Gaya hidup saat ini cenderung mengarah kepada kurangnya aktivitas fisik. Salah satu yang mendorong orang kurang aktif bergerak adalah kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi berpengaruh pada pilihan gaya hidup pasif, seperti bermain gadget, duduk di depan komputer berjam-jam, menonton televisi hingga menggunakan eskalator atau lift saat berjalan. Gaya hidup pasif seperti ini dapat menyebabkan peningkatan resiko penyakit jantung ataupun penyakit metabolik lainnya, sehingga mempengaruhi kualitas hidup seseorang.1 Perilaku sedentari atau gaya hidup pasif dibagi menjadi 3, yaitu  < 3 jam, 3 – 5,9 jam, ≥ 6 jam. Hal ini mengikuti nilai patokan penelitian di Amerika. Hasil Riskesdas 2013 terhadap penduduk DKI Jakarta menunjukkan bahwa sebesar 48,1% usia 45-49 tahun memiliki perilaku sedentari < 3 jam, sedangkan 39% penduduk usia 10-14 tahun memiliki perilaku sedentari 3 – 5,9 jam, dan 12,9% penduduk usia lebih dari 65 tahun memiliki perilaku sedentari ≥ 6 jam. Hampir sebagian penduduk DKI Jakarta (44,2%) berusia diatas 10 tahun tergolong kurang aktif. Perlu diingat bahwa perilaku sedentari kurang dari 3 jam dapat meningkatkan usia harapan hidup selama 2 tahun!1,2,3 Berdasarkan hasil test kebugaran Jantung dan Paru dengan metode BleepTest dalam kampanye INDONESIA SeGar (Indonesia Sehat dan Bugar) yang didukung oleh Indonesia Sport Medicine Center (ISMC) dua tahun ini, menunjukkan bahwa dari total sampel 1,000 anak remaja SMP dan SMA di Lima wilayah DKI Jakarta, sebanyak 8 dari 10 remaja tidak bugar. Rata-rata siswa SMP memiliki tingkat kebugaran yang lebih rendah dibandingkan dengan siswa SMA. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa 74% dari remaja menghabiskan lebih dari 2 jam setiap harinya untuk menonton TV atau bermain games di gadget.4,5 Dr. Andi Kurniawan SpKO, Technical Expert Team Indonesia SeGar menjelaskan: “Tingkat kebugaran pada usia sekolah sangat penting dalam menentukan perkembangan tingkat kesehatan masa dewasa seseorang. Intervensi melalui sekolah berperan sangat strategis dalam mengubah perilaku. Bukan hanya para siswa, tapi kepala sekolah dan guru juga harus berperan aktif dalam menginspirasikan gaya hidup yang aktif. Aktivitas fisik seharusnya tidak hanya menjadi  tanggung jawab guru PENJASKES, tapi bisa diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran, seperti observasi di luar ruang dalam pelajaran Biologi, berhitung menggunakan gerak tubuh dalam pelajaran matematika, bahkan beberapa menit strecthing disela-sela pelajaran akan sangat membantu siswa untuk bergerak aktif.4,6 Aktivitas fisik sangat bermanfaat dalam mengatur berat badan untuk mencegah obesitas, meningkatkan kerja sistem jantung dan pembuluh darah, meningkatkan kekuatan otot dan tulang, meningkatkan rasa percaya diri, mengatasi masalah kecemasan dan depresi, serta meningkatkan interaksi sosial. Pada orang dewasa dan usia lanjut, melakukan aktivitas fisik secara teratur dapat mengurangi resiko terjadinya penyakit kronis seperti penyakit jantung koroner, darah tinggi, stroke, diabetes melitus tipe 2, sindroma metabolik, serta mengurangi resiko terjadinya fraktur pada daerah panggul dan tulang belakang.2,3,7,8  Aktivitas fisik secara umum dapat berupa gabungan dari aerobik, aktivitas penguatan otot, dan aktivitas penguatan tulang. Berikut ini jenis aktivitas fisik yang bisa dilakukan pada anak dan dewasa usia 5-17 tahun.8

Jenis Aktivitas Fisik

Aerobik
  • Berjalan
  • Jalan cepat
  • Lompat tali
  • Berenang
  • Bersepeda
  • Hiking
  • Karate
  • Sepak bola
Aktivitas penguatan otot
  • Memanjat pohon
  • Push up
  • Sit up
  • Panjat tebing
Aktivitas penguatan tulang
  • Lari
  • Lompat tali
  • Basket
  • Tenis
  • Senam
  • Voli
Anak-anak dan dewasa usia 5-17 tahun dapat melakukan aktivitas fisik selama 60 menit selama tiga hari dalam seminggu. Manfaat kesehatan tambahan bisa didapatkan bila melakukan aktivitas fisik selama empat hari dalam seminggu selama 20 menit atau lebih.8,9 dr.Andi Kurniawan berpesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda Indonesia bahwa jangan pernah mengabaikan gaya hidup sedentari karena bisa beresiko terhadap kesehatan di masa mendatang.6 Ayo bergerak dan perlahan tinggalkan gaya hidup pasif untuk Indonesia yang lebih sehat.   Daftar Pustaka :
  1. Budiman B, Dewi M, Julianti ED, dkk. Pokok Pokok Hasil Riset Kesehatan Dasar Provinsi DKI Jakarta tahun 2013. Jakarta : Lembaga Penerbitan Badan Litbangkes; 2013
  1. Beverage Institute for Health and Wellness. 2013. Manfaat Aktivitas Fisik bagi Kesehatan. http://www.beverageinstituteindonesia.org/article/health-benefits-of-physical-activity/
  1. Beverage Institute for Health and Wellness. 2013. Aktivitas Fisik bagi Kesehatan. http://www.beverageinstituteindonesia.org/expert/physical-activity-for-health-what-kind-how-much-how-intense/
  1. Indonesia Sehat Bugar. Edukasi Publik 2014. [online] [diakses 5 Juli 2015]. Dari http://indonesia-segar.org/idn/
  1. Miris, Delapan dari Sepuluh Remaja Dinyatakan tidak Bugar. Republika Online [koran internet]. 23 Mei; 2015 [diunduh 5 Juli 2015]. Dari : http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/15/05/23/norj05-miris-delapan-dari-sepuluh-remaja-dinyatakan-tidak-bugar
  1. Indonesia Sehat Bugar. Workshop Aktivitas Fisik 2014. [online] [diunduh 5 Juli 2015]. Dari http://indonesia-segar.org/idn/tentang
  1. Global Strategy on Diet, Physical Activity and Health : Global recommendations on physical activity for health [internet]. WHO; 2015 [diunduh 5 Juli 2015]. Dari : http://www.who.int/dietphysicalactivity/factsheet_recommendations/en/
  1. Physical Activity Guidelines for Americans: Youth Physical Activity Recommendations [internet]. USA : Department of Health and Human Services [diunduh 5 Juli 2015]. Dari : http://health.gov/paguidelines/midcourse/youth-fact-sheet.pdf
  1. Healthy Kids. Guidelines and Recommendations [online] [diakses 5 Juli 2015]. Dari: https://www.healthykids.nsw.gov.au/kids-teens/stats-and-facts-teens/teens-physical-activity/guidelines-and-recommendations.aspx