Si buah hati sudah lahir. Setelah melewati hari-hari pertama yang penuh dengan kekhawatiran akan ASI yang dirasa masih sedikit, akhirnya aliran ASI mulai lancar dan Anda mulai nyaman dengan kesibukan baru ini: menyusui. Namun tidak terasa, tinggal beberapa minggu lagi Anda harus kembali mulai bekerja. Bagaimana ini? Haruskah si kecil diberikan susu sapi selama Anda sedang sibuk di kantor? Bagaimana ibu bekerja tetap memberikan ASI bagi buah hatinya? Jangan khawatir! Dengan kerjasama dan komunikasi yang baik antara orangtua, baik ibu menyusui maupun suaminya, anggota keluarga yang lain, serta atasan dan rekan kerja, pemberian ASI pada si buah hati dapat dilanjutkan meski ibu kembali bekerja. Persiapan sebelum melahirkan Masih sangat sedikit perusahaan yang memberikan cuti menyusui minimal 6 bulan di Indonesia. Oleh karena itu, sebaiknya persiapan dimulai sejak hamil, agar Ibu sukses meneruskan pemberian ASI. • Bila tidak ada masalah dengan kandungan, rencanakanlah cuti melahirkan dengan porsi lebih lama pada saat bayi telah lahir. • Komunikasikanlah rencana Anda tetap memberikan ASI ketika kembali bekerja dengan atasan dan para rekan kerja. Mintalah dukungan mereka. • Carilah ruangan yang bisa dipakai memerah ASI di kantor, bila kantor belum menyediakan ruang khusus menyusui. • Pikirkan cara pengantaran ASI ke bayi. Apakah akan menggunakan jasa kurir ASI, atau dibawa sendiri saat Anda pulang. • Jajaki kemungkinan menggunakan kulkas kantor untuk menyimpan ASI sebelum dibawa pulang. Bila tidak ada kulkas di kantor, persiapkanlah cool box serta ice gel pendingin. • Bergabunglah dengan kelompok pendukung ibu menyusui, baik lewat internet maupun organisasi di sekitar tempat tinggal Anda. Anda bisa berkenalan dengan para ibu bekerja yang juga menyusui untuk mendapatkan dukungan dan bertukar informasi dengan ibu menyusui lainnya. • Mempelajari cara memerah ASI yang benar. • Komunikasikan pada pihak RS serta bidan atau dokter yang akan membantu proses persalinan tentang keinginan Anda memberikan ASI, dan mintalah agar dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), yang mendukung kesuksesan memberikan ASI eksklusif. • Siapkan orang yang akan membantu mengasuh bayi ketika Anda bekerja (nenek, kakek, anggota keluarga lain, baby sitter, pembantu). • Yakinkan diri Anda sendiri bahwa Anda bisa menyusui sang buah hati hingga usia 2 tahun. Setelah melahirkan, sebelum kembali bekerja • Segera setelah melahirkan, dilakukan IMD minimal selama 1 jam setelah kelahiran. • Susuilah bayi setiap kali ia ingin menyusu (on-demand). Hal ini akan merangsang pembentukan hormon-hormon yang memproduksi dan mengeluarkan air susu. Semakin sering ibu menyusui, ASI akan semakin lancar dan banyak keluar. • Istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan bergizi serta menghindari stress. • Perah ASI bila payudara terasa penuh namun bayi sudah kenyang atau belum ingin menyusu lagi. • Jangan memberikan ASI perah (ASIP) dengan dot atau memberikan empeng pada bayi. Dot dan empeng akan menyebabkan bayi “bingung puting”. Anak menjadi enggan menyusu pada payudara ibu dan mungkin menggigitnya. • Berlatihlah memberikan ASIP dengan menggunakan sendok kecil, pipet, atau gelas sloki. Gendong bayi di pangkuan, posisikan kepala bayi tegak dengan menggunakan tangan untuk menopang bahu dan lehernya. Tempelkan sendok atau sisi gelas sloki pada bibir bayi, miringkan agar ASIP menyentuh bibir bawah bayi dan biarkan bayi menyeruputnya. Jangan menuangkan ASIP ke dalam mulut bayi untuk menghindari kemungkinan tersedak. Ajarilah pengasuh bayi untuk melakukannya juga. 10-cup-feeding-300x225 Gambar: Bayi yang minum ASIP dari gelas kecil Sumber: Setiawan K. 2010. Bayi = Botol dan Dot, Benarkah? Diunduh dari http://aimi-asi.org bayi-botol-dan-dot-benarkah/ • Mulailah “menabung” ASIP sekitar 1 bulan sebelum mulai kembali bekerja dan simpan sesuai cara yang benar. Hal ini agar Anda memiliki cukup stok ASIP pada hari-hari pertama kembali bekerja. • Konfirmasikan dengan atasan waktu Anda mulai bekerja dan mengenai rencana Anda tetap memberikan ASI. Jika memungkinkan, mulailah kembali bekerja pada tengah minggu (Rabu atau Kamis), agar memberikan waktu adaptasi bagi Anda dan bayi, sebab pada hari Sabtu sudah bisa kembali bersama. Saat kembali bekerja • Informasikan ruangan yang akan digunakan memerah ASI kepada rekan-rekan sekantor. • Kenakan baju yang memudahkan Anda memerah ASI. • Susuilah bayi sebelum Ibu berangkat bekerja, sore hari setelah Ibu pulang, dan diteruskan hingga malam hari. Pada hari libur, kembalilah menyusui seperti biasa. Hal ini untuk mempertahankan kontak kulit yang memperkuat ikatan antara ibu dan bayi, serta mempertahankan produksi hormon pembentuk air susu. • Selama di kantor, perahlah ASI setiap 3-4 jam dan simpanlah di kulkas setelah diberi label nama, tanggal dan jam ASI diperah. • ASI yang diperah hari ini dapat disimpan di kulkas untuk diberikan pada bayi keesokan harinya selama ibu sedang bekerja. ASI yang diperah terdahulu diberikan lebih dahulu. Bila ASI yang diperah kemarin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi hingga ibu kembali, dapat digunakan ASIP beku hasil “tabungan” Anda. ASIP beku harus dipindahkan ke kulkas biasa untuk dicairkan dan segera diberikan dalam 24 jam. ASI yang sudah dihangatkan tidak boleh dibekukan kembali atau dikembalikan ke dalam kulkas. Membagi waktu untuk bayi dan pekerjaan bukan hal yang mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan. Agar bayi dapat terus mendapatkan ASI, usaha para ibu harus didukung oleh orang-orang di sekitarnya. Bagi para suami dan anggota keluarga lainnya (misalnya kakek dan nenek bayi), serta para rekan kerja, bantulah calon ibu meraih kepercayaan dirinya bahwa ia dapat menyusui sambil bekerja. Perkaya pengetahuan tentang ASI dan proses menyusui dari sumber-sumber terpercaya agar tidak terjebak mitos yang salah. Referensi: 1. Suradi R, Tobing HKP, eds. 2009. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta: Perkumpulan Perinatologi Indonesia. 2. Hegar B, Suradi R, Hendarto A, Partiwi IGA, eds. 2008. Bedah ASI. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta. 3. Riksani R. 2012. Keajaiban ASI. Jakarta: Dunia Sehat. 4. Setiawan K. 2010. Bayi = Botol dan Dot, Benarkah? Diunduh pada 23 Juli 2013 dari http://aimi-asi.org bayi-botol-dan-dot-benarkah/ 5. WHO. Infant and Young Child Feeding: model chapter for textbooks for medical students and allied health professionals. Jenewa: WHO; 2009.