Obesitas pada anak belum lama menjadi sorotan permasalahan gizi pada anak.  Hal ini disebabkan karena komplikasi obesitas pada anak yang dapat ditimbulkan lebih kompleks dibandingkan dengan obesitas pada orang dewasa, mengingat anak yang masih terus tumbuh dan berkembang, serta menjadi hal penting karena anak merupakan generasi penerus. Di Indonesia terutama di kota besar prevalensi obesitas pada anak dari tahun ke tahun semakin bertambah. Secara umum, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) menunjukkan peningkatan prevalensi obesitas pada balita baik di  pedesaan maupun perkotaan.1,2 Selain itu, berikut data dari sekian banyak studi yang menyebutkan meningkatanya angka obesitas pada anak:  
  1. Riskesdas pada tahun 2010, 17.9% masyarakat di Indonesia berstatus penderita gizi kurang dan gizi buruk (menurun dari 31.0% tahun 1990) namun di saat yang sama, 14 % balita di Indonesia berstatus obesitas/gizi lebih (meningkat dari tahun 2007 sebesar 12,2 %).3
  2. Data yang dipublikasikan pada tahun 2012 awal oleh SEANUTS ( South East Asian Nutrition Surveys) yang dilakukan di 4 negara; Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam menyatakan gizi buruk masih merupakan masalah utama di Indonesia namun obestias adalah masalah yang juga mulai muncul di negara ini.3
  3. Data WHO, kasus obesitas di seluruh dunia bertambah lebih dari dua kali lipat sejak 1980. Pada tahun 2008, lebih dari 200 juta orang laki-laki dan hampir 300 juta perempuan mengalami obesitas, serta hampir 43 juta anak dibawah usia 5 tahun kelebihan berat badan pada tahun 2010.4
  4. Sebuah survei nasional di Spanyol menyingkapkan bahwa 1 dari setiap 3 anak kelebihan berat badan atau obesitas. 5
  5. Studi di Australia menyebutkan hanya dalam waktu sepuluh tahun (1985-1995), obesitas pada anak naik tiga kali lipat di Australia.5
  6. Para peneliti dari University Medical Centre di Amsterdam (2005-2007) mempresentasikan dalam Archives of Disease in Childhood menyimpulkan, sekitar 62% anak-anak di bawah 12 tahun yang sangat gemuk atau obesitas sudah memiliki 1 atau lebih faktor risiko dari kardiovaskular.2,6 Sekitar dua pertiganya memiliki tekanan darah tinggi, memiliki kadar kolesterol baik yang sedikit, serta memiliki kadar gula darah tinggi yang bisa mengakibatkan DM tipe 2.2
  7. Menurut Satuan Tugas Obesitas Internasional, di beberapa bagian Afrika, lebih banyak anak yang mengalami obesitas ketimbang malnutrisi.5
  8. Pada tahun 2007, Meksiko menempati urutan kedua di dunia, setelah Amerika Serikat, untuk obesitas pada anak. Konon di Mexico City saja, 70 persen anak dan remaja kelebihan berat badan atau obesitas. Ahli bedah anak Dr. Francisco memperingatkan bahwa generasi ini mungkin adalah ”generasi pertama yang akan mati sebelum orang tua mereka akibat komplikasi obesitas”.5
Obesitas adalah akumulasi jaringan lemak dibawah kulit yang berlebihan dan terdapat di seluruh tubuh. Secara klinis obesitas mempunyai tanda dan gejala yang khas, yaitu: wajah membulat, pipi tembem, dagu rangkap, leher relatif pendek, dada mengembung dengan payudara yang membesar mengandung jaringan lemak, perut membuncit, kedua tungkai pada umumnya berbentuk x. Pada anak laki laki penis tampak kecil karena terkubur dalam jaringan lemak supra-pubik, pada anak perempuan indikasi menstruasi dini.1 Obesitas pada anak akan menyebabkan masalah kesehatan yang timbul di saat dewasa, seperti
  1. Penyakit jantung
  2. Resistensi terhadap insulin sehingga menyebabkan ia rentan terhadap penyakit diabetes
  3. Penyakit muskuloskeletal (penyakit otot dan tulang) terutama osteoarhtritis atau penyakit radang sendi yang degeneratif
  4. Penyakit kanker, misalnya kanker endometrium, kanker payudara dan kanker usus besar
  5. Disabilitas
  Berikut fakta-fakta yang terkait dengan resiko obesitas pada anak 1. Fakta : Genetik Sebuah penelitian mengatakan bahwa jika ibu biologis mengalami obesitas, maka keturunannya memiliki peluang 75% mengalami obesitas juga.6,7   2. Fakta : Diet Dalam hal ini ada 2 poin penting yang diperhatikan yaitu:
  • Perubahan tren makan dengan makanan cepat saji atau junkfoodDalam artikel Mayo Clinic, Amerika Serikat mengatakan, kelebihan berat badan disebabkan oleh terlalu banyak makan akibat perubahan tren dalam kebiasaan makan, hal ini dipengaruhi oleh peran orang tua yang memiliki lebih sedikit waktu dan energi untuk menyiapkan makanan, santapan cepat saji semakin lazim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir sepertiga dari semua anak usia 4 hingga 19 tahun di Amerika Serikat menyantap makanan cepat saji setiap hari. Makanan seperti itu biasanya tinggi kadar gula dan lemaknya dan ditawarkan dalam ukuran besar yang menggiurkan.5,6,7
  • Konsumsi minuman ringan tanpa diimbangi dengan aktivitas fisikSelain itu, minuman ringan sudah lebih populer ketimbang susu dan air. Misalnya, setiap tahun, orang Meksiko membelanjakan lebih banyak uang untuk minuman ringan, daripada untuk gabungan sepuluh makanan pokok. Menurut buku Overcoming Childhood Obesity, menenggak minuman ringan 600 mililiter saja setiap hari dapat menaikkan berat badan sebanyak 11 kilogram dalam waktu setahun.
