Apa yang harus Saya lakukan bila anak Saya menderita gizi buruk ? images Kondisi gizi buruk pada anak terjadi karena kombinasi dari asupan makanan yang kurang, gangguan penyerapan atau peningkatan kebutuhan energi. Beberapa kondisi yang menyebabkan keadaan gizi buruk ini adalah :
  • Gangguan makan,
  • Jenis dan Komposisi nutrisi makanan yang tidak seimbang
  • Serta beberapa penyakit kronis seperti kelahiran prematur
  • Kelainan jantung bawaan
  • Penyakit keganasan
  • Gangguan Pencernaan kronis
  • Gagal ginjal kronis
  • Cerebral palsy
Gizi buruk pada anak : Kekurangan Energi-Protein yaitu Kwashiorkor dan Marasmus Kekurangan energi-protein berat pada anak disebut dengan Kwashiorkor. Dimana Kwashiorrkor pada anak ditandai dengan :
  • Bengkak seluruh tubuh, rambut tipis dan warnanya memudar,
  • Kemerahan pada kulit
  • Sariawan di sudut bibir,
  • Perut busung, biasanya disebabkan oleh pembesaran hati
  • Diare
Selain Kwashiorkor, kelainan akibat kekurangan energi-protein pada anak adalah Marasmus dimana kelainan gizi buruk ini ditandai dengan anak malas-malasan, penampakan seperti orang tua, kurus. Penanganan gizi buruk pada balita anda, dilakukan berdasarkan kondisi yang mendasarinya. Tentunya segera konsultasikan anak anda kepada seorang ahli, minimal posyandu, bidan atau dokter disekitar anda. Kasus yang kompleks, memerlukan penanganan langsung oleh dokter spesialis anak. Apa yang harus Saya lakukan bila anak Saya atau Saya menderita gizi lebih / obesitas?

gambar-lucu-orang-besar-beradu-dengan-orang-kurus

Gizi lebih pada balita dapat disebabkan karena kebiasaan yang salah dari orang tua dalam memberikan asupan makanan seperti :
  • Dipaksa menghabiskan susu tiap kali minum,
  • Selalu memberi makan/minum tiap kali anak menangis,
  • Pemberian makanan tambahan tinggi kalori pada usia dini,
  • Susu terlalu kental atau manis
  • Faktor keturunan, kondisi ibu (obesitas, menderita kencing manis, penambahan berat badan selama kehamilan yang berlebih),
  • Gangguan emosional pada anak,
  • Gaya hidup masa kini (makanan cepat saji, kurang kegiatan fisik),
  • Serta masalah hormonal.
Gejala yang muncul pada balita dengan gizi lebih adalah:
  • Bentuk muka yang tidak proporsional (hidung dan mulut kecil, dagu ganda),
  • Adanya timbunan lemak pada daerah payudara,
  • Perut menggantung dan sering disertai guratan-guratan,
  • Alat kelamin anak laki-laki seolah kecil dan runcing serta masa pubertas yang lebih dulu dialami dibanding anak dengan berat badan normal.
Kondisi gizi lebih dapat juga mempengaruhi psikologis seorang anak menjadi kurang percaya diri dan lebih pasif. Bila terus berlanjut sampai dewasa, dapat menyebabkan timbulnya penyakit kronis seperti darah tinggi, kadar lemak yang berlebihan dalam darah, penyakit jantung koroner, kencing manis, sindrom Pickwickian (gangguan pada jantung dan pernafasan serta kematangan seksual yang lebih dini yang salah satunya ditandai dengan menstruasi yang tidak teratur). Pengaturan kalori untuk penanganan gizi lebih pada anak Sama dengan kondisi gizi buruk, penanganan pada gizi lebih harus sesuai dengan faktor penyebabnya, dibarengi dengan motivasi terutama pada penderita yang sudah dewasa, pemberian diet rendah kalori dan menganjurkan olahraga. Contoh pengaturan kalori untuk menangani obesitas :

Usia

Jumlah kalori yang dibutuhkan

Bayi < 6 bln

Bayi >6 bln

: 110 kkal/kgBB/hari

: 90 kkal/kgBB/hari

Anak Pra Sekolah

60 kkal/kgBB/hari

Anak Usia Sekolah (Pra pubertas)

60 kkal/kgBB/hari

Dewasa

500 – 850 kkal/hari

Disadur dari Soetjiningsih “Tumbuh Kembang Anak”

Kesenjangan yang dialami penduduk Indonesia dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kemajuan suatu daerah dipercaya menjadi penyebab mutlak timbulnya kedua kondisi yang berlawanan ini. Pada tahun 2012, UNICEF menunjukan data disparitas di Indonesia, Angka nasional menyatakan 1 dari 3 anak balita terhambat pertumbuhannya sedangkan data dari UNICEF menunjukan 40% anak balita di daerah pedesaan terhambat pertumbuhannya, 1 dari 23 anak meninggal sebelum usia 5 tahun, sedangkan UNICEF menemukan 1 dari 11 anak meninggal sebelum usia 5 tahun di 3 provinsi Indonesia Timur, 2 dari 10 kelahiran tidak ditangani tenaga kesehatan terlatih sedangkan meniurut UNICEF di Indonesia Timur, 1 dari 3 kelahiran tanpa bantuan tenaga ahli. Berdasarkan kenyataan ini, beban penanggulangan status gizi di Indonesia tidak hanya pada masing-masing individu namun juga pada pemerintah Indonesia. Dari kenyataan dan permasalahan gizi yang terjadi di Indonesia tak membuat kita menyerah dan melakukan pencegahan mulai dari diri kita hingga keluarga, terutama anak yang sobat sayangi. Mudah-mudahan dengan adanya artikel ini dapat menambah pengetahuan seputar perkembangan gizi di Indonesia saat ini dan mengetahui bagaimana tips mengatasi masalah gizi yang ada. Referensi:
  1. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. 1995. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC ; Hal 183 – 190.
  2. Lissauer T, Clayden G. Illustrated Textbook of Paediatrics. 4th ed. 2012. Elsevier: London, p. 201-218.
  3. Pemantauan Status Gizi. Maret 2013. www.indonesian-publichealth.com/2013/03/pemantauan-status-gizi.html diakses 10 Jan 2013
  4. Sandjaja et al. SEANUTS.  2012. www.frieslandcampinainstitute.com/en/seanuts.aspx diakses 10 Jan 2013