Seiring dengan  berkembangnya pengetahuan dan teknologi seputar makanan dan minuman, masyarakat semakin memperhatikan efek dari makanan ataupun minuman yang mereka konsumsi terhadap kesehatan. Salah satu yang marak dibahas oleh masyarakat adalah sensasi ‘krenyes’ di lidah dari minuman bersoda atau minuman berkarbonasi, mulai dari kesalahan informasi akibat penjelasan yang kurang ilmiah hingga paranoia karena kurangnya pengertian masyarakat akibat mis-informasi ini.

Minuman berkarbonasi beredar sejak awal abad 19 dalam bentuk air bersoda dan tahun 1851 mulai diproduksi minuman berkarbonasi dengan perisa. Minuman bersoda sendiri mulai beredar di Indonesia sejak tahun 1927. Jadi bisa disimpulkan bahwa minuman berkarbonasi bukanlah hal baru tapi yang perlu diperhatikan adalah fakta-fakta di balik rumor yang marak diperbincangkan di masyarakat. Oleh karena itu, Southeast Asia Food and Agricultural & Tehnology (SEAFAST) Center dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan studi literatur terhadap kebenaran hal ini. Asosiasi Industri Minuman Ringan atau ASRIM juga mengundang para pakar, Dr. Puspo Edi Giriwono (Peneliti dari SEAFAST Center), Prof. Dr. Made Astawan (Ahli Gizi dan Pakar Teknologi Pangan) serta Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB (Pakar Gastroenterologi) untuk membahas efek karbonasi pada minuman terhadap kesehatan manusia. [caption id="attachment_26217" align="aligncenter" width="400"]Diskusi media ASRIM dan SEAFAST Center Kupas Fakta Minuman Berkarbonasi bersama ASRIM, SEAFAST dan dokter pakar gastroenterologi[/caption] Karbonasi pada minuman Karbonasi dalam minuman dilakukan melalui proses karbonasi, memasukkan karbon dioksida (CO2) ke dalam cairan dengan tekanan tinggi. Karbonasi inilah yang akan menghasilkan gelembung dalam minuman dengan cita rasa ‘mengigit’ atau ‘krenyes’. Penggunaan karbon dioksida dalam minuman telah dimulai sejak abad ke-18 di Inggris. Metode ini diaplikasikan oleh para produsen minuman ringan berperisa untuk menciptakan sensasi sparkle dan segar. Karbon dioksida ini aman untuk digunakan dalam produk minuman. Hasil kajian Join Expert Committee on Food Additives (JECFA) memang belum menetapkan berapa nilai ADI atau Asupan Harian yang Diperbolehkan untuk karbon dioksida ini namun, dikatakan lebih lanjut, bahwa hal ini menunjukkan tidak adanya kekhawatiran risiko mengenai penambahan CO2 dalam minuman. Badan Pengawas Obat dan Makanan juga menetapkan bahwa karbon dioksida sebagai bahan pengkarbonasi sudah diijinkan penggunaannya pada produk pangan untuk membentuk karbonasi pada makanan dan minuman. Ahli gizi dan pakar teknologi pangan, Prof. Dr. Made Astawan, juga mengatakan, “Minuman bersoda akan tetap ‘menggigit’ atau ‘krenyes’ selama kemasannya belum dibuka. Menariknya, saat diminum, sebagian besar karbonasi ini tidak sampai di lambung karena sebagian besar gas sudah menguap ketika kemasan dibuka.” Lanjutnya lagi, “Jadi hanya gelembung yang tersisa dalam minuman akan segera diserap melalui dinding saluran cerna. Jumlah ini relatif sangat kecil dibandingkan dengan jumlah karbon dioksida yang dihasilkan dari tubuh secara alami melalui metabolisme karbohidrat, protein dan lemak menjadi energi.” Efek karbonasi terhadap kesehatan Banyak rumor yang beredar mengenai kekhawatiran terhadap efek karbonasi untuk kesehatan. Hal inilah yang melatarbelakangi studi yang dilakukan oleh SEAFAST Center. Berikut ini adalah pemaparan hasil studi literaturnya:
  1. Karbonasi dan kesehatan mulut: berdasarkan hasil riset, karbonasi tidak dapat menjadi penyebab tunggal kerusakan gigi yang terjadi. Studi klinis menunjukkan bahwa rusaknya enamel gigi lebih disebabkan karena faktor lainnya yang memudahkan keasaman air liur meningkat dengan cepat seperti penderita karies atau gigi berlubang. Sehingga perlu diperhatikan tingkat keasaman tinggi tersebut yang juga didapat dari produk makanan dan minuman lain yang tidak berkarbonasi. Menjaga kesehatan gigi adalah faktor penting dalam kesehatan gigi.
  2. Karbonasi dan kanker esofagus atau kerongkongan: temuan terakhir hasil penelusuran literatur pada beberapa artikel medis, memusatkan perhatian pada dampak lebih lanjut dari penyakit GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease yaitu meningkatnya risiko timbulnya kanker esofagus atau kerongkongan. Hasil studi ini menegaskan bahwa TIDAK ada keterkaitan konsumsi minuman berkarbonasi dengan kanker esofagus. Faktor dominan penyakit kanker ini adalah merokok, obesitas dan konsumsi alkohol.
  3. Karbonasi dan kesehatan lambung: hasil penelurusan berbagai artikel ilmiah tentang dampak karbonasi terhadap kesehatan