Sebentar lagi umat Muslim akan memasuki bulan yang penuh berkah, yaitu bulan suci Ramadan. Umat Muslim yang telah baligh (dewasa) akan menjalani ibadah puasa. Berpuasa berarti menahan diri dari rasa lapar dan haus serta perbuatan lainnya yang bisa membatalkan puasa. Lama berpuasa di tiap negara tidaklah sama. Rentang waktu puasa bervariasi antara 11 hingga 18 jam per hari.  Hal ini dikarenakan perbedaan musim dan letak geografis tiap negara berbeda.1 Selama bulan Ramadan, pola makan akan berubah menjadi dua kali sehari, yaitu saat sahur dan berbuka. Pada umumnya, makanan yang dikonsumsi saat Ramadan kaya akan protein dan lemak, serta kurangnya konsumsi cairan saat sahur dan berbuka. Tidak hanya perubahan pola makan, tetapi pola tidur juga berubah dengan peningkatan aktivitas ibadah setelah berbuka. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan, terutama gangguan lambung.2,3,4 Contoh gangguan lambung yang timbul adalah peradangan atau tukak lambung dan infeksi mikroorganisme seperti Helicobacter pylori. Seseorang yang mengonsumsi kafein dan obat penghilang rasa sakit (NSAID) secara rutin selama puasa dapat memperparah gangguan lambung jika tidak diimbangi dengan pola konsumsi makanan yang benar. Gangguan lambung secara medis dikenal dengan istilah dispepsia, yaitu berupa nyeri atau rasa tidak nyaman di perut bagian atas. Dispepsia dibagi menjadi dua yaitu, dispepsia fungsional dan dispepsia organik. Dispepsia atau gangguan lambung fungsional adalah keadaan dimana tidak adanya kelainan pada lambung, sementara dispepsia organik adalah keadaan dimana ditemukanya kelainan pada lambung seperti luka atau tukak.3 Pada saat puasa selama 6-8 jam setelah lambung kosong, orang dengan gangguan lambung akan memproduksi asam lambung yang berlebih. Hal ini akan menyebabkan nyeri ulu hati, mual, bahkan kadang muntah dan rasa asam atau panas di ulu hati yang menjalar naik ke kerongkongan yang berimbas pada kesulitan saat berpuasa, menurunnya nafsu makan, sulit berkonsentrasi dan lemas.3,4 [caption id="attachment_184514" align="aligncenter" width="251"]dispepsia dispepsia[/caption] Pada orang yang sehat keadaaan di atas dapat diatasi dengan pilihan makanan yang tepat saat berbuka dan sahur, mengurangi kegiatan yang meningkatkan asam lambung, dan cukup istirahat. Pada orang yang memiliki gangguan lambung, berpuasa dapat memperberat penyakit yang sudah diderita sebelumnya. Namun, bukan berarti pada penderita gangguan lambung tidak bisa berpuasa. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan penderita gangguan lambung, seperti berhenti merokok dan olah raga teratur, berhenti mengonsumsi makanan siap saji, minuman beralkohol, makanan berpengawet, konsumsi cairan secukupnya sesuai kebutuhan saat sahur dan berbuka serta konsumi obat untuk menjaga kadar keasaman lambung agar tidak meningkat saat sedang berpuasa.3 Pada dasarnya minuman bersoda aman dikonsumsi selama berpuasa, tetapi perlu diperhatikan pada orang dengan kondisi khusus dan dalam keadaan tertentu untuk mengonsumsi jenis minuman ini. Pilihan minuman dingin jenis minuman ringan bersoda sebagai pengganti cairan saat berbuka bukan menjadi pilihan utama bagi sebagian orang. Namun, bagi sebagian yang lain, pilihan minuman jenis tersebut tidak menjadi masalah.2 Pola hidup sehat berperan penting dalam mengurangi gangguan lambung, termasuk olah raga rutin dan mengurangi tingkat stres. Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh juga harus diperhatikan terutama pada penderita gangguan lambung. Berikut beberapa tips agar lambung kita tetap sehat selama bulan puasa.2,6
  • Sahur dan berbuka dengan mengkonsumi minuman yang rendah asam dan kafein.
  • Konsumsi sumber karbohidrat yang aman untuk lambung seperti nasi dan kentang.
  • Hindari minuman seperti kopi, alkohol, anggur, atau susu berlemak tinggi (full cream) sebelum dan setelah berpuasa serta makanan yang banyak mengandung gas dan berserat tinggi saat akan dan setelah berpuasa, seperti sawi, kubis, durian dan buah-buahan asam
  • Kurangi konsumsi makanan yang membuat pengosongan lambung melambat seperti keju, coklat, dan makanan berlemak karena hal ini membuat perut terasa begah dan mual.
  • Hindari makanan yang asam, pedas, asin, dan makanan yang dapat merusak dinding lambung, seperti beras ketan, mie, bihun, singkong, dan talas.
  • Pada penderita gangguan lambung organik, disarankan mengonsumsi obat-obatan dengan masa kerja panjang saat berbuka dan sahur.
  • Berhenti merokok
[caption id="attachment_184513" align="aligncenter" width="300"]makanan untuk gangguan lambung makanan untuk gangguan lambung[/caption] Pada beberapa penderita gangguan lambung fungsional, puasa Ramadan membuat kesehatan mereka menjadi lebih baik. Hal ini dikarenakan mereka mengonsumsi makanan teratur sebanyak dua kali sehari pada jam yang sama. Perhatikan asupan makanan dan minuman selama berpuasa membantu seseorang dengan gangguan lambung dapat berpuasa dengan sempurna. Selalu konsultasikan dengan dokter Anda setiap keluhan lambung selama berpuasa untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Selamat Berpuasa…Marhaban Ya Ramadan.   Daftar Pustaka
  1. Sadeghpour Sh, Keshteli AH, Daneshpajouhnejad P, Jahangiri P, Adibi P. Ramadan fasting and digestive disorders: SEPAHAN systematic review No. 7. J Res Med Sci 2012; 17(Spec 1): S150-S158.
  2. Beverage Institute for Health and Wellness Indonesia. 2013. Hidrasi. [online] http://www.beverageinstituteindonesia.org/landing_page/hydration/ [Accesed 25 May 2015]
  3. Meybodi M.A, et al. The Role of Diet in the Management of Non-Ulcer Dyspepsia. Middle East J Dig Dis. 2105. Jan; 7(1): 19-24.
  4. Nseir, et al. On the Association Between Soft Drink Consumption and Helicobacter pylori Infection. Dig Dis Sci (2012) 57:981–986
  5. Cuomo R, et al. Effects of carbonated water on functional dyspepsia and constipation. Eur J Gastroenterol Hepatol.2002 Sep;14(9):991-9
  6. Marotta RBFloch MH. Diet and nutrition in ulcer disease. Med Clin North Am.1991 Jul;75(4):967-79.