Siapa yang tidak kenal minum ringan bersoda? Minuman ringan bersoda biasa juga disebut dengan minuman berkarbonasi dengan ciri khas sensasi krenyes dan menggigit saat diteguk.  Minuman bersoda sebenarnya merupakan perpaduan antara purified water (air yang dimurnikan) dengan perasa dan pemanis, baik buatan maupun alami. Pemurnian air bertujuan untuk menetralkan pH, menghilangkan bau, rasa, membunuh mikroorganisme dan menyaring zat-zat terlarut lainnya melalui beberapa proses. Penambahan asam seperti asam sitrat atau asam fosfat berfungsi untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme, memberi rasa asam, dan sebagai pengawet. Penambahan karbon dioksida atau CO2 pada minuman bersoda dilakukan dengan tekanan tinggi untuk memberikan efek bubble dan sensasi menggigit. 1,2,3 Badan Administrasi Obat dan Makanan Amerika Serikat (U.S. FDA) menyatakan bahwa penambahan CO2 sebagai Generally Recognized As Safe (GRAS) sehingga aman untuk dikonsumsi.3  Join Expert Committee on Food Additives (JECFA) menetapkan bahwa, angka Acceptable Daily Intake (ADI) untuk CO2 adalah not specified artinya tidak perlu khawatir akan risiko konsumsi CO2 yang berlebih. Hal serupa juga disampaikan oleh Badan POM yang menetapkan bahwa CO2 merupakan gas yang aman dan diijinkan untuk ditambahkan ke dalam produk makanan dan minuman. 4,5 Prof. Made Astawan, pakar nutrisi dan teknologi makanan Institut Pertanian Bogor dalam Talkshow “Mengupas Fakta Tentang Karbonasi dalam Minuman Ringan” yang diadakan ASRIM beberapa waktu lalu menjelaskan, “Minuman bersoda akan tetap ‘mengigit’  atau ‘krenyes’ selama kemasannya belum dibuka. Menariknya, saat tertelan, ternyata sebagian besar karbonasi dalam minuman bersoda sebenarnya tidak sampai di lambung karena sebagian besar gas menguap ketika kemasan dibuka. Gelembung yang tersisa dalam minuman akan segera diserap melalui dinding saluran pencernaan. Jumlah CO2 yang diserap oleh tubuh pun relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah CO2 yang dihasilkan tubuh saat menggunakan energi.” 4,5 Minuman ringan bersoda sering dikaitkan dengan beberapa penyakit seperti gangguan ginjal, Diabetes Melitus tipe 2, kerusakan gigi dan penyakit lainnya. Padahal, penyebab penyakit atau gangguan tersebut bukan hanya dari satu faktor saja, melainkan berbagai faktor penyebab penyakit tersebut. Hingga saat ini penelitian belum membuktikan adanya hubungan antara minuman ringan bersoda dengan peningkatan resiko penyakit ginjal. Hasil penelitian oleh Bomback, 2009 di Amerika Serikat dengan jumlah partisipan 6814 orang menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara konsumsi minuman berpemanis, termasuk didalamnya minuman ringan bersoda dengan perburukan fungsi ginjal. National Kidney Foundation, New York, USA juga menyatakan bahwa mengonsumsi minuman bersoda dalam jumlah wajar tidak akan menurunkan fungi ginjal.5,6,7 (tanyadok ginjal) Minuman ringan bersoda juga terbukti tidak menyebabkan kerusakan gigi. Berdasarkan hasil penelitian riset, minuman ringan bersoda tidak dapat menjadi penyebab tunggal kerusakan gigi yang terjadi. Studi klinis menunjukkan bahwa rusaknya enamel gigi lebih disebabkan karena faktor keasaman air liur yang meningkat dengan cepat seperti penderita karies atau gigi berlubang. Perlu diperhatikan tingkat keasaman pada produk makanan dan minuman lainnya, selain minuman ringan bersoda. Kesehatan gigi harus dijaga dengan menjaga keberishan mulut dan menjaga asupan makanan dan minuman.8 Begitu pula dengan obesitas dan Diabetes Melitus yang disebabkan oleh berbagai faktor.  Konsumsi minuman bersoda yang mengandung pemanis didukung dengan pola hidup sehat, tidak akan menyebabkan obesitas. Namun sebaliknya, bila keseimbangan kalori tidak dijaga termasuk asupan makanan dan minuman yang tidak terkontrol serta tidak adanya aktivitas fisik, maka akan menyebabkan obesitas pada tubuh yang menyebabkan Diabetes Melitus di masa mendatang. 9,10,11 Bijaklah dalam memilih dan mengatur pola hidup Anda dengan mengonsumsi makanan dan minuman dalam jumlah yang wajar agar tubuh sehat dan terhindar dari penyakit.    DAFTAR PUSTAKA
  1. Beverage Institute for Health and Wellness. 2013. Glossarium Bahan Baku Minuman. http://www.beverageinstituteindonesia.org/beverage-ingredient-glossary/ (Accesed on July 5th, 2015)
  2. Beverage Institute for Health and Wellness. 2013. Bahan Minuman. http://www.beverageinstituteindonesia.org/landing_page/beverage-ingredients/ (Accesed on July 5th, 2015)
  3. British Soft Drink Asociation. Carbonated Drink. 2014. http://www.britishsoftdrinks.com/Carbonated-Fizzy-Drinks. (Accesed on July 5th, 2015)
  4. S. Departement of Health and human Services. FDA U. S. food and Drug Administration. What you Should Know About Carbonated Soft Drink. 2014. http://www.fda.gov/Food/ResourcesForYou/Consumers/ucm232528.htm. (Accesed on July 5th, 2015)
  5. Asosiasi Industri Minuman Ringan Indonesia. Benarkah Minuman Karbonasi Berbahaya? Jakarta. 2 April 2014. http://asrim-indonesia.org/portfolio/benarkah-minuman-karbonasi-berbahaya/ (Accesed on July 5th, 2015)
  6. Vartanian, et al. Effects of Soft Drink Consumption on Nutrition and Health: A Systematic Review and Meta-Analysis. American Journal of Public Health. April 2007, Vol 97, No. 4.
  7. Gemilang, A. 2015. Kesehatan Ginjal dan Hubungannya dengan Minuman Bersoda. http://www.tanyadok.com/adv/ginjal-dan-minuman-bersoda (Accesed on July 5th, 2015)
  8. Susanto, A. 2014. Kupas Fakta Minuman Berkarbonasi oleh SEAFAST Center. http://www.tanyadok.com/adv/kupas-fakta-minuman-berkarbonasi (Accesed on July 5th, 2015)
  9. Beverage Institute for Health and Wellness. 2013. Keseimbangan Energi di Dunia Obesitas.http://www.beverageinstituteindonesia.org/webinar/energy-balance-in-an-obese-world/ (Accesed on July 5th, 2015)
  10. Beverage Institute for Health and Wellness. 2013. Keseimbangan Energi. http://www.beverageinstituteindonesia.org/landing_page/energy-balance/ (Accesed on July 5th, 2015)
  11. Beverage Institute for Health and Wellness. 2013. Memahamai Gula dan Kesehatan http://www.beverageinstituteindonesia.org/article/understanding-sugars-health/ (Accesed on July 5th, 2015)