Strategi Menghadapi Bullying di sekolah
  1. Ajarkan anak kita untuk tetap tenang dalam situasi apapun. Ajarkan ia untuk bisa menyembunyikan luapan kemarahan atau kesedihannya. Bila ia tampak bereaksi si bullying akan senang. Inilah hukum aksi-reaksi. Jika anak tidak mudah bereaksi terhadap aksi si pelaku bullying, maka rantai aksi-reaksi diharapkan dapat terputus, dan si pelaku akan merasa bosan sendiri/ jenuh, karena reaksi yang diharapkan dari si korban tidak muncul.
  2. Bekali anak dengan kemampuan untuk membela dirinya sendiri, terutama ketika tidak ada orang dewasa / guru / orang tua yang berada di dekatnya. Ini berguna untuk pertahanan diri anak dalam segala situasi mengancam atau berbahaya, tidak saja dalam kasus bullying. Pertahanan diri ini dapat berbentuk fisik dan psikis.
Pertahanan diri fisik : bela diri (pencak silat, karate, judo, taekwondo, wing chun, aikido, capoeira), tentunya disesuaikan dengan minatnya, ataupun melalui olahraga lainnya yang dapat memfasilitasi anak memiliki kemampuan motorik yang baik (bersepeda, berlari, berenang) sehingga ia mencapai kesehatan yang prima. Pertahanan diri psikis : rasa percaya diri, berani, berakal sehat, kemampuan analisis sederhana, kemampuan melihat situasi, kemampuan menyelesaikan masalah. Ajarkan anak untuk berani memandang mata si pelaku bullying. Ajarkan anak berdiri tegak, kepala ditegakkan dalam menghadapi bullying.
  1. Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi tidak menyenangkan yang mungkin ia alami dalam kehidupannya. Untuk itu, selain kemampuan mempertahankan diri secara psikis seperti yang dijelaskan di nomor 2. Maka yang diperlukan adalah kemampuan anak untuk bertoleransi terhadap beragam kejadian. Sesekali membiarkan (namun tetap mendampingi) anak merasakan kekecewaan, akan melatih toleransi dirinya.
  2. Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan sebayanya atau dengan orang yang lebih tua. Dengan memiliki banyak teman, diharapkan anak tidak terpilih menjadi korban bullying karena:
  1. Walau anak sudah diajarkan untuk mempertahankan diri dan dibekali kemampuan agar tidak menjadi korban tindak kekerasan, perlu diingatkan bila dalam keadaan bahaya, sebaiknya segera menyingkir dan beritahukan anak kemana ia dapat melaporkan atau meminta pertolongan atas tindakan kekerasan yang ia alami (bukan saja bullying). Terutama tindakan yang tidak dapat ia tangani atau tindakan yang terus berlangsung walau sudah diupayakan untuk tidak terulang.
  • Kemungkinan ia sendiri berteman dengan pelaku, tanpa sadar bahwa temannya pelaku bullying pada teman lainnya.
  • Kemungkinan pelaku enggan memilih anak sebagai korban karena si anak memiliki banyak teman yang mungkin sekali akan membela si anak.
  • Sosialisasi yang baik dengan orang yang lebih tua, guru atau pengasuh atau lainnya, akan memudahkan anak ketika ia mengadukan tindakan bullying (dan tindakan kekerasan lainnya) yang ia alami.