Tahukah Anda, bahwa konsep akan latihan fisik sebagai bagian dari ‘obat’ sebenarnya sudah ada sejak lama. Kedokteran di hampir seluruh dunia telah lama berfokus dalam hal pengobatan terhadap orang sakit. Sejak awal abad dua puluh, dunia kedokteran mulai beralih pada tindakan untuk menjaga kesehatan serta pencegahan penyakit. Sebetulnya, sikap dunia kedokteran modern ini sudah pernah digalakkan oleh tokoh dunia kuno yaitu Hippocrates (460-370 SM), Plato (427-347 SM) dan Galen (129-210 M).1,2,3,4 Lebih dari sepertiga kematian di negara berkembang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Di Amerika Serikat, data kesehatan publik menunjukkan bahwa negara tersebut berhasil mengendalikan penyakit infeksi, terbukti hanya 1% orang yang meninggal sebelum usia 75 tahun disebabkan oleh infeksi. Akan tetapi, angka kematian yang disebabkan oleh penyakit kronis dan penyakit degeneratif  (seperti penyakit jantung koroner, obesitas, diabetes tipe 2, kanker, osteoporosis, dan lain sebagainya) mendominasi penyebab kematian dini tersebut. Padahal semua penyakit tersebut bisa dicegah dengan aktivitas fisik yang cukup.4,5,6 Tiga faktor utama yang mempengaruhi kesehatan dan panjang umur seseorang adalah genetik, lingkungan, dan perilaku. Tentu saja kita belum bisa mengatur genetik seseorang. Namun, yang bisa dilakukan adalah mengontrol faktor lingkungan dan perilaku. Usaha untuk mengontrol lingkungan telah banyak dilakukan, antara lain adalah dengan vaksinasi, perilaku hidup bersih dan sehat, terbitnya peraturan-peraturan keamanan dan kesehatan. Sangat disayangkan, usaha mengatur perilaku seperti aktivitas fisik masih terhitung kurang diperhatikan.6,7 Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa ada hubungan yang erat antara aktivitas fisik yang teratur terhadap kesehatan. Khususnya, berkaitan dengan pencegahan diabetes, hipertensi, kanker (khususnya kanker payudara dan usus), depresi, osteoporosis, dan dementia. Latihan fisik teratur dapat juga bermanfaat untuk menjaga berat badan yang sehat. Pada akhirnya aktivitas fisik sangat berkaitan erat dengan penyebab kematian secara keseluruhan.1,8 Panduan U.S. Federal Physical menyebutkan bahwa aktivitas fisik 150 menit per hari dengan intensitas sedang dapat memberikan manfaat kesehatan. Aktivitas fisik yang teratur dapat menurunkan resiko kematian sebesar 40%. Selain itu, penelitian menemukan bahwa orang berusia diatas 80 tahun akan mempunyai resiko kematian yang lebih rendah jika dibandingkan dengan orang berusia 60 tahun yang kurang aktif.7 Berbagai penelitian menemukan bahwa aktivitas fisik yang teratur dapat memberikan efek sebagai berikut:7
  • Mengurangi mortalitas dan menurunkan resiko kanker payudara sebesar 50%.
  • Menurunkan resiko kanker usus besar sebesar 60%.
  • Mengurangi resiko terjadinya penyakit Alzheimer’s sebesar 40%
  • Mengurangi kejadian penyakit jantung dan tekanan darah tinggi sebesar 40%.
  • Menurunkan resiko stroke sebesar 27%.
  • Menurunkan resiko mengidap diabetes tipe 2 sebesar 58%.
  • Dua kali lebih efektif dalam menangani penyakit diabetes tipe 2 dibandingkan dengan resep insulin standard.
  • Dapat mengurangi depresi sama efektifnya dengan obat anti depresi dan terapi perilaku.
  • Meningkatkan kekuatan otot, yang dimana terbukti mengurangi resiko kematian sebesar 20%.
  • Tingkat kebugaran yang rendah meningkatkan faktor resiko kematian dibandingkan dengan obesitas ringan-sedang.
  • Meningkatkan kedisiplinan dan kecerdasan otak.
Sejak tahun 2008, Royal College of Physicians (RCP) menggalakkan gerakan latihan fisik sebagai bagian dari peresepan obat. Pada tahun 2012, bersamaan dengan olimpiade London, RCP meluncurkan gerakan ‘Exercise is Medicine’. Kini, dokter dianjurkan untuk ‘meresepkan’ latihan fisik kepada Anda untuk dapat mencegah penyakit tertentu. Seperti halnya obat, latihan fisik ini tentu saja bersifat personal. Jenis, intensitas, dan frekuensi latihan fisik yang diresepkan kepada setiap pasien dapat berbeda-beda karena berdasarkan tujuan, status kesehatan dan resiko pasien yang berbeda pula.2,8 Kini Anda tidak perlu khawatir lagi untuk memikirkan apakah latihan fisik yang Anda lakukan sudah tepat.  Setidaknya, jenis, intensitas dan frekuensi latihan fisik yang perlu Anda lakukan sudah dapat diresepkan oleh dokter Anda. Sudahkah Anda meminta resep latihan fisik kepada dokter Anda untuk kesehatan Anda?   Referensi
  1. Beverage Institute Indonesia. 2013. Aktivitas Fisik bagi Kesehatan. 2013. http://www.beverageinstituteindonesia.org/expert/physical-activity-for-health-what-kind-how-much-how-intense/. Diakses pada tanggal 25 Maret 2015, pukul 09.00 WIB
  2. Beverage Institute Indonesia. 2013. Exercise Is Medicine. http://www.beverageinstituteindonesia.org/webinar/exercise-is-medicine/. Diakses pada tanggal 25 Maret 2015, pukul 11.00 WIB
  3. Sallis RE. Exercise is medicine and physicians need to prescribe it. Br J Sports Med. 2009 Jan;43(1):3-4. doi: 10.1136/bjsm.2008.054825. Epub 2008 Oct 29.
  4. Berryman JW. Exercise is Medicine: A Historical Perpective. Curr Sports Med Rep. 2010 Jul-Aug;9(4):195-201. doi: 10.1249/JSR.0b013e3181e7d86d.
  5. Boone T. Who Is Responsible for Prescribing Exercise Medicine? J Prof Exercise Physiology. 2014 February;12(2): 1-5.
  6. Exercise is Medicine. Healthcare Providers’ Action Guide.
  7. Exercise is Medicine. Exercise is Medicine ® Month 2014 Toolkit.
  8. Royal College of Physicians. Exercise for life: physical activity in health and disease. London: RCP, 2012.