Bullying, sebuah kata yang mulai populer di media beberapa waktu belakangan ini. Bentuk nyata bullying dapat kita saksikan secara jelas pada sebuah film Indonesia yang dirilis pada bulan November tahun lalu, yang mengisahkan tiga orang sahabat (Biru, Tomtim, dan Amanda) yang di sekolahnya selalu mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari anak bernama Bruno dan ganknya.

Bagi anda yang sudah pernah menyaksikan film tersebut tentu sudah paham mengenai bullying dan betapa bullying ini adalah satu masalah yang sangat serius dan perlu ditindaklanjuti. Di Indonesia, bullying telah menjadi salah satu penyebab seorang pelajar bernama Riska hampir kehilangan nyawanya pada tahun 2010, karena melakukan percobaan bunuh diri. Ia merasa depresi karena sering disapa dengan panggilan "si gembrot"¬Ě oleh teman-teman sekolahnya. Bullying bukanlah hal baru dalam dunia sekolah, dan bahkan pada beberapa sekolah tertentu, telah menjadi suatu warisan yang selalu diturunkan dari kakak kelas ke adik-adik kelasnya. Ketika sang adik kelas merasa di-bully, maka ada suatu kecenderungan untuk "membalas dendam" atas perilaku tersebut kepada adik-adik kelas mereka selanjutnya, jika kelak mereka sudah menjadi kakak kelas. Bullying bisa terjadi di sekolah manapun, tak peduli sekolah yang bertarif mahal dan berkurikulum internasional ataupun sekolah swasta yang namanya sayup-sayup terdengar saja. Dan pembaca, bukan tidak mungkin anak anda adalah salah satu korban bullying dari teman-teman sekolahnya. Sebagai orang tua, seberapa jauh anda mengenal anak anda dan mengetahui "dunia" yang sedang ia hadapi? Apakah ia pernah menjadi korban bullying? Atau apakah ia justru menjadi salah satu pelaku bullying? Kadangkala sulit untuk bisa bertanya secara langsung pada anak dan mendapatkan jawabannya. Tetapi, ada beberapa gejala yang dapat anda anda amati.