Slogan hidup seimbang dengan bijak mengatur asupan kalori dan memenuhi kecukupan hidrasi serta hidup aktif dengan latihan fisik teratur kembali menjadi primadona dan sorotan penting. Latihan fisik, bersama-sama dengan penerapan pola konsumsi makanan, menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO karena angka kejadian penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, penyakit jantung koroner, hipertensi, dll cenderung meningkat dan hal ini berkaitan dengan pola makan dan juga latihan fisik. Bahkan, lebih jauh lagi, teori Barker atau “Fetal Origins Hypothesis” menyatakan bahwa penyakit jantung koroner dan penyakit-penyakit lainnya yang terkait (misalnya, hipertensi, stroke, dan diabetes tipe 2) berasal dari kekurangan nutrisi sejak dalam kandungan. Itu artinya, peran keluarga sangat menentukan kesehatan masa depan anak terhadap penyakit tidak menular! Data berbagai survei kesehatan di Indonesia menunjukkan berbagai peningkatan risiko PTM. Riskesdas (riset kesehatan dasar) 2007 menyatakan bahwa 48,2 persen penduduk Indonesia yang berusia lebih dari 10 tahun kurang melakukan latihan fisik. Sedangkan Data Susenas tahun 2003 menemukan bahwa penduduk berusia 10 ke atas, 74% kurang melakukan aktivitas selama perjalanan, 82 % kurang melakukan aktivitas di saat senggang, dan 14 persen kurang melakukan aktivitas dalam pekerjaan. Selain itu, penelitian pada tahun 2010 dinyatakan bahwa kebugaran jasmani orang Indonesia terhitung masih rendah. Kegemukan pada balita juga meningkat dari 12,2 % tahun 2007 menjadi 14% pada tahun 2010. Bahkan dikatakan bahwa pada saat ini untuk anak dan dewasa, 1 dari 4 penduduk Indonesia mengalami kegemukan dan obesitas. Wah, mengapa menjadi kompleks sekali? Apa kita benar-benar perlu memberikan perhatian sejauh itu? Ya, bahkan masih ada hal yang perlu kita pahami bersama: penyakit tidak menular (PTM) hanyalah puncak “fenomena gunung es”. Masalah yang lebih besar adalah proses pencegahan penyakit pada level individu, keluarga, dan masyarakat dalam menangani faktor risiko umum: kurang konsumsi sayur dan buah, kurang aktivitas, merokok, dan konsumsi minuman beralkohol. [caption id="attachment_27551" align="aligncenter" width="528"]Penyakit Tidak Menular perlu dicegah dengan hidup aktif dan seimbang Fenomena Gunung Es Penyakit Tidak Menular[/caption] Latihan fisik Bersama Keluarga Sebagai Salah Satu Opsi Latihan fisik bersama keluarga merupakan salah satu pilihan dalam menanggulangi dasar “gunung es”. Orang tua adalah role model bagi anak-anaknya. Ketika anak Anda melihat Anda giat berlatihan fisik, lebih besar kemungkinan mereka akan melakukan hal yang sama.  Apa sajakah manfaat latihan fisik?
  • Membangun tulang yang kuat.
  • Mengurangi risiko obesitas, DM tipe 2, dan juga penyakit jantung.
  • Dapat mengurangi kecemasan, depresi, dan meningkatkan kesehatan mental.
Hal-hal yang dapat Anda mulai:
  • Mengajak berjalan kaki atau bersepeda minimal 10 menit untuk bekerja atau bersekolah.
  • Tinggalkan menonton televisi berlebihan. Anak usia 2 tahun atau lebih sebaiknya TIDAK menghabiskan waktu lebih dari 2 jam/hari untuk menonton televisi, bermain video games, atau menggunakan komputer. Batasi waktu menonton televisi, tapi jangan jadikan waktu menonton televisi sebagai reward atau hukuman bagi anak. Cara lain untuk membatasi waktu menonton televisi adalah dengan menaruh televisi di ruang keluarga, bukan di ruang kamar anak.
  • Bercocok Tanam. Ya, bercocok tanam dapat menjadi pilihan latihan fisik bersama keluarga baik pada lahan maupun pada pot.
  • Bermain bersama. Untuk memulai hal ini, amati kegiatan keluarga selama satu minggu, kenali waktu yang tepat untuk melakukan latihan fisik bersama. Setelah Anda mengamati pola waktu mingguan di keluarga Anda, Anda bisa mulai mengajak keluarga untuk bermain bersama dengan mencari fasilitas di sekitar lingkungan tempat tinggal yang cukup terjangkau, misalnya, bermain tenis, bersepeda bersama, jalan-jalan sore atau ke kolam renang.
