Mencegah lebih baik daripada mengobati, pepatah ini sudah lama beredar di masyarakat bahkan sejak dari zaman nenek moyang kita. Mengucapkannya memang mudah, tapi pelaksanaannya tidaklah semudah pengucapannya. Dibutuhkan kemauan dan pengetahuan untuk pencegahan yang baik dan efektif. Banyak hal yang harus dilakukan, mulai dari pola hidup yang sehat, olahraga teratur hingga rajin memeriksakan diri ke dokter. Akan tetapi ada cara lain yang ditawarkan untuk mencegah terkenanya penyakit, yang dikenal sebagai vaksinasi atau imunisasi. Seberapa efektifkah sebenarnya vaksinasi ini? Kapan waktu yang tepat? Apa efek sampingnya?

Vaksinasi atau imunisasi adalah pemberian vaksin ke dalam tubuh seseorang untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Vaksin sendiri dapat berupa kuman yang dilemahkan atau kuman yang telah mati atau protein/toxoid (racun) kuman tersebut. Kekebalan dapat muncul karena vaksin yang dimasukkan akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi terhadap vaksin tersebut, sehingga apabila kelak Anda terpapar kuman yang sama maka tubuh Anda telah memiliki senjata, yaitu antibodi yang menangkalnya dan mencegah Anda terinfeksi. Periode waktu untuk memberi vaksinasi tidak dibatasi, tapi akan lebih baik bila dilakukan sejak dini atau bayi hingga perlindungan telah ada sejak awal masa perkembangan, hal ini disebabkan karena anak-anak lebih rentan terhadap infeksi penyakit dan efek sisa penyakit yang ditimbulkan dapat mempengaruhi anak tersebut hingga dewasa.

Pemberian vaksinasi dapat dilakukan sekali saja untuk satu penyakit, tetapi dapat pula berulang kali dalam jangka waktu tertentu untuk menjaga kadar antibodi minimal dalam tubuh agar dapat melawan kuman yang masuk, atau setelah Anda sempat terpapar oleh penyakit tersebut tapi belum ada gejala penyakit yang timbul. Karena itu penting untuk menepati jadwal vaksinasi yang telah ditentukan untuk mencapai hasil maksimal. Kemudian jika Anda bertanya, “mengapa vaksinasi ini penting?. Vaksinasi penting karena vaksinasi dapat memberikan perlindungan menyeluruh terhadap diri Anda/anak Anda terhadap penyakit-penyakit tertentu dan perlindungan yang ditimbulkan bersifat jangka panjang.

Sebelum melakukan vaksinasi, tentu ada kondisi-kondisi tertentu yang harus dipenuhi untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan. Kondisi tersebut adalah :

  1. Anda atau anak Anda dalam keadaan sehat (tidak sedang menderita penyakit) terutama bila ada serangan demam
  2. tidak pernah ada riwayat kejang sebelumnya
  3. tidak memiliki penyakit sistem saraf

Bila ketiga hal ini tidak ditemukan maka vaksinasi dapat dilakukan dengan pengharapan hasil yang optimal.

Vaksinasi dibagi menjadi vaksinasi yang diwajibkan (karena penyakit yang ditimbulkan berbahaya) misalnya BCG, hepatitis B, DPT, Polio, dan campak, dan vaksinasi yang dianjurkan (karena penyakit yang ditimbulkan kurang berbahaya dan biasanya dapat diatasi sendiri oleh sistem kekebalan tubuh secara alamiah misalnya MMR, HiB, hepatitis A, dan cacar air.

Vaksinasi BCG (Bakteri Calmette-Guerin)

Vaksin ini berguna untuk melindungi Anda dari komplikasi yang parah dari Tuberkulosis (TBC). Vaksin ini memang tidak mencegah Anda terkena penyakit TBC tapi dapat melindungi dari keparahan penyakit yang ditimbulkan, sehingga berguna terutama untuk daerah endemik (kekerapan penyakit untuk muncul tinggi) TBC seperti Indonesia.

