Setiap orangtua tentunya mengingkan anaknya tumbuh sehat dan berkembang optimal. Semakin banyaknya informasi tentang manfaat ASI membuat semakin banyak ibu mau berkomitmen untuk memberikan ASI eksklusif (memberikan ASI saja tanpa disertai makanan tambahan) hingga 6 bulan pada anaknya, sesuai dengan rekomendasi WHO dan UNICEF. Namun kenyataannya, berbagai kendala dapat dialami dalam upaya memberikan ASI eksklusif tersebut. Perlu motivasi yang kuat dari kedua orangtua bayi, pengetahuan dasar yang baik akan proses menyusui, serta semangat untuk tidak menyerah untuk dapat sukses memberikan ASI eksklusif. Para ibu sering kali bertanya-tanya, cukupkah ASI saya? Benarkah produksi ASI benar-benar kurang atau hanya kekhawatiran ibu semata? Jangan buru-buru memberikan susu formula. Yuk, kita pelajari cara menilai kecukupan ASI. Kecukupan pemberian ASI dapat dinilai dari urine, kenaikan berat badan, dan perilaku bayi. Tanda-tanda bayi telah mendapat asupan ASI yang cukup adalah: - Buang air kecil minimal 6 kali sehari (ganti popok 5 – 6 kali sehari) dengan warna urine yang tidak pekat dan bau tidak menyengat. - Berat badan telah melebihi berat lahir pada usia 2 minggu, dan seterusnya naik lebih dari 500 gram dalam sebulan. - Bayi tampak tenang dan puas setelah menyusu, dan melepaskan sendiri puting payudara ibu. Bila bayi Anda menunjukkan tanda-tanda di atas, artinya ia telah mendapatkan cukup ASI. Anda tidak perlu khawatir mengalami produksi ASI yang kurang atau menambahkan susu formula bagi bayi Anda. Sebetulnya, lambung bayi yang baru lahir berukuran sangat kecil, hanya sebesar ruas kelingking kita. Oleh karena itu, produksi susu yang sedikit di hari-hari pertama setelah kelahiran adalah hal yang wajar. Bahkan, bayi baru lahir telah memiliki cadangan energi yang cukup untuk dirinya selama 48-72 jam pertama kehidupan, seandainya tidak mendapat asupan makanan. Pada dasarnya, perlekatan yang baik adalah kunci kecukupan ASI. Perlekatan yang tidak benar akan menimbulkan rasa nyeri pada payudara, dan ASI tidak dapat dikeluarkan secara efektif. Akibatnya, bayi tidak mendapatkan cukup ASI, dan produksi ASI menurun karena banyak ASI yang tertampung di payudara dan tidak dapat keluar. Untuk mendapatkan perlekatan yang baik, bayi diposisikan datang dari arah bawah payudara, hidung bayi berhadapan dengan puting susu. Dagu bayi menjadi titik pertemuan, yaitu bagian pertama yang menempel pada payudara. Anda dapat merangsang bayi membuka mulut dengan menyentuhkan puting ke pipi atau sekitar mulut bayi. Ketika bayi membuka mulut, arahkan puting ke arah langit-langit mulut bayi. Bila proses ini dijalani dengan benar, akan didapat perlekatan yang baik, yang ditandai dengan: - Bayi tampak tenang, posisi kepala agak menengadah - Badan bayi menempel pada perut ibu, telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis lurus - Dagu bayi menyentuh payudara, bayi tampak mengisap kuat dengan perlahan - Mulut bayi terbuka lebar, sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi - Bibir bawah berputar keluar - Lebih banyak areola bagian atas yang terlihat dibanding bagian bawah - Tidak menimbulkan rasa sakit pada puting susu. Bayi harus disusui sesering mungkin, sesuai keinginan bayi. Pada awalnya, bayi akan menyusu sangat sering, karena lambungnya masih berukuran kecil, sehingga bayi cepat kenyang namun cepat kembali lapar. Frekuensi menyusu pun belum teratur. Setelah usia 2 minggu, lambung bayi mulai membesar dan ASI yang keluar setiap kali menyusui semakin bertambah, sehingga frekuensi bayi menyusu mulai lebih teratur. Yang penting, bayi disusui sesering mungkin, termasuk pada malam hari, sebab proses pembentukan dan pengeluaran ASI diatur oleh hormon prolaktin dan oksitosin yang diproduksi ketika puting susu dihisap oleh bayi. Menyusui di malam hari membantu mempertahankan suplai ASI, sebab prolaktin dikeluarkan terutama pada malam hari. Produksi ASI akan bertambah banyak seiring berjalannya waktu, semakin sering menyusui, semakin banyak pula ASI yang diproduksi, sesuai dengan pertambahan kapasitas lambung bayi. Lamanya bayi menyusu dapat berbeda-beda. Bayi yang kenyang akan melepaskan sendiri puting payudara ibu, sehingga jangan mencabut puting dari mulut bayi yang masih menyusu. Rata-rata bayi menyusu selama 5 – 15 menit, bahkan lebih. Pada hari-hari pertama setelah kelahiran atau pada bayi dengan berat badan lahir rendah, proses menyusu bisa sangat lama dan hal ini wajar. Bila bayi menyusu terlalu cepat (kurang dari 5 menit) atau terlalu lama (lebih dari 30 menit), hal ini mungkin menandakan adanya masalah. Datanglah ke klinik laktasi bila Anda mengalami masalah sehubungan proses menyusui. Komposisi ASI yang keluar di awal dan di akhir menyusui berbeda. Foremilk, yaitu ASI yang keluar pada 5 menit pertama, mengandung kadar protein dan karbohidrat yang tinggi, yang penting untuk pertumbuhan bayi. Namun, kadar lemak pada foremilk rendah. Sebaliknya, hindmilk, yaitu ASI yang dihasilkan pada akhir menyusui (setelah sekitar 15 menit), mengandung sedikit karbohidrat dan protein, serta mengandung lemak yang tinggi, 3 kali lipat dari foremilk. Hindmilk inilah yang akan memberikan rasa kenyang bagi bayi. Karena itu, penting untuk membiarkan bayi menyusu sampai selesai agar ia mendapat seluruh manfaat ASI. Ibu dapat menawarkan payudara sebelahnya bila bayi masih ingin menyusu. Saat menyusui berikutnya, mulailah dari payudara yang terakhir atau belum disusukan.   Referensi: 1. Suradi R, Tobing HKP, eds. 2009. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta: Perkumpulan Perinatologi Indonesia. 2. Hegar B, Suradi R, Hendarto A, Partiwi IGA, eds. 2008. Bedah ASI. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta. 3. Riksani R. 2012. Keajaiban ASI. Jakarta: Dunia Sehat. 4. WHO. Infant and Young Child Feeding: model chapter for textbooks for medical students and allied health professionals. Jenewa: WHO; 2009. 5. Latching Baby On. http://ottawa.ca/en/residents/public-health/pregnancy-and-babies/latching-baby