Memberikan yang terbaik untuk buah hati tentunya merupakan keinginan setiap ibu. Dengan bertambah mudahnya akses informasi, kini semakin banyak ibu yang telah mengerti pentingnya ASI dan memutuskan memberikan ASI eksklusif hingga anak berusia 6 bulan dan meneruskan pemberian ASI hingga usia 2 tahun, sesuai anjuran WHO. Idealnya, ASI diberikan langsung dengan membiarkan anak menyusu pada payudara ibu. Namun, ada kalanya hal ini tidak dapat dilakukan, misalnya karena ibu harus bekerja, sedang bepergian, atau sedang dirawat di rumah sakit. Ketika ini terjadi, jangan putus asa dan memberikan susu formula sebagai pengganti ASI. Ada cara yang sangat sederhana untuk tetap memberikan ASI meski anak tidak bisa menyusu langsung pada payudara ibu, yaitu dengan memompa dan menyimpan ASI untuk kemudian diberikan pada bayi ketika sedang tidak bersama ibunya. Bagaimana cara memompa ASI? Berikut ini adalah langkah-langkah serta tips dalam memerah ASI: Memerah ASI dapat menggunakan cara manual (menggunakan tangan) ataupun mekanis (menggunakan pompa air susu yang dijual di pasaran). Sebelum mulai memerah, cucilah kedua tangan Anda dan pastikan peralatan (pompa, cangkir bermulut lebar untuk menampung ASI sementara, botol kaca untuk menyimpan ASI) telah dalam keadaan steril. - Cara manual: o Kompreslah kedua payudara dengan air hangat (+15 menit). o Pijatlah payudara secara ringan ke arah bawah dan lakukan gerakan melingkar ke arah puting susu. o Tempatkan tangan di tepi areola (area sekitar puting susu yang berwarna lebih gelap)salah satu payudara, posisi ibu jari berlawanan dengan jari telunjuk. o Tekan tangan ke arah dada, tekan ibu jari dan telunjuk secara lembut dan bersamaan pada tepi areola. Ulangi secara teratur dan putarlah jari secara perlahan di sekeliling payudara agar tekanan mengenai seluruh saluran air susu dan seluruh ASI bisa dikeluarkan. o Letakkan cangkir bermulut lebar di bawah payudara yang diperah untuk menampung air susu yang menetes. o Teruskan dengan memerah payudara yang sebelahnya. Jika diperlukan, setelah memerah payudara kedua, dapat kembali ke payudara pertama lagi. Hal ini dapat dilakukan bila payudara masih terasa berat dan penuh dengan air susu. Pijatlah payudara di antara waktu-waktu pemerahan. o Jangan meremas payudara atau menggosok dan menekan puting dengan kasar agar tidak melukai jaringan payudara. o Biasanya diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk memerah kedua payudara, dan mungkin dibutuhkan waktu yang lebih lama bila Anda belum terbiasa. Oleh karena itu, bersabarlah dan tidak usah frustrasi bila air susu tidak mengalir deras. o Mengalirnya air susu dipengaruhi oleh hormon oksitosin yang dapat muncul bila ibu merasa rileks. Melihat benda-benda yang mengingatkan ibu pada bayinya atau menelpon rumah untuk mendengarkan suara bayi dapat membantu ibu lebih rileks dan mempermudah keluarnya air susu. - Cara mekanis: o Perhatikanlah instruksi penggunaan yang terlampir saat membeli pompa air susu. Bersihkanlah pompa sebelum dan sesudah penggunaan, atau disterilkan sesuai instruksi penggunaan. o Basahilah bagian dalam cup tabung yang ditempelkan pada payudara dengan air hangat. Tekan pompa, tempelkan cup tersebut ke payudara dengan benar, kemudian lepaskan tekanan pada pompa agar payudara menempel dengan erat. o Tekan pompa dengan tangan sampai air susu mengalir. Saat aliran telah berubah menjadi tetesan, lepaskan cup dengan hati-hati, dan bersihkan payudara dengan kain kering. o Pindahkan pompa ke payudara sebelahnya dan lakukan prosedur yang sama. Anda dapat melakukannya berulang-ulang secara bergantian pada kedua payudara. 