Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang kembali merebaknya polio di Indonesia. Bahkan 5 Mei 2005 dilaporkan terjadi ledakan infeksi polio di Sukabumi. Perlukah kita mewaspadainya? Poliomyelitis atau polio, adalah penyakit virus yang menyebabkan paralisis atau lumpuh. Penyebab penyakit ini adalah sebuah virus yang dinamakan Poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut lalu menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang terjadi kelumpuhan (paralisis). Virus polio sering menyerang tanpa gejala, merusak sistem saraf menimbulkan kelumpuhan permanen, biasanya pada kaki. Sejumlah besar penderita meninggal karena tidak dapat menggerakkan otot pernapasan. Apakah polio itu? Polio adalah penyakit yang menular melalui kontak antarmanusia. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi kotoran yang mengandung virus polio. Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas 3 strain berbeda dan sangat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3-5 tahun. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3-35 hari. Polio dapat menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi poliovirus tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang terjangkit. Setelah seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui kotoran selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus. Jenis Polio:
  • Polio non-paralisis Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung. Otot terasa lembek jika disentuh.
  • Polio Paralisis Kurang dari 1 persen orang yang terinfeksi virus polio berkembang menjadi polio paralisis atau menderita kelumpuhan. Polio paralisis dimulai dengan demam. Lima sampai tujuh hari berikutnya akan muncul gejala dan tanda-tanda lain, seperti: -Sakit kepala -Kram otot leher dan punggung -Sembelit/konstipasi -Sensitif terhadap rasa raba
Polio paralisis dikelompokkan sesuai dengan lokasi terinfeksinya, yaitu:
  1. Polio Spinal Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki. Setelah poliovirus menyerang usus, virus ini akan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus dan diangkut ke seluruh tubuh. Poliovirus menyerang saraf tulang belakang dan motorneuron yang mengontrol gerak fisik. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. Namun, pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak. Infeksi ini akan mempengaruhi sistem saraf pusat dan menyebar sepanjang serabut saraf. Seiring dengan berkembangbiaknya virus dalam sistem saraf pusat, virus akan menghancurkan motorneuron. Motorneuron tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot yang berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas. Kondisi ini disebut acute flaccid paralysis (AFP). Infeksi parah pada sistem saraf pusat dapat menyebabkan kelumpuhan pada batang tubuh dan otot pada dada dan perut, disebut quadriplegia. Anak-anak dibawah umur 5 tahun biasanya akan menderita kelumpuhan 1 tungkai, sedangkan jika terkena orang dewasa, lebih sering kelumpuhan terjadi pada kedua lengan dan tungkai.
  2. Bulbar polio Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung motorneuron yang mengatur pernapasan dan saraf otak, yang mengirim sinyal ke berbagai otot yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf auditori yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher. Tanpa alat bantu pernapasan, polio bulbar dapat menyebabkan kematian. Lima hingga sepuluh persen penderita yang menderita polio bulbar akan meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Kematian biasanya terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf otak yang bertugas mengirim 'perintah bernapas' ke paru-paru. Penderita juga dapat meninggal karena kerusakan pada fungsi penelanan; korban dapat 'tenggelam' dalam sekresinya sendiri kecuali dilakukan penyedotan atau diberi perlakuan trakeostomi untuk menyedot cairan yang disekresikan sebelum masuk ke dalam paru-paru. Namun trakesotomi juga sulit dilakukan apabila penderita telah menggunakan 'paru-paru besi' (iron lung). Alat ini membantu paru-paru yang lemah dengan cara menambah dan mengurangi tekanan udara di dalam tabung. Kalau tekanan udara ditambah, paru-paru akan mengempis, kalau tekanan udara dikurangi, paru-paru akan mengembang. Dengan demikian udara terpompa keluar masuk paru-paru. Infeksi yang jauh lebih parah pada otak dapat menyebabkan koma dan kematian. Tingkat kematian karena polio bulbar berkisar 25-75% tergantung usia penderita. Hingga saat ini, mereka yang bertahan hidup dari polio jenis ini harus hidup dengan paru-paru besi atau alat bantu pernapasan. Polio bulbar dan spinal sering menyerang bersamaan dan merupakan sub kelas dari polio paralisis.
Polio paralisis tidak bersifat permanen. Penderita yang sembuh dapat memiliki fungsi tubuh yang mendekati normal. Bagaimana dengan anak-anak ? Anak-anak kecil yang terkena polio seringkali hanya mengalami gejala ringan dan menjadi kebal terhadap polio. Maka dari itu, penduduk di daerah yang memiliki sanitasi baik justru menjadi lebih rentan terhadap polio karena tidak menderita polio ketika masih kecil. Vaksinasi pada saat balita akan sangat membantu pencegahan polio di masa depan karena polio menjadi lebih berbahaya jika diderita oleh orang dewasa. Orang yang telah menderita polio bukan tidak mungkin akan mengalami gejala tambahan di masa depan seperti layuh otot; gejala ini disebut sindrom post-polio. Faktor Resiko Anda beresiko tinggi terkena polio jika Anda jika Anda belum diimunisasi polio. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko terinfeksi polio:
  • Bepergian ke daerah yang endemik polio atau baru saja terjadi KLB polio.
  • Tinggal dengan orang yang terkena virus polio
  • Kontak dengan orang yang baru saja divaksinasi polio jika Anda tidak divaksinasi.
  • Bersentuhan dengan spesimen laboratorium yang mengandung virus polio
  • Menderita penurunan sistem imun, seperti pada HIV
  • Trauma pada mulut, hidung, operasi gigi, atau tonsil
  • Aktivitas fisik dan stress ekstrim yang bisa menyebabkan turunnya sistem imun.
Bagaimana mencegahnya ? Walaupun sanitasi umum dan kebersihan individual baik dapat menurunkan resiko penyebaran polio, namun hal yang paling efektif untuk mencegah terinfeksi polio adalah dengan divaksinasi. Ada 2 jenis vaksin polio, yaitu:
  • Vaksin polio oral Ditemukan oleh Albert Sabin. Berisi virus polio hidup yang telah dilemahkan. Vaksin ini diberikan ke dalam mulut.
  • Vaksin polio yang tidak aktif Dikembangkan oleh Jonas Salk. Mengandung virus polio yang telah dimatikan. Pemberiannya dengan cara disuntikkan.
Daftar Pustaka Kasper, et al. Harisson’s Principles of Internal Medicine Vol. 1, 16th edition. McGraw-Hill, 2005 Lange. Current Medical Diagnosis & Treatment revised annually 2002. McGraw-Hill, 2002 Sidharta, Priguna & Mahar Mardjono. Neurologi Klinis Dasar, cetakan ke-10. Jakarta: Dian Rakyat, 2004 The Global Polio Eradication Initiative, Centers of Disease Control and Prevention, WHO. www.id.wikipedia.org/wiki/Poliomyelitis www.mayoclinic.com www.tempointeraktif.com