  3. Fakta : Kurangnya aktivitas fisik Ini berarti kurang kalori yang dibakar, kegiatan yang lazim yaitu misalnya menonton televisi, bermain games. Salah satu penelitian University of Glasgow, Skotlandia menyatakan anak usia 3 tahun pada umumnya setiap hari melakukan ”gerak badan ringan hingga berat” selama 20 menit saja. Hal ini tidak cukup bermakna untuk pembakaran kalori anak ketimbang dengan makannya yang berlebih.5,6   4. Fakta : Faktor Psikologi Beberapa anak memakan lebih banyak karena adanya gangguan emosi seperti stres atau sekedar bosan.6   5. Fakta : Faktor sosio-ekonomi Makanan yang tersedia dengan harga  tidak terlalu mahal biasanya yang cepat dan mudah seperti frozen meals, crackers dan cookies, makanan ini biasanya tinggi lemak dan garam yang berperan dalam penambahan berat badan. Selain itu, dengan keterbatasan biaya, keluarga kurang dapat punya kesempatan untuk rekreasi dengan aktivitas fisik ataupun ke pusat kebugaran.6 Bertindak sekarang! Badan Kesehatan Dunia atau WHO, menghimbau agar keluarga terutama orang tua lebih pintar dan cermat dalam memilih makanan yang sehat bagi anak-anaknya. Hal ini disebabkan karena preferensi atau kecenderungan untuk menyukai makanan tertentu dibentuk sejak awal masa kanak-kanak dan saat ini orang tualah yang menjadi pengambil keputusan terpenting. Memberikan anak-anak balita makanan yang tinggi kalori, tinggi lemak, tinggi gula dan tinggi kadar garam/natrium merupakan kontribusi utama obesitas di masa kanak-kanak. Para orang tua, terutama ibu harus paham mengenai nutrisi pada anak-anak dan harus membongkar kebiasaan lama yang mengatakan anak yang sehat adalah anak yang gemuk. Adanya mitos inilah yang juga menyebabkan orang tua cenderung memberikan asupan makanan berlebihan kepada anak-anaknya. Selain itu, di tengah dunia modern ini, orang tua juga harus bisa memilah-milah dengan cermat makanan dan minuman bagi sang buah hati, jangan hanya terbujuk oleh iklan-iklan produsen makanan atau minuman yang tinggi kalori tanpa tahu akibatnya. Tips bagi para orang tua:
  1. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan
  2. Bagi balita yang mulai makan makanan padat, batasi asupan kalori yang didapat dari gula dan lemak total
  3. Tingkatkan konsumsi buah, sayur, kacang-kacangan dan serealia
  4. Pastikan anak-anak Anda melakukan aktivitas fisik selama 60 menit setiap harinya. Ajaklah anak untuk bermain di luar ruangan ketimbang menonton TV atau bermain game
Obesitas bukanlah masalah sederhana yang mudah dipecah, oleh karena itu WHO juga mendorong para industri pangan untuk juga turut mengambil bagian dalam menurunkan angka kejadian obesitas pada anak, yaitu dengan:
  • Mengurangi kadar kandungan lemak, gula dan natrium dalam makanan kemasan untuk anak balita dan anak-anak
  • Memastikan ketersediaan pilihan yang sehat dan bernutrisi yang terjangkau bagi semua konsumen mereka
  • Melakukan praktik pemasaran yang akuntabel dan berintegritas terutama pada pemasaran yang menargetkan pada orang tua balita dan anak-anak.
Bersama-sama kita bisa perangi obesitas pada anak demi masa depan yang lebih sehat!   Daftar Pustaka
  1. Budiwarti, Y. Endang, SKM,MPH. Gizi pada Anak Obesitas. [internet] 2012. [cited May 29 2014]. Available from  http://www.rscm.co.id/index.php?bhs=in&id=GIZ0000001
  2. Anonymous. Fakta Penaykit Jantung pada Anak. [internet] 2014. [cited May 29 2014]. Available from http://www.parenting.co.id/article/mode/fakta.penyakit.jantung.pada.anak/001/003/640
  3. Gabriella, J. Hartono, dr. Laporan  Gizi di Awal Tahun 2014 : Kurus vs Obesitas. [internet] 2012. [cited May 29 2014]. Available from http://www.tanyadok.com/anak/laporan-gizi-di-awal-tahun-2014-kurus-vs-obesitas
  4. Agtadwimawanti, Nur Resti. Fakta Tentang Obesitas dan Kegemukan. [internet] 2012. [cited May 29 2014]. Available from  http://intisari-online.com/read/fakta-tentang-obesitas-dan-kegemukan
  5. Mahadikawati, Ika. Obesitas  pada Anak. [internet] 2012. [cited May 28 2014]. Available from http://mediasehat.com/konten7no107
  6. Anonymous, Mayo Clinic Staff. Childhood Obesity. [internet] 2014 [cited May 28 2014]. Available from http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/childhood-obesity/basics/causes/con-20027428
  7. Anonymous. Obesitas – Fakta, Penyebab dan Resikonya.  [internet] 2014 [cited May 28 2014]. Available from Obesitas – Fakta, Penyebab dan Resikonya
  8. Facts and figures on childhood obesity. [homepage on the Internet]. 2014 [cited 2014 Jun 11]. Available from: WHO, Web site: Facts and figures on childhood obesity