125769 Gambar 2: Seorang ibu memberikan ASI sambil memompa payudara sebelahnya Sumber: Anonim. Breastfeeding Preparedness before Returning to Work. Georgetown Hospital System. Diunduh dari http://www.georgetownhospitalsystem.org/stw/Page.asp?PageID=STW041280 - Setelah selesai memerah ASI, bersihkanlah payudara dengan lap bersih sebelum kembali berpakaian. Pindahkanlah ASI perah dari wadah sementara ke dalam botol kaca dan tutuplah dengan rapat. Cucilah tangan dengan sabun dan simpan ASI perah dalam freezer. - Berikanlah label pada botol bertuliskan tanggal dan jam ASI diperah, agar ASI dapat digunakan sebelum kandungannya rusak. ASI yang baru saja diperah, atau sering disebut ASI perah (ASIP) segar, dapat bertahan sekitar 6-8 jam dalam suhu ruangan (19 – 25oC). Bila ASI masih berupa kolostrum, yaitu ASI kental berwarna kekuningan yang keluar pada hari-hari pertama setelah persalinan, dapat bertahan dalam suhu ruang hingga 12 jam. Dalam cooler box (4-15oC) yang dijaga tetap tertutup, ASIP bisa bertahan 24 jam. Bila ASIP segar disimpan dalam kulkas bersuhu 0-4o C, ASIP dapat bertahan selama 5-8 hari. ASIP yang disimpan dalam freezer akan bertahan lebih lama; freezer pada kulkas 1 pintu memberikan waktu simpan hingga 2 minggu, sedangkan dalam freezer kulkas 2 pintu, ASIP bisa bertahan hingga 6 bulan. Simpanlah botol ASIP pada kulkas bagian dalam paling belakang, yang suhunya paling dingin. Jangan menyimpan ASIP di bagian pintu kulkas, karena suhunya kurang stabil. Wadah yang digunakan untuk menyimpan ASIP sebaiknya yang terbuat dari kaca, agar lemak dari ASI tidak mudah tertinggal menempel pada dinding wadah. Isilah botol-botol itu dengan ASI sejumlah yang akan habis dalam satu kali minum oleh bayi, sebab ASIP yang telah dihangatkan, tidak boleh dibekukan kembali. ASI tidak boleh direbus. Untuk menghangatkannya, isilah sebuah mangkok dengan air panas, dan letakkan botol kaca berisi ASIP di dalamnya. ASIP beku juga dapat disimpan dalam kulkas biasa dulu selama 24 jam agar mencair, sebelum dihangatkan dan diberikan pada bayi menggunakan sendok. Gunakanlah ASIP dimulai dari botol yang tanggal pemerahannya lebih awal. Demikianlah cara memerah dan menyimpan ASI, cukup sederhana bukan? Berjauhan dengan bayi tidak lagi menjadi penghalang untuk memberikan ASI. Mari segera praktekkan, Mommies! Referensi: 1. Suradi R, Tobing HKP, eds. 2009. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta: Perkumpulan Perinatologi Indonesia. 2. Hegar B, Suradi R, Hendarto A, Partiwi IGA, eds. 2008. Bedah ASI. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta. 3. Riksani R. 2012. Keajaiban ASI. Jakarta: Dunia Sehat. 4. Academy of Breastfeeding Medicine. 2004. Clinical Protocol Number #8: Human Milk Storage Information for Home Use for Healthy Full Term Infants. New Jersey: Academy of Breastfeeding Medicine. 5. CDC. 2010. Proper Handling and Storage of Human Milk. Diunduh pada 23 Juli 2013 dari http://www.cdc.gov/breastfeeding/recommendations/handling_breastmilk.htm. 6. Davis M. 1999. Breastmilk Expression and Storage. Diunduh pada 19 Juli 2013 dari http://www.lactationconsultant.info/basics5.html. 7. Anonim. Breastfeeding Preparedness before Returning to Work. Georgetown Hospital System. Diunduh pada 19 Juli 2013 dari http://www.georgetownhospitalsystem.org/stw/Page.asp?PageID=STW041280