Siapa sih yang tidak tahu mengenai sakit campak? Mungkin anak anda atau anda pernah mengalaminya. Tapi apa sebenarnya sakit campak itu? Bagaimana mengobati dan mencegahnya? Apa benar mitos yang beredar seputar campak ini? Kali ini kita akan membahasnya. Apa itu sakit campak? Campak atau dikenal juga dengan nama morbilli, rubeola atau measles ini adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Virus yang dimaksud disini adalah morbillivirus dari keluarga Paramyxoviridae. Penyakit ini masih merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian pada anak-anak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia dan insiden tertinggi usia terkena campak adalah pada anak usia 1-2 tahun. Banner_e-Book_p3kanak Bagaimana penularan campak ini? Campak merupakan penyakit yang sangat menular. Penularan terjadi melalui kontak dengan droplet atau cairan tubuh yang mengandung virus dan melalui udara. 90% anak yang berkontak dengan penderita campak akan tertular juga. Apa gejala dari campak ini? Penyakit ini memiliki tiga fase klinis yaitu : Fase inkubasi yaitu waktu yang diperlukan dari saat terpapar penyakit hingga muncul gejala pertama. Masa inkubasi virus campak bervariasi antara 6-12 hari. Dan yang penting adalah hari ke 9-10 setelah terinfeksi adalah saat penularan penyakit tertinggi. Fase prodormal. Fase ini biasa berlangsung 3-5 hari dan ditandai dengan gejala :
  • Demam ringan
  • Batuk
  • Pilek
  • Konjungtivitis yang ditandai dengan mata merah dan berair serta photophobia.
  • Bercak koplik (koplik spots). Bercak ini merupakan tanda khas terkena campak. Bercak ini terdapat pada langit-langit mulut berupa titik-titik putih keabu-abuan, berukuran sekecil butiran pasir dengan bagian tengah kemerahan yang kemudian dapat menyebar ke seluruh mukosa mulut dan bibir. Bercak ini biasanya menghilang dalam 12-18 hari.
Fase akhir. Fase ini ditandai dengan demam tinggi mendadak bahkan dapat mencapai 40 derajat C dan munculnya bercak-bercak kemerahan pada kulit. Bercak biasanya bermula dari belakang telinga dan leher di sepanjang garis rambut, kemudian menyebar muka, leher, lengan dan dada dalam 24 jam pertama. Lalu bercak menjadi semakin jelas dan terus menyebar ke perut, punggung, dan kaki dalam 2-3 hari. Pada fase ini mungkin penderita akan terlihat sangat menderita tetapi setelah bercak keluar dan demam turun, maka dalam 24-36 jam kemudian pasien akan membaik dengan sendirinya. Bercak sendiri akan menghilang sesuai dengan urutan muncul dalam waktu 7-10 hari setelahnya. Keparahan dari gejala yang timbul tergantung dari usia penderita dan tingkat imunitasnya. Semakin kecil usia saat terkena maka akan semakin hebat gejalanya, dan semakin rendah daya tahan tubuhnya (misalnya penderita HIV) maka semakin hebat gejalanya. Bagaimana pengobatan campak ini? Karena penyebab campak adalah virus, maka disebut self-limiting disease (dapat sembuh sendiri) karena itu kesembuhan sangat tergantung pada daya tahan tubuh penderitanya. Pengobatan hanya bersifat suportif berupa :
  • Istirahat, sebaiknya pasien ditempatkan pada ruangan hangat dan lembab serta hindari paparan sinar yang kuat. Biasanya anak anda akan dirawat dalam ruang isolasi untuk mencegah penyebaran penyakit hingga empat hari setelah bercak muncul, setelah itu anak dapat beraktivitas biasa.
  • Obat penurun panas.
  • Asupan cairan yang cukup.
  • Vitamin A (100.000IU untuk usia 6 bulan- 1 tahun, dan 200.000IU untuk usia > 1 tahun). Vitamin A diberikan bila usia anak 6 bulan sampai 2 tahun saat terkena campak, atau anak dengan daya tahan tubuh rendah atau memiliki penyakit yang menghalangi penyerapan vitamin A.
Kenapa sih kita mesti waspada terhadap campak? Karena komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh si campak ini. Komplikasi timbul pada 5-15% dari keseluruhan kasus campak. Komplikasi yang dapat muncul adalah otitis media (radang telinga), pneumonia (radang paru), laryngitis, dan eksaserbasi (munculnya infeksi dari kuman yang dorman) Tuberkulosis. Tapi yang paling ditakutkan adalah komplikasi pada system saraf anak, komplikasi tersebut berupa ensefalitis/radang otak (paling sering), sindroma Guillain-Barré, kelumpuhan, neuritis retrobulbar/radang saraf mata (jarang terjadi). Biasanya kematian timbul akibat komplikasi yang timbul. Bagaimana mencegah campak? Vaksin adalah cara untuk mencegah campak. Bahkan di Indonesia, setiap anak wajib untuk imunisasi campak saat anak berusia 9 bulan. Vaksin yang diberikan dapat hanya campak saja yaitu saat usia 9 bulan (cukup sekali saja), atau gabungan campak, gondongan, dan campak jerman (MMR) saat usia 12-15 bulan. Untuk vaksin MMR, akan diberikan dosis kedua saat anak berusia 4-6 tahun. Orang dewasa dapat mengulang imunisasi campak saat masuk kuliah atau saat mau bekerja. Vaksin campak tidak boleh diberikan pada :
  • Ibu hamil
  • Anak dengan imunitas rendah
  • Penderita tuberculosis yang belum berobat
  • Penderita kanker
  • Penerima organ transplantasi
  • Sedang menerima terapi imunosupresif
  • Penderita HIV
Apakah setelah divaksinasi masih bisa terkena campak? Campak adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Hampir 95% anak yang mendapat vaksin tidak akan terkena campak, jadi kecil kemungkinan terkena lagi. Tetapi kadar kekebalan tubuh terhadap virus campak semakin menurun seiring bertambahnya usia, karena itu vaksin diulang lagi saat dewasa. Bila tidak diulang maka kemungkinan terkena lagi akan ada. Apa benar kalau sudah terkena campak sekali tidak akan terkena lagi? Hal ini memang benar, karena sekali terkena maka tubuh akan memiliki imunitas terhadap virus jadi tidak akan terkena lagi. Benarkah vaksin MMR menyebabkan anak autis? Jawabannya adalah tidak. Menurut penelitian, tidak ada hubungan antara vaksin MMR dengan timbulnya autis pada anak. Apa anak dengan campak boleh mandi? Tentu saja boleh, hanya saja sebaiknya mandi dengan air hangat. Apa ada cara mencegah timbulnya campak atau mengurangi parahnya gejala yang muncul dan komplikasinya setelah  terpapar dengan penderita campak? Jawabannya adalah ada. Anda atau anak anda dapat melakukan penyuntikan intravenous immunoglobulin (IVIG) dalam waktu < 6 hari setelah terpapar. Tapi walaupun gejala yang muncul menjadi ringan, anda tetap saja menjadi sumber penularan bagi orang lain. Jadi berhati-hatilah. Sumber : Richard E., Md. Behrman, dkk. 2003. Nelson Textbook of Pediatrics 17th edition. W B Saunders. Anne Gershon dkk. 2003. Krugman's Infectious Diseases of Children 11th edition. Mosby http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001569.htm