Sebagai orangtua, tentu kita merasa bahagia dan bangga apabila anak sudah menunjukkan niat untuk mulai belajar berpuasa. Anda mungkin sudah merencanakan untuk mengajarkan buah hati Anda berpuasa. Namun persepsi setiap orangtua mungkin berbeda-beda mengenai usia berapa puasa untuk anak dimulai. Kapan sebaiknya si kecil perlu mulai belajar berpuasa, sehingga tidak mengganggu tumbuh kembang dan kesehatannya? Puasa atau shaum (dari Bahasa Arab) artinya menahan atau mencegah, yakni menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang buruk, untuk meningkatkan ketakwaan. Puasa, selain dalam agama Islam, juga ada dalam ajaran agama-agama lain seperti Kristen atau Katolik, Hindu, dan Buddha, meskipun mungkin bentuknya tidak persis sama. Puasa untuk anak bukanlah kewajiban, namun tentu orangtua ingin mendidik anak untuk mempelajari esensi berpuasa secara dini, sekaligus melatih mereka agar bila tiba saatnya nanti mereka dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Anak berbeda dengan orang dewasa. Pada orang dewasa, nutrisi yang masuk ke dalam tubuh digunakan untuk menjalankan proses metabolisme sehari-hari sesuai aktivitas. Saat berpuasa terjadi penurunan kadar gula darah dan membuat tubuh harus menggunakan cadangan glikogen yang tersimpan dalam tubuh. Pada anak, nutrisi dan kadar gula darah yang tetap diperlukan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk perkembangan otak. Karena itu memang beralasan bahwa puasa penuh baru dianjurkan pada anak yang sudah mencapai usia akil baliq (pubertas). Kalau begitu bagaimana dengan anak yang lebih kecil? Hingga saat ini belum banyak penelitian mengenai pengaruh berpuasa pada anak, terutama dalam hal kesehatan dan tumbuh kembang, sehingga kita harus sangat cermat mempertimbangkan kondisi dan keterbatasan kemampuan anak. Jangan lupa bahwa pada anak, bukan puasa-nya yang menjadi tujuan kita, melainkan makna puasa tersebut untuk memperkenalkannya pada ajaran agama.