Hari ini saya diminta datang ke tempat seorang kerabat, dia punya dua anak laki-laki berumur 4 dan 6 tahun. Kedua anak ini sangat luar biasa cerdas, lincah (hampir tidak bisa diam tepatnya), dan sangat overweight. Tidak tampak ada masalah dengan anak-anak ini, sampai ibunya bercerita bahwa dia khawatir dengan perkembangan kelamin anaknya, terutama yang paling tua. Kami akhirnya berhasil membujuk anak tertua tadi untuk diperiksa kelaminnya (penis dan buah zakarnya), dari pengamatan luar (dia belum disunat ya) ukuran dan besar buah zakar (berikutnya akan disebut scrotum-RED) normal, tapi.... panjang penisnya mungkin hanya 2,5 cm. Kedua orang orang tuanya sangat khawatir, terutama ayahnya dan mereka takut kalau dibiarkan anaknya akan mengalami gangguan perkembangan seks sekunder. Mereka bertanya apakah ini normal, dan apakah perlu terapi hormon? Kisah salah seorang kerabat saya ini mungkin juga terjadi di banyak keluarga lainnya yang memiliki anak laki-laki usia 6-10 tahun dan mempunyai masalah overweight/obesitas. Banyak orang tua yang belum cukup waspada dan mengerti untuk mengamati perkembangan anaknya, dalam hal ini terutama perkembangan alat kelamin serta psikoseksualnya. Jadi, apakah anda pernah memeriksa penis anak anda? Pernah memperhatikan saat anak laki-laki anda buang air kecil? Kalau jawabannya belum, sebaiknya segera dilakukan sebelum si anak berumur 10 tahun, dimana dia akan memasuki masa pra-pubertas. Kenapa harus dilakukan? Karena peran orang tua yang harus memperhatikan perkembangan seksual dan psikologis anak sejak dini, supaya bila dicurigai ada kelainan dapat ditangani sesegera mungkin. Dan yang paling mudah dideteksi adalah ukuran penis dan testis anak anda. Semua pemeriksaan dan pengamatan orang tua sebaiknya dilakukan oleh sang ayah, dengan menempatkan privasi anak sebagai prioritas utama. Tujuannya supaya anak tidak malu, dan lebih terbuka dengan ayahnya yang tentunya pernah melalui tahap yang sama. Untuk anak laki-laki, perkembangan alat kelamin setelah lahir berlangsung lambat, tapi kemudian menjelang masa prapubertas, yaitu 6-10 tahun, tubuh menyesuaikan dengan memproduksi banyak hormon yang akan membuat penis dan testis tumbuh semakin besar dan juga matang, ketika masa pubertas dimulai. Ukuran penis 2,5 - 3 cm adalah wajar untuk bayi baru lahir di Asia. Anak-anak dengan obesitas dan badan yang berbentuk apel, punya kecenderungan memiliki penis yang terlihat jauh lebih kecil dibanding anak sebayanya. Hal ini karena bantalan lemak yang cukup tebal di daerah perut, panggul, maupun selangkangan. Sehingga penis anak tampak terbenam oleh jumlah lemak yang mengganjal, dan pertumbuhan bulu-bulu kemaluan terhambat estrogen yang dihasilkan oleh jaringan lemak tersebut. Ukuran penis anak yang sebenarnya dapat diukur dengan terlebih dahulu menekan perut bagian bawah anak, kemudian panjang penis diukur mulai dari pangkal penis sampai ke ujung. Pengukuran sebaiknya dilakukan sampai tiga kali, dan dari rata-ratanya dapat diperoleh hasil yang bisa dibilang akurat. Para orang tua yang memilki anak laki-laki dengan obesitas maupun bentuk badan seperti itu tidak perlu khawatir, yang penting diperhatikan adanya kelengkapan alat kelamin lainnya. Seperti muara saluran kencing harus di puncak penis, dan pada scrotum bila diraba dapat diraba adanya dua buah testis yang teksturnya lonjong dan padat. Tidak benar bila muncul anggapan bahwa anak yang obesitas memiliki penis yang lebih kecil dari anak dengan berat badan normal. Lalu, dengan diet yang terkontrol, anak dapat memperoleh berat badan yang ideal sesuai dengan tinggi badan dan usianya, lalu bisa dilihat lagi pertumbuhan yang akan terjadi pada batang penisnya. Terapi hormon yang sering dibicarakan merupakan alternatif terakhir bagi para orang tua, setelah sebelumnya dikonsultasikan dahulu dengan endokrinologis. Bila pada anak laki-laki anda yang sudah berusia >14thn terdapat tanda-tanda seperti belum terdapatnya bulu kemaluan, panjang dan lebar penis belum berubah, serta belum pernah mengalami mimpi basah, anda mungkin sebaiknya perlu berkonsultasi ke dokter. Dengan wawancara yang menyeluruh terhadap si anak, juga memperhatikan pola perilaku dan asupannya sehari-hari dapat disimpulkan mengapa anak anda mengalami keterlambatan puber. Apakah ada stress psikososial yang melatarbelakangi, atau ada masalah lainnya yang luput dari perhatian orang tua. Bila ternyata pemicunya adalah masalah psikologis, atau anak menderita gangguan emosi, masih dapat ditangani dengan terapi konseling bersama psikiater serta psikolog. Penggunaan obat-obatan hormonal belum diperlukan. Bila keterlambatan perkembangan seksual anak anda disertai adanya penurunan dari kadar testosterone dalam darah, juga growth hormone, maka sebaiknya disertai dengan terapi obat-obatan yang sesuai dengan anjuran dokter. Karena, penggunaan growth hormone yang berlebihan dapat menimbulkan efek samping seperti pertumbuhan tulang yang berlebihan, tampak jelas sebagai penonjolan yang tidak beraturan di daerah rahang bawah dan atas, dalam bahasa medisnya disebut acromegaly. Daftar Pustaka: • Hay,William: Current Diagnosis and Treatment in Pediatric 18th edition: chapter3. 2007