Vaksin diberikan sekali saja segera setelah lahir terutama bila hasil tes mantoux pada bayi negatif atau sang ibu tidak sedang menderita TBC. Pemberian ditunda bila sang ibu menderita TBC saat hamil hingga terbukti tes mantoux pada bayi negatif pada pemeriksaan lanjutan. Selain itu suntikan BCG tidak boleh dilakukan bila pada sisi yang akan disuntik terdapat sakit kulit atau luka.

Reaksi yang timbul akibat penyuntikan dapat berupa :

  1. reaksi normal yaitu berupa pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan dengan garis tengah ± 10 mm yang timbul pada minggu ke-2 setelah vaksinasi, yang 2-3 minggu kemudian menjadi nanah kecil hingga menjadi luka dengan garis tengah ±10 mm. Karena ini merupakan reaksi normal, maka penting bagi ibu-ibu untuk tidak memberikan obat apapun pada luka tersebut, dan membiarkan luka terbuka. Bila ingin ditutup maka tutup dengan menggunakan kain kasa kering sebab luka akan sembuh sendiri dan meninggalkan bekas luka berupa parut 3-7 mm, jadi akan lebih baik bila suntikan dilakukan pada area tubuh yang terlindungi seperti lipatan ketiak atau yang lain agar tidak mengganggu penampilan anak Anda di kemudian hari.
  2. reaksi berat yaitu reaksi peradangan pada area suntikan yang agak berat atau nanah yang lebih dalam. Kadang-kadang disertai pembengkakan kelenjar getah bening di leher dan ketiak. Bila reaksi hanya bersifat lokal maka tidak perlu diobati kecuali dibalut dengan pembalut kering. Tetapi bila luka sangat besar atau ada pembengkakan kelenjar getah bening maka sebaiknya anak dibawa ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.
  3. reaksi yang lebih cepat. Bila reaksi yang disebutkan di atas terjadi kurang dari 2 minggu setelah vaksinasi, maka hal ini dapat berarti Anda telah mendapatkan vaksinasi BCG sebelumnya atau kemungkinan Anda telah terkena TBC, untuk itu lebih baik Anda segera berkonsultasi pada dokter setempat.

Vaksinasi hepatitis B

Vaksin ini berguna untuk mencegah Anda terkena hepatitis B. Vaksinasi ini pada bayi diberikan 3 kali yaitu pada saat lahir, usia 1 bulan, dan usia 6 bulan. Bila sang ibu menderita hepatitis B saat hamil, maka vaksinasi diulang lagi pada saat anak berumur satu tahun. Sedangkan pada orang dewasa juga dilakukan sebanyak 3 kali dengan selang 1 bulan setiap kali vaksinasi dengan syarat kadar HbsAg, anti HBc, dan anti HBs dalam darah sesuai untuk indikasi vaksinasi. Biasanya tidak ada reaksi yang timbul setelah vaksinasi dan kalaupun ada biasa berupa demam ringan atau rasa tidak enak badan yang dapat sembuh sendiri.

Vaksinasi DPT (diphteri, pertusis, tetanus) dan Polio

Vaksin ini berguna untuk mencegah Anda terkena penyakit diphteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, dan polio (lumpuh layu), biasanya dilakukan saat bayi. Pemberian dilakukan sebanyak 3 kali untuk imunisasi primer yaitu pada bayi usia 3,4 dan 5 bulan. Kemudian diulang pada usia 18 bulan, 6 tahun, dan 12 tahun. Vaksin ini akan memberikan kekebalan seumur hidup.

Reaksi yang mungkin timbul akibat vaksinasi DPT antara lain :

