Gejala-gejala terjadinya tindakan bullying pada anak kita di sekolah
  • Adanya penurunan pada penampilan akademisnya
Hal ini dapat diketahui dari nilai-nilainya di sekolah, terutama ketika saat pembagian rapor tiba. Ada pula beberapa sekolah yang selalu meminta tanda tangan orang tua untuk setiap hasil ulangan anak didiknya, setiap kali nilai ulangan telah dibagikan. Tentunya pada sekolah yang demikian, akan menjadi lebih mudah bagi orang tua untuk memantau prestasi anaknya di sekolah sehingga terjadinya penurunan prestasi dapat segera diketahui dan dapat segera ditangani.
  • Adanya penurunan pada kehadirannya di sekolah
Bullying adalah sebuah stressor bagi anak, dan pada anak-anak, tindakan yang paling mudah diambil adalah dengan menghindari stressor tersebut, atau dengan kata lain, ia mogok sekolah. Karena dengan mogok sekolah, ia akan terhindar dari situasi yang tidak nyaman dan tekanan karena ia di-bully temannya.
  • Hilangnya minat mengerjakan pekerjaan sekolah, pekerjaan rumah (PR) dan hilangnya minat pada kegiatan-kegiatan di sekolah
Anak yang menjadi korban bullying cenderung mengalami depresi. Sebagaimana layaknya seseorang yang depresi, maka ia akan kehilangan minatnya dalam mengerjakan pekerjaan sekolah ataupun pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru, serta pada kegiatan-kegiatan di sekolah. Sebagai contoh, seorang anak yang tadinya selalu bersemangat mengikuti ekstrakurikuler seni tari ataupun bidang-bidang olahraga, tiba-tiba kehilangan minatnya dan tidak mau mengikuti ekstrakurikuler yang tadinya ia senangi. Perubahan yang drstis semacam ini tidak terjadi begitu saja. Pastilah ada hal besar yang ia alami dan menyebabkan ia kehilangan minatnya.
  • Sulit berkonsentrasi pada pekerjaan sekolah
Sama seperti orang dewasa, anak-anakpun bisa mengalami kondisi distress. Ia menjadi sulit berkonsentrasi di sekolah dan tidak dapat mengerjakan pekerjaan sekolahnya dengan baik dalam kondisi tertekan.
  • Berhenti melakukan yang tadinya dia sukai
Anak yang menjadi korban bullying di sekolahnya bisa berhenti melakukan kegiatan-kegiatan yang ia sukai, walaupun kegiatan tersebut berlangsung di luar sekolah. Sekarang ini, banyak sekali orang tua yang melihat bakat anak-anaknya dan memasukkannya ke sanggar ataupun tempat les. Sebut saja les piano. Bisa saja karena menjadi korban bullying di sekolah, ia tiba-tiba berkata bahwa ia ingin berhenti les piano. Pada poin yang terakhir, kita bisa melihat bahwa bullying yang terjadi di sekolah, bisa saja mempengaruhi seorang anak dalam bertingkah laku. Jelas-jelas les piano tidak berhubungan dengan bullying yang dialami di sekolahn tetapi ia tiba-tiba ingin berhenti melakukan kegiatan yang ia sukai sebelumnya. Fakta menunjukkan, bullying memang berdampak secara fisik, psikis, dan sosial terhadap korban. Selain menurunnya prestasi belajar, bullying juga mengakibatkan dampak fisik, seperti kehilangan selera makan dan migrain. Korban bullying juga rentan menjadi mengalami gangguan cemas, hingga mengalami depresi dan menarik diri dari pergaulan. Dalam tingkatan yang lebih ekstrem, korban bahkan ada yang sampai membunuh ataupun bunuh diri. Sementara pelaku bullying sendiri memiliki kecenderungan untuk tumbuh menjadi pelaku tindak kriminal. Pada tahun 2011 Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat 2.339 kasus kekerasan fisik, psikologis, dan seksual terjadi pada anak-anak, dan 300 kasus diantaranya adalah bullying. Selidik punya selidik, ternyata bullying tidak hanya menjadi permasalahan di Indonesia saja, tetapi juga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang. Pada tahun 2004, National Mental Health and Education Center di Amerika mendapatkan data bahwa bullying merupakan bentuk kekerasan yang umum terjadi dalam lingkungan sosial. Sekitar 15% pelajar adalah pelaku bullying dan 30% pelajar adalah korban bullying.