Anak adalah buah cinta yang paling dinantikan oleh setiap pasangan yang sudah menikah. Perkembangan anak merupakan hal yang indah, selalu ditunggu, maupun dibanggakan oleh hampir setiap  orang tua di dunia. Dalam mengasuh dan mendidik anak hingga dewasa, perkembangan anak tentunya menjadi bagian yang istimewa. Disadari langsung ataupun tidak langsung, memang di sinilah tampak bahwa peranan orang tua menjadi hal yang sangat nyata dan memberi pengaruh besar dalam proses terbentuknya kepribadian si anak.

Dalam proses perkembangan dan pembentukan watak dan kepribadian si kecil, banyak juga informasi ataupun istilah-istilah baru yang kerap didapat orang tua, salah satunya mengenai ‘temper tantrum’. Berawal dari istilah yang didapat tersebut, meluncurlah serangkaian pemikiran dan pertanyaan lebih lanjut dari orang tua akan perilaku si kecil. Misalnya ketika anak sedang marah, ia kerap menangis histeris, menjerit-jerit, memukul-mukul, apakah itu yang disebut temper tantrum? Apakah itu normal bagi si kecil? Apa bentuk perilakunya? Apa penyebabnya? Apa yang harus dilakukan?

Untuk itu, mari kita mengetahui lebih lanjut mengenai temper tantrum !

Apa yang Dimaksud dengan Temper Tantrum ?

Temper tantrum sendiri merupakan istilah yang biasa digunakan dalam dunia psikologi. Temper tantrum merupakan perilaku yang tidak menyenangkan dan mengganggu, atau dikatakan pula sebagai luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Tantrum sebenarnya adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif, dan emosi pada anak. Sebagai periode dari perkembangan, tantrum pasti akan berakhir.

Tantrum yang alami biasanya berawal pada usia sekitar 12 - 18 bulan. Akan bertambah nyata pada usia antara 2 - 3 tahun, ketika anak - anak membentuk kesadaran diri namun mereka belum punya cukup  perbendaharaan kata yang dapat digunakan untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Pada usia 4 tahun, kejadian temper tantrum menurun, dan setelah usia 4 tahun, temper tantrum biasanya jarang terjadi. Namun, keadaan si kecil yang sedang letih, lapar, ataupun sakit, dapat membuat tantrum lebih parah dan lebih sering terjadi.

Meskipun sebagian besar dan secara alami terjadi pada anak di usia yang lebih muda dalam masa perkembangannya, temper tantrum dapat terjadi pada anak usia berapapun, dimana terdapat ketidakmampuan dalam mengungkapkan keinginan ataupun kebutuhan mereka dalam bentuk ‘kata-kata’. Hal tersebut menyebabkan emosi mereka menjadi tidak terkontrol ketika mereka frustasi dalam usaha mengungkapkan keinginannya tersebut.  Misalnya pada anak dengan autisme, dimana terdapat peningkatan transmisi saraf (neurotrasnmitter) tertentu yang akan mempengaruhi proses-proses dalam otak. Hal tersebut menyebabkan anak dengan autisme tidak dapat mengontrol emosinya, sulit berkonsentrasi, sehingga biasanya mengkomunikasikan ketidaknyamanannya tersebut dengan menunjukkan perilaku temper tantrum.