Masa anak-anak merupakan masa pembentukan sifat dan karakter seseorang. Peran orang tua sangatlah penting dalam masa anak-anak tersebut. Orang tua pun memiliki cara tersendiri dalam mengasuh anak mereka. Ada yang terkesan sangat protektif, dan juga sebaliknya, ada juga yang melepaskan anaknya dengan maksud agar anaknya mandiri. Namun, tentu di antara Anda ada yang merasa anaknya penakut. Mengapa mereka memiliki rasa takut tersebut? Lalu, bagaimana menanggapi hal tersebut? Menghadapi anak yang penakut tentunya tidaklah mudah, apalagi untuk merubah sifat penakut tersebut. Rasa takut ini, jika tidak diatasi maka dapat mempengaruhinya hingga dewasa. Orang tua hendaklah melakukan upaya-upaya yang dapat membantu anak mengatasi rasa takutnya sendiri. Tentu hal ini telah menjadi perhatian orang tua dan juga para psikolog untuk mengatasi hal tersebut. Rasa takut pada anak juga dijelaskan oleh Freud, seorang psikolog psikoanalitikal, yang mengatakan bahwa rasa takut pada anak juga merupakan bentuk proteksi anak terhadap dirinya sendiri. Misalnya, seorang anak mengalami kejadian di mana ia menghindari pisau untuk memproteksi dirinya. Setelah itu, rasa takut pada pisau muncul. Pada umumnya, anak memang memiliki rasa takut yang bisa dianggap wajar, misalnya: takut terhadap gelap, takut pada orang asing, takut pada tempat asing, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan kemampuan berpikir anak yang semakin imajinatif seiring dengan perkembangan usia mereka, namun mereka belum dapat sepenuhnya memisahkan antara imajinasi dengan kenyataan. Alhasil rasa takut muncul dalam diri mereka. Selain itu, sebagian anak ada yang memiliki rasa takut pada hal yang sebenarnya tidak menyeramkan, misalnya pada om atau tantenya. Hal ini pun masih bisa dianggap wajar pada anak-anak. Sebagai orang tua hendaknya menanyakan alasan ketakutan anak dan menjelaskannya agar anak tidak terus-menerus ketakutan. Meskipun dapat merupakan hal yang wajar, orang tua perlu menyadari mengapa anaknya menjadi penakut. Terkadang sifat tersebut merupakan hasil dari pola pengasuhan orang tua. Tidak jarang kita menemui orang tua yang menakut-nakuti anaknya, jika anaknya tidak menurut. Misalnya, akan mendatangkan monster jika anak tidak mau sekolah. Meskipun maksud orang tua adalah agar anak menjadi penurut, namun hal ini dapat berdampak pada anak yang menjadi penakut. Rasa takut pada anak juga dapat disebabkan oleh rasa takut yang ditunjukkan orang tua pada sesuatu hal. Misalnya, orang tua menunjukkan ketakutan terhadap tindakan pencurian. Anak-anak yang masih dalam tahap belajar akan mencontoh perilaku tersebut dan kemudian, akan memiliki rasa takut terhadap pencurian. Untuk mengatasi hal tersebut, orang tua hendaknya berperilaku wajar dan menjelaskan kepada anak mengapa hal tersebut ditakuti. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan tidak memberikan ‘cap negatif’ tersebut pada anak. Jadi, jika anak Anda penakut, memberikan cap ‘anak penakut’ untuknya tidak akan merubah sifat anak tersebut. Pada beberapa anak, cap negatif tersebut dapat membuat anak mempertahankan sifat negatifnya tersebut. Sumber: JICM Drost SJ, dkk. Perilaku Anak Usia Dini: Kasus dan Pemecahannya. Hlm 123-125. Kanisius. http://www.essortment.com/childrens-psychology-fear-50813.html