Autisme adalah suatu bagian dari spektrum gangguan tumbuh kembang yang ditandai dengan gangguan interaksi sosial, komunikasi, serta minat dan aktivitas yang terbatas dan berulang. Autisme tersering mulai terdeteksi pada usia 18-30 bulan, kebanyakan pada anak laki-laki. Penyebab autisme belum diketahui secara pasti, namun para ahli berpendapat bahwa proses yang menyebabkan autisme dimulai sejak sebelum lahir, dan faktor genetik diduga berperan dalam hal ini, salah satunya dengan adanya struktur otak abnormal yang ditemukan sejak bayi masih dalam kandungan pada masa awal kehamilan. MMR adalah suatu vaksin yang memberikan perlindungan terhadap penyakit measles (campak), mumps (gondongan/parotitis), dan rubella (campak Jerman). Insiden ketiga penyakit ini masih sangat tinggi di Indonesia, merupakan penyakit infeksi yang berpotensi menyebabkan berbagai komplikasi yang berat bagi anak, dewasa, maupun ibu hamil, dan dapat menimbulkan cacat permanen. Jadwal pemberian pertama vaksinasi MMR adalah usia 15-18 bulan, sedikit sebelum usia tersering autisme terdeteksi (18-30 bulan). Kebetulan ini seringkali membuat orangtua salah memahami dan menduga bahwa vaksinasi MMR-lah penyebab autisme yang terjadi pada putra atau putrinya. Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah bahwa MMR berkaitan dengan autisme. Kehebohan bahwa vaksinasi MMR menyebabkan autisme dilatarbelakangi oleh laporan Dr. Andrew Wakefield dan kawan-kawan tahun 1998, yang meneliti 12 anak dengan penurunan kemampuan tumbuh kembang. Pada saat itu orangtua diminta mengingat apakah anak pernah diberikan vaksin MMR. Hanya berdasarkan data beberapa anak inilah Wakefield melaporkan adanya kaitan antara imunisasi dengan autisme. Saat ini para penulis lain yang saat itu ikut berpartisipasi dalam publikasi artikel tersebut, sudah mengeluarkan pernyataan menarik kembali tulisan mereka. Wakefield menolak menarik kembali tulisannya dan mendapat sanksi dari Konsil Kedokteran atas tulisan yang “tidak jujur” dan “tidak bertanggung jawab”. Selain itu baru diketahui bahwa beberapa tahun sebelum penelitian dipublikasikan, Wakefield pada tahun 1996 menerima sejumlah uang dari beberapa pengacara yang berencana menuntut produsen vaksin MMR, untuk membiayai penelitian tersebut, sehingga tentu objektivitas penelitian diragukan. Saat ini kasus Wakefield MMR dan autisme ini sedang dalam proses pengadilan. Suatu penelitian baru dapat dipercaya apabila hasilnya sama saat dilakukan kembali oleh berbagai peneliti. Sejak penelitian Wakefield, puluhan penelitian skala besar selanjutnya sama sekali tidak menemukan antara MMR dengan autisme. Suatu penelitian tahun 2002 pada 537.303 anak yang lahir di Denmark antara 1991-1998 sama sekali tidak menemukan perbedaan tingkat autisme pada 440,655 anak yang divaksinasi MMR dan yang tidak. Penelitian di British Medical Journal awal tahun 2011 ini juga menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan insiden autisme saat ini dibandingkan dengan saat MMR belum diberikan. The Telegraph, surat kabar Inggris, mengatakan bahwa kejadian ini merupakan suatu ‘teror’ kesehatan yang konyol dan tidak perlu terjadi dalam sejarah kedokteran. Yang jelas, isu ini telah dan menimbulkan ketakutan yang tidak perlu baik di kalangan orangtua maupun para dokter anak. Tingkat imunisasi MMR terjun bebas (Gambar 1), dan sebagai konsekuensinya insidens penyakit yang seyogyanya dilindungi oleh MMR mendadak melejit, salah satunya campak (Gambar 2). [caption id="attachment_11502" align="aligncenter" width="413" caption="Gambar 1"][/caption] [caption id="attachment_11503" align="aligncenter" width="354" caption="Gambar 2"][/caption] Perlindungan bagi anak dan komunitas merupakan tanggung jawab bersama. Seorang anak yang diimunisasi bukan hanya melindungi dirinya sendiri, namun juga anak-anak lain di lingkungan tempat tinggal dan sekolahnya dari risiko komplikasi penyakit yang berat. Jadi, untuk para ayah dan ibu, semoga tidak khawatir lagi untuk melindungi anak dari campak (measles), gondongan (mumps), dan campak Jerman (rubella).