Tahukah Sobat bahwa setiap bayi mempunyai kebutuhan dasar untuk menghisap sejak dalam kandungan? Bayi menghisap bukan hanya untuk makan namun juga untuk kenyamanan. Hal ini dikarenakan karena pada periode awal setelah kelahiran, fase perkembangan bayi didominasi oleh fase oral (oral=mulut), di mana bayi memperoleh kepuasan lewat mulut. Kebiasaan menghisap ini akan menghilang secara spontan seiring dengan berjalannya waktu. [caption id="attachment_16633" align="aligncenter" width="363"] Refleks Menghisap saat Bayi Masih di Kandungan (Gambar USG 4D)[/caption] Selama beraba-abad, para ibu telah menggunakan benda-benda untuk menentramkan bayi, salah satunya dengan menggunakan empeng atau dot. Namun selama bertahun-tahun, penggunaan empeng ini masih diperdebatkan. Mitos Empeng: Benarkah Ini Fungsinya? Berikut ini adalah beberapa mitos atau konon alasan dari ibu yang menggunakan empeng bagi bayinya:
  1. Ibu ingin mengatur jadwal menyusui. Selama minggu-minggu pertama, bayi menyusui tanpa mengikuti jadwal tertentu, hal ini dikarenakan karena selama periode ini produksi ASI bervariasi dalam jumlah dan komposisi, sehingga bayi akan puas setelah menyusui pada waktu tertentu, sedangkan di lain waktu bayi tetap lapar. Hal ini adalah normal, dan tentunya tidak bisa dikoreksi melalui penggunaan empeng.
  2. Empeng diperkirakan dapat mengurangi nyeri kolik (nyeri yang hilang timbul pada perut) pada bayi. Padahal, salah satu penyebab kolik adalah produksi gas di dalam usus. Sementara itu, penggunaan empeng malah menyebabkan bayi menelan lebih banyak gas, inilah sebabnya kolik pada bayi tidak dapat disembukan dengan empeng.
  3. Empeng dapat menghilangkan kebiasaan bayi menghisap jempolnya. Hal ini juga tidak benar, karena menggunakan empeng berarti menciptakan kebiasaan pada bayi untuk selalu ingin memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
Kekurangan Empeng
Berikut adalah alasan mengapa ibu sebaiknya menghindari penggunaan empeng:
  1. Empeng adalah puting tiruan, yang mana dibutuhkan gerakan dan kekuatan menghisap yang berbeda dengan gerakan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk menghisap lewat puting susu ibu, hal ini dapat mengakibatkan munculnya masalah bingung puting yang berakhir pada berkurangnya produksi asi karena berkurangnya stimulasi pada payudara ibu, lalu akan terjadi penyapihan yang lebih dini. Padahal, World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) menganjurkan pemberian ASI secara eksklusif, yaitu ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Tanda-tanda bingung puting adalah: bayi menghisap puting seperti menghisap dot, menghisap terputus-putus dan sebentar, dan akhirnya bayi menolak menyusu pada payudara ibu.Tindakan yang dapat dilakukan ibu bilamana terjadi bingung puting adalah: jangan mudah memberi PASI, namun berikan ASI dengan sendok atau pipet.
  2. Sangat sulit untuk mempertahankan empeng dalam keadaan bersih selama seharian. Hal ini dapat meningkatkan resiko terkena diare, apalagi jika ibu menyelupkan empeng atau dot ke dalam sirup atau madu.
  3. Pertambahan berat badan menjadi tidak adekuat.
  4. Kerusakan gigi, yaitu gigi tonggos. Hal ini terjadi jika empeng diberikan pada anak yang sudah tumbuh giginya, apalagi jika digunakan dalam jangka waktu yang lama.
  5. Infeksi telinga tengah, terutama jika penggunaannya pada anak yang berusia lebih dari 10 bulan. Hal ini disebabkan karena penggunaan empeng meningkatkan produksi air liur, meningkatkan pertumbuhan jamur, dan memodifikasi tipe bakteri yang ada di mulut, kemudian gerakan menghisap yang konstan memicu perpindahan kuman-kuman tersebut ke dalam teilnga tengah.
  6. Apabila penggunaan empeng tidak dihentikan setelah usia satu tahun, anak akan mengalami keterlambatan dalam berbicara, terutama saat akan mengucapkan huruf yang berasal dari rongga mulut bagian depan seperti huruf S, Z, dan F. Hal ini disebabkan oleh anak yang merasa enggan untuk membuka mulutnya karena takut empengnya terlepas, juga disebabkan oleh karena lidah kaku untuk bergerak ke arah depan.
  7. Dapat menimbulkan ketergantungan. Hal ini karena setelah usia enam bulan empeng berubah fungsi dari suatu alat yang sekedar dapat memberikan kenyamanan menjadi alat yang dapat memberikan rasa aman.
Bisa Berguna Saat....
Lalu, apa sebenarnya keuntungan daripada penggunaan empeng?
  1. Menenangkan dan membantu bayi agar lekas tertidur.
  2. Mengurangi nyeri saat akan dilakukan tindakan di rumah sakit, terutama pada bayi yang berusia di bawah 3 bulan. Misalnya pada kasus: sunat, pengambilan darah, imunisasi, pemasangan infus, pengambilan sumsum tulang, dan skrining penglihatan pada bayi prematur.
