Efek buruk bagi korban bullying dan si pelaku Terjadinya bullying menimbulkan banyak kerugian. Tentunya bukan hanya bagi si korban namun juga si pelaku. Si korban mendapat efek buruk seperti tidak percaya diri, selalu diliputi ketakutan dan kecemasan, menjadi pribadi yang tertutup, perkembangan diri menjadi terhambat, tersingkir dari pergaulan, penurunan prestasi di bidang akademik dan efek jangka panjang lainnya yang mengakibatkan terjadinya perubahan pada seseorang, yaitu menjadi pasif dan seakan-akan tidak memiliki semangat lagi untuk hidup. Namun, si pembully juga tidak luput dari hal-hal yang buruk, misalnya ia akan selalu merasa dirinya berkuasa, sehingga jika suatu saat dia jatuh, ia tidak bisa menerima kekalahan dan lebih cepat menjadi stress juga depresi. Ia juga selalu diliputi rasa ketakutan jika perbuatan bullying yang dilakukannya tergolong tindak kriminal. Ia juga bisa mendapatkan tekanan dari berbagai pihak (tentu saja pelajar yang menjadi pelaku bully-ing akan mendapatkan hukuman dari gurunya ataupun sanksi dari pihak sekolah), menjadi pribadi yang egoistis, emosional, merasa paling berkuasa, menjadi agresif, tidak bisa mengakui kemenangan atau keunggulan orang lain. Tak tertutup kemungkinan, si korban bullying bisa menjadi pelaku bullying di kemudian hari karena kenangan buruk yang telah dialaminya di masa lalu, atau sebagai respons kemarahan dan rasa tidak terima atas perbuatan teman-teman yang pernah mem-bully-nya. Bisa muncul rasa dendam dan ingin melakukan perbuatan yang sama ketika ia mengalami situasi dan posisi yang strategis untuk menjadi pem-bully, misalnya menjadi kakak kelas, ketua geng, atau seseorang yang disegani di lingkungannya. Apakah yang bisa orang tua lakukan untuk menghadapi bullying? Dalam bukunya, Barbara Coloroso menyarankan:
  • Amati gejala-gejala bullying pada anak, dan jika memang ditemukan gejala tersebut, segeralah lakukan pendekatan padanya.
  • Tenang dalam bertindak, sambil meyakinkan anak bahwa kita berada di sisinya dan ia telah mendapat perlindungan dari perilaku bullying di masa mendatang.
  • Rancanglah pertemuan dengan pihak sekolah.
Laporkan kepada wali kelas atau guru BK (Bimbingan dan Konseling)/ pihak sekolah agar dapat segera dilakukan penyelidikan. Jangan lupa memberikan penjelasan yang faktual dan detail. Misalnya bukti fisik, harinya, prosesnya, nama anak-anaknya, tempat kejadiannya, dan lain-lain. Kalau bisa, carilah juga dukungan dari orang tua murid lain yang anaknya kerap menjadi korban bullying. Usahakan dalam pertemuan itu muncul kesepakatan yang pasti akan dijalankan dan akan membuat anak aman dari penindasan. Jangan hanya puas mengadu dan puas diberi janji oleh pihak sekolah. Akan lebih baik lagi jika pihak sekolah mau memfasilitasi pertemuan dengan orang tua/ wali yang anaknya pelaku bullying dan yang anaknya menjadi korban untuk bisa dicarikan solusinya.
  • Mengajarkan anak cara-cara menghadapi bullying.
Ajari si anak untuk menjadi orang baik namun juga tidak takut melawan kesombongan. Galilah pula inisiatif dari si anak tentang cara-cara yang bisa ditempuh atau ajukan beberapa usulan dan mintalah pendapatnya terhadap usulan yang kita sampaikan. Ini bertujuan untuk menumbuhkan kepercayaan diri si anak dan melatih proses berpikir kritis anak.