor dari bilik kanan ke bilik kiri, yang bercampur dengan darah bersih yang ada disitu kemudian dialirkan ke seluruh tubuh lewat aorta. Derajat biru ini terutama ditentukan oleh beratnya stenosis pulmonal dan defek septum ventrikel. Pada pasien juga menampakkan tanda-tanda sesak terutama sewaktu beraktivitas disertai nafas yang cepat. Juga dapat ditemukan adanya jari tabuh (clubbing finger) pada pasien. Kelainan ini hanya bisa disembuhkan dengan cara operasi. Tindakan bedah koreksi diperlukan untuk membuat jantung senormal mungkin, sehingga jantung dapat kembali ke fungsi normal saat anak itu tumbuh. Koreksi primer dini akan melindungi fungsi neurologis, fungsi paru, fungsi ventrikel, dan kemungkinan timbulnya komplikasi-komplikasi dapat dikurangi. Suatu penelitian dilakukan antara 1-30 Desember 1996 dan 15 Maret-15 Mei 1997 oleh Bagian Kardiologi FKUI/RSJHK terhadap 28 penderita. Penelitian dilakukan untuk melihat perbedaan kapasitas latihan pada penderita tetralogi Fallot yang dilakukan bedah koreksi saat berusia dibawah 2 tahun dengan yang dilakukan saat berusia diatas 2 tahun. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penderita tetralogi Fallot yang dilakukan bedah koreksi saat berusia di bawah 2 tahun mempunyai kapasitas latihan jangka panjang lebih baik dari yang berusia lebih dari 2 tahun saat dilakukan pembedahan. Sumber: http://www.kardiologi-ui.com/newsread.php?id=215 http://www.pjnhk.go.id/content/view/603/31/