Apa saja yang perlu dihindari? Sebagai orang tua yang baik, ada beberapa hal yang perlu kita hindari.Yang pertama adalah praktik menyalahkan atau menyudutkan anak. Misalnya dengan mengatakan, “Kamu sih yang mancing duluan”, “Kamu sih yang nggak mau ngerti”. Kesalahan ada pada pihak pelaku bullying, bukan pada korban. Hindari juga membuat rasionalisasi yang meremehkan, misalnya dengan mengatakan, "Kok kamu digituin aja sedih sih", "Ga usah cengeng deh", "Dia kan cuma bercanda". Karena sesungguhnya, terjadinya bullying pada anak memang bukan hal yang remeh, tetapi hal yang dapat membawa dampak buruk pada perkembangan anak selanjutnya. Jangan pula kita langsung meledak dan mengamuk. Ini justru membuat anak enggan bercerita. Biar bagaimanapun kita sebagaai orang tua harus memberikan kenyamanan bagi anak dan menumbuhkan rasa percaya bahwa anak bisa bercerita apa saja pada kita tanpa beban. Sikap orang tua adalah penentu apakah nantinya anak akan dapat bersikap terus terang atau tidak. Bagaimana jika ternyata anak kita adalah si pelaku bullying? Dari awal kita telah membahas apa itu bullying, hingga pada tindakan apa saja yang dapat kita lakukan sebagai orang tua jika anak kita adalah korban bullying. Kini pertanyaannya, bagaimanakah jika ternyata anak kita adalah si pelaku? Bisa saja misalnya di siang hari bolong kita tiba-tiba mendapatkan telepon berisi makian dari salah seorang orang tua/ wali murid sekelas anak kita yang membela anaknya dan dengan nada tinggi meminta kita bisa mendidik anak kita dengan baik, ataupun mendapatkan telepon langsung dari sang kepala sekolah yang mengeluhkan kelakuan anak kita di sekolah, atau bahkan mendapatkan panggilan untuk bertemu dengan guru BK di sekolah, melalui surat yang dititipkan pada anak kita sepulang sekolah. Berbagai macam reaksi yang dapat kita alami. Tentu saja kita bisa merasa kaget, karena anak yang kita anggap baik dan selalu berlaku manis di rumah, ternyata menjadi monster saat berada di sekolah. Atau kita pun bisa marah, karena kita lebih percaya pada anak kita, sebagai anak baik-baik, dan bisa saja orang tua/ wali murid lain sengaja memojokkan anak kita, padahal anak merekalah yang sesungguhnya adalah pelaku bullying. Kita perlu menjadi cermat dan bijaksana dalam menghadapinya. Tetap bersikap tenang, dan mulailah lakukan klarifikasi dan penyelidikan.