Nancy, seorang ibu karir membawa anaknya yang lahir pematur untuk kontrol ke dokter. Nancy mengeluh si kecil yang sudah berusia 3 minggu ini tidak kuat menyusu, apabila ia menyusu, biasanya hanya sebentar-sebentar,nampak anaknya berkeringat dan tersenggal-senggal. Tidak lama kemudian si kecil kembali menangis meminta untuk menyusu kembali. Pada pemeriksaan, dokter menyatakan si kecil mengalami kelainan jantung bawaan asianotik (yang tidak biru). Dokter segera melakukan pemeriksaan tambahan berupa rekam Elektrokardiografi (EKG), rontgen thorax (dada), serta melakukan pemeriksaan 2d - echo. Hasilnya, ternyata si kecil memang benar mengalami kelainan jantung bawaan asianotik jenis Patent Ductus Arteriousus. Apakah sebenarnya PDA itu? Semasa janin, aliran sirkulasi dalam tubuh janin sedikit berbeda dengan kehidupan di luar janin (ketika si kecil) dilahirkan. Selama dalam kandungan, terdapat beberapa struktur yang berbeda dengan tujuan mempermudah oksigenasi janin. Namun begitu lahir, ada beberapa strktur yang menutup atau menyempit agar dapat beradaptasi dengan dunia di luar kandungan. Normalnya, sebuah lubang yang menghubungkan jantung janin akan tertutup, bila tidak kondisi ini akan menjadi suatu keadaan yang disebut ventrikel septal defect (VSD). Selain itu, ada pula sebuah saluran yang menghubungkan pembuluh darah utama (Aorta) dengan pembuluh darah di paru-paru (arteri pulmonalis) yang pada saat bayi lahir seharusnya menutup. Apabila saluran ini tidak tertutup, maka kelainan inilah yang disebut sebagai Patent Ductus Arteriosus (PDA) seperti yang dialami anak Nancy. PDA adalah kelainan jantung bawaan yang cukup sering ditemui, pada umumnya dialami oleh bayi yang lahir prematur. Angka kejadiannya mencapai 10 % dari seluruh kelainan jantung bawaan yang ada. Sebenarnya PDA sendiri dapat dibedakan berdasarkan besarnya saluran (Ductus Arteriousus) itu sendiri. Apabila saluran itu kecil, biasanya seorang anak tidak menunjukkan gejala-gejala seperti yang ditunjukkan oleh anak Nancy. Dokter biasa mengetahui hal tersebut dengan mendengarkan bunyi jantung pada saat anak tersebut masih dirawat di rumah sakit, atau ketika mereka datang untuk control dan imunisasi. Seringkali kelainan bunyi jantung tersebut tidak dapat dideteksi pada awal kelahiran, dan baru dapat di dengar pada minggu kedua. Karena dari itu, pemeriksaan kesehatan bagi seorang anak yang rutin dan teratur sangat diperlukan. Apabila ductus arteriosus tersebut besar, maka anak dapat menunjukkan gejala seperti mudah berkeringat, terutama di dahi, tidak kuat menyusu (hanya sedikit-sedikit, dan kemudian meminta lagi), serta nampak tersenggal-senggal ketika selesai menyusui. Bila dibiarkan tidak diatasi, anak akan mengalami gagal tumbuh kembang, dan sering sekali menderita infeksi saluran napas. Apa yang harus dilakukan bila anak saya mengalami PDA ??? Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Walau pada umumnya bayi yang mengalami PDA adalah prematur, bukan berarti bayi yang lahir cukup bulan terlepas sepenuhnya dari kondisi ini. Perbedaan yang cukup menonjol dalam penanganan PDA sangat terkait pada kondisi ini. Apabila pasien prematur berhasil terdiagnosa sebagai PDA, maka dokter biasanya akan mencoba untuk memberikan suatu obat yang dapat menutup saluran tersebut. Walau tidak 100 % berhasil, namun angka keberhasilannya cukup baik dan seringkali dicoba oleh para dokter sebelum memutuskan untuk melakukan operasi. Namun apabila bayi tersebut cukup bulan, biasanya usaha memberikan obat ini seringkali gagal dan tidak dicoba lagi pada bayi yang lahir cukup bulan. Pada PDA yang kecil, meskipun anak tidak menunjukkan gejala klinis, namun tetap dianjurkan untuk melakukan penutupan ductus arteriosus tersebut. Hal ini penting untuk mencegah terinfeksinya jantung sebagai akibat kelainan dari sistem kardiovaskular. Kesehatan gigi dan mulut pada penderita kelainan jantung bawaan sangat penting untuk mencegah terinfeksinya jantung. Selain itu apabila terkena radang tenggorokan pun harus mendapat penanganan yang serius agar tidak terjadi efek samping yang tidak diinginkan. Hal ini patut mendapat perhatian dari orang tua, karena terjadinya infeksi jantung antara lain melalui kondisi gigi berlubang ataupun radang tenggorokan yang juga semakin dipermudah dengan kondisi PDA itu sendiri. Pada PDA yang sedang atau besar, penutupan ductus arteriosus penting untuk mencegah terjadinya gagal jantung. Pada saat ini berkembang teknik yang sangat pesat untuk menutup PDA ini, tergantung dari kondisi pasien saat datang berobat. Selain operasi, penutupan saluran melalu teknik katerisasi (tanpa operasi) sangat dimungkinkan, tentunya hal ini dilakukan setelah dokter mengevaluasi teknik mana yang akan digunakan. Apabila karena suatu hal operasi harus ditunda, dengan mempertimbangkan kondisi pasien, maka pasien dapat menerima obat - obatan bila diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem kardiovaskularnya.