  3. Mengurangi ketidaknyamanan pada telinga bayi saat terjadi perubahan tekanan udara saat berada di pesawat terbang.
  4. Pada bayi prematur dapat mempersingkat lama perawatan di rumah sakit dan mempercepat kemampuan bayi menyusui lewat botol susu.
  5. Mengurangi resiko terjadinya sudden infant death syndrome (SIDS). Hal ini mungkin disebabkan oleh karena empeng dapat mencegah bayi tidur dalam posisi tengkurap, menjaga jalan napas bayi, mengurangi bayi gumoh, dan meningkatkan usaha napas bayi.
Dapat disimpulkan bahwa, hanya sedikit indikasi penggunaan empeng atau dot jika dibandingkan dengan masalah yang bisa ditimbulkan. Oleh karena itu, sejak awal disarankan agar sebaiknya anak tidak diperkenalkan pada empeng. Bila Empeng Memang Dirasa Perlu Namun, jika ibu tetap ingin menggunakan empeng atau dot, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
  1. American Association of Pediatrics (AAP) merekomendasikan bahwa bayi yang menyusui langsung pada payudara ibu boleh menggunakan empeng setelah berusia satu bulan dan sampai bayi telah benar-benar bisa menyusu langsung pada ibu.
  2. Biarkan bayi menentukan sendiri, kapan ia mau menggunakan empeng. Jangan dipaksakan dari orang tua untuk menggunakan empeng tersebut.
  3. Sebaiknya hentikan penggunaan empeng ketika bayi berusia 6-10 bulan, namun penggunaan empeng sudah pasti harus dihentikan setelah usia empat atau enam tahun, yaitu sebelum gigi permanen tumbuh.
  4. Digunakan hanya sebentar (tidak seharian) terutama saat tidur di siang atau malam hari.
  5. Harus benar-benar memperhatikan cara pembersihannya, yaitu dengan menggunakan air dan sabun dan sesekali disiram dengan air panas.
  6. Jangan mencelupkan empeng ke dalam pemanis seperti sirup atau gula.
  7. Jangan memaksa bayi supaya mau menggunakan empeng dan jangan memasukkan kembali empeng ke mulut bayi saat bayi sudah tertidur.
  8. Jangan gunakan tali untuk menggantung empeng, karena dapat menyebabkan bayi terjerat secara tidak disengaja.
  9. Lebih baik gunakan dot ortodontis yang dibuat khusus untuk membantu perkembangan susunan gigi.
  10. Empeng yang terbuat dari silikon atau bahan food grade lebih baik daripada yang terbuat dari lateks.
  11. Sering-sering ganti empeng si kecil, sesuaikan dengan usianya. Juga periksa secara rutin, apakah ada yang retak, pecah, atau lubang yang dapat dimasuki kuman, sehingga harus segera diganti dengan yang baru.
Tips Bagi Orang Tua
Apa tips bagi para orang tua yang ingin mencari alternatif selain empeng atau jika ingin “menyapih” anaknya dari empeng?
  1. Pada bayi yang masih kecil: memberikan jari ibu yang telah dibersihkan untuk dihisap, memeluk, mengayun-ayun, menyanyikan, memijat, dan menyetel musik yang lembut untuk memberi kenyamanan pada bayi.
  2. Pada bayi yang lebih besar: mengalihkan perhatian si kecil dengan aktifitas lain atau dengan mainan, atau bisa juga dengan membubuhkan rasa yang tidak enak pada empeng.
  3. Pada balita atau anak yang lebih besar: Menunjukkan pada si kecil anak lain yang lebih tua yang tidak memakai empeng, mengadakan upacara pelepasan empeng, atau dengan cara menukar empengnya dengan mainan atau buku yang disukai si kecil.
Pada akhirnya, setiap ibu harus benar-benar memahami bahwa tugas mulianya adalah hamil, melahirkan, dan menyusui. Sementara itu ibu dapat bekerja sama dengan suami dalam mengurus dan mendidik si kecil.Tidak ada yang bisa menggantikan payudara ibu sebagai sumber kenyamanan bagi bayi. Ibu tentunya menginginkan bayinya belajar mencari kenyamanan dari manusia, bukan plastik. Kebutuhan bayi untuk menghisap akan berangsur menghilang seiring dengan perjalanan waktu. Selama itu, nikmatilah saat-saat menggendong bayi dan menyusui langsung melalui payudara ibu. Referensi
  1. Behrman R.E., Kliegman R.M., Jenson H. B., Stanton B.F. 2007. Nelson Textbook of Pediatrics, 18th edition. Pennsylvania: Saunders.
  2. Sexton S., Natale R. 2009. Risk and Benefits of Pacifiers. American Family Physician, Vol. 79, Number 8.
  3. http://jada.ada.org. 2007. Thumb Sucking and Pacifier Use. American Dental Association. JADA, Vol. 138.
  4. Widiasih R. 2008. Makalah Seminar Manajemen Laktasi, Masalah-Masalah Dalam Menyusui. Bandung: Universitas Padjadjaran, Fakultas Ilmu Keperawatan.
  5. http://m.digitaljournal.com. Goessl L. 2012. Researchers Study Link Between Breastfeeding and Pacifiers.
  6. http://www.idai.or.id.
  7. http://www.mayoclinic.com