  1. panas, biasanya timbul pada sore hari setelah vaksinasi tapi menghilang dalam 1-2 hari. Bila lebih dari itu mungkin ada infeksi lain sebelum vaksinasi. Bila suhu tubuh anak tinggi, ibu dapat memberikan penurun panas dan sebaiknya anak tidak memakai baju tebal dan dimandikan dengan cara mengelap saja dengan kain yang dicelupkan ke dalam air hangat. Perlu diingat bahwa panas yang timbul jauh lebih ringan daripada sakit yang timbul bila terkena salah satu penyakit di atas.
  2. rasa sakit di daerah suntikan, berupa nyeri, sakit, kemerahan, bengkak pada tempat suntikan, tapi hal ini normal dan tidak berbahaya.
  3. peradangan. Bila sakit timbul lebih dari seminggu sebaiknya segera dibawa ke pusat pelayanan kesehatan setempat walaupun hal ini cukup jarang terjadi.
  4. kejang bila anak anda alergi terhadap komponen pertusis. Untuk ini pada vaksinasi berikutnya maka komponen pertusis tidak diberikan lagi (jadi hanya berupa vaksinasi DT).

Vaksinasi polio umumnya tidak menimbulkan reaksi apapun.

Vaksinasi Campak

Biasanya vaksinasi campak (morbili) diberikan bersamaan dengan vaksinasi Mumps (gondongan) dan rubella (campak jerman) dan disebut vaksinasi MMR dan biasanya diberikan pada bayi. Vaksin ini berguna untuk mencegah anak Anda terkena campak, gondongan, dan campak jerman. Vaksinasi diberikan sekali saja pada usia antara 1- 2 tahun.

Reaksi yang dapat muncul :

  1. demam ringan
  2. bengkak ringan pada kelenjar ludah
  3. nyeri ringan pada persendian

Gejala ini dapat muncul beberapa hari setelah vaksinasi tetapi akan menghilang kemudian.

Vaksinasi HiB ( Hemophilus influenza tipe B)

Vaksin ini berguna untuk mencegah penyakit yang dapat ditimbulkan oleh bakteri Hemophilus influenza tipe B, dan kerap menyerang anak-anak seperti :

  • Meningitis (radang selaput otak)
  • Pneumonia (radang jaringan paru-paru)
  • Septicemia (radang dalam darah)
  • Epiglotitis (radang pada epiglotis/anak tekak)
  • Arthritis (radang sendi)
  • Osteomyelitis (radang sumsum tulang)
  • Cellulitis (radang pada sel jaringan) dll.

Vaksinasi ini diberikan 3 kali yaitu pada usia 3 bulan, 4 bulan, dan 5 bulan. Lalu diulang pada usia 18 bulan.

Vaksinasi hepatitis A

Vaksin ini berguna untuk mencegah terkena penyakit hepatitis A. Sebenarnya hepatitis A adalah penyakit yang sering mengenai anak-anak (biasanya tanpa gejala) terutama daerah endemik hepatitis A dan penyakit ini dapat sembuh sendiri tanpa komplikasi yang berarti. Tapi bila hal ini baru terjadi setelah Anda dewasa maka gejala yang timbul lebih berat bahkan dapat mematikan. Maka vaksin ini ditujukan pada orang dewasa yang belum pernah terkena penyakit ini dan hendak bepergian ke daerah yang endemik hepatitis A.

Pada anak-anak diberikan sekali saja pada usia antara 12-18 bulan. Sedangkan pada dewasa suntikan pertama kali dapat memberikan kekebalan untuk 4 minggu pertama. Sedangkan untuk kekebalan jangka panjang harus dilakukan penyuntikan berulang.

Vaksinasi cacar air ( varicella )

Vaksinasi ini berguna untuk mencegah terkena cacar air. Biasanya dilakukan sekali saja pada bayi usia antara 12-18 bulan. Atau pada usia lebih dari 12 tahun dan belum pernah terkena cacar air sebelumnya. Perlu diingat bahwa reaksi yang timbul akibat vaksinasi apapun jauh lebih ringan dibanding sakit yang timbul bila anda atau anak Anda terkena penyakit yang dimaksud. Oleh karena itu Anda tidak perlu khawatir dengan efek samping yang timbul. Karena itulah vaksinasi adalah hal yang mutlak dan perlu agar hidup Anda maupun anak Anda lebih sehat dan terhindar dari penyakit-penyakit yang mengganggu.

Daftar pustaka : Departemen kesehatan RI.1989.Modul Imunisasi.Jakarta www.infoibu.com www.pikiran_rakyat.com www.wikipedia.org