Berapa Ukuran Latihan fisik yang Disarankan? Rekomendasi WHO adalah individu melakukan latihan fisik selama 30 menit secara reguler dengan intensitas sedang. Untuk anak-anak disarankan agar anak-anak mencapai latihan fisik hingga 60 menit atau lebih per hari baik, baik intensitas sedang, maupun intensitas penuh. Latihan dengan intensitas penuh dilakukan cukup 3 kali dalam seminggu. Cakupan latihan yang dapat dilakukan:
  • Aktivitas aerobik: mengendarai sepeda, jalan cepat, berlari, senam, atau olahraga permainan seperti sepak bola atau basket.
  • Olahraga Penguat Otot: untuk anak-anak mencakup senam dan permainan yang memanjat. Untuk remaja mencakup push-up, pull-up, dan latihan angkat beban.
  • Aktivitas penguat tulang: berlari, aktivitas yang menggunakan loncatan atau permainan loncat tali,  olahraga seperti senam, tenis, dan basket
Bagaimana Mengukur Aktivitas Intensitas Sedang dan Penuh? Intensitas sedang akan membuat jantung anak berdenyut lebih cepat dan bernafas lebih cepat. Intensitas penuh akan jauh lebih mempercepat denyut jantung, dan juga membuat anak tampak bernafas lebih berat. Buat skala usaha dari 0 hingga 10. Saat duduk adalah 0, sedangkan 10 adalah level usaha paling tinggi. Berilah 5-6 untuk intensitas sedang, dan 7-8 untuk intensitas penuh. Contoh intesititas sedang adalah jalan cepat, hiking, mengendarai sepeda, bermain sepatu roda, skateboard, atau rollerblade. Sedangkan intensitas penuh mencakup sepak bola, hoki, loncat tali, atau permainan yang melibatkan lari.   Daftar Pustaka
  1.  Barker, David J. The Malnourished Baby and Infant Relationship with Type 2 Diabetes. Br Med Bull[internet]. 2001: 69-88. Available from: http://bmb.oxfordjournals.org/content/60/1/69.full
  2. Kementerian Kesehatan RI. Strategi Nasional Penerapan Pola Konsumsi Makanan dan Latihan fisik untuk Mencega Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI 2011. Available from: http://gizi.depkes.go.id/download/Pedoman%20Gizi/STRANAS%20kt%20penganta.pdf-gabung.pdf
  3. U.S. Department of Health and Human Services. The Physical Activity Guidelines for Children and Adolescent [internet]. Washington, DC: U.S. Department of Health and Human Services; 2009 Available from: http://www.cdc.gov/healthyyouth/physicalactivity/toolkit/youth_pa_guidelines_families.pdf
  4. U.S. Department of Health and Human Services. Youth Physical Activity: The Role of Families [internet]. Washington, DC: U.S. Department of Health and Human Services; 2009 Available from: http://www.cdc.gov/healthyyouth/physicalactivity/toolkit/factsheet_pa_guidelines_families.pdf
  5. World Health Organization. A Frame Work to Monitor and Evaluate Implementation WHO Global Stratety on Diet, Physical Activity and Health [internet]. Geneva: World Health Organization; 2008 Available from: http://gizi.depkes.go.id/download/Pedoman%20Gizi/STRANAS%20kt%20penganta.pdf-gabung.pdf
  6. World Health Organization. Global Stratety on Diet, Physical Activity and Health [internet]. France: World Health Organization; 2004 Available from: http://www.who.int/dietphysicalactivity/strategy/eb11344/strategy_english_web.pdf
  7. Manfaat Kesehatan dari Aktifitas Fisik - The Coca Cola Beverage Institute for Health and Wellness Indonesia. [homepage on the Internet]. 2013 [cited 2014 May 26]. Available from: The Beverage Institute for Health and Wellness Indonesia, Web site: Manfaat Kesehatan dari Aktifitas Fisik - The Coca Cola Beverage Institute for Health and Wellness Indonesia
  8. Empat Langkah Sederhana Meningkatkan Aktifitas Fisik - The Coca Cola Beverage Institute for Health and Wellness Indonesia. [homepage on the Internet]. 2013 [cited 2014 May 26]. Available from: The Beverage Institute for Health and Wellness Indonesia, Web site: Empat Langkah Sederhana Meningkatkan Aktifitas Fisik - The Coca Cola Beverage Institute for Health and Wellness Indonesia
  9. Aktifitas Fisik - The Coca Cola Beverage Institute for Health and Wellness Indonesia. [homepage on the Internet]. 2013 [cited 2014 May 26]. Available from: The Beverage Institute for Health and Wellness Indonesia, Web site: http://beverageinstitute.org/indonesia/landing_page/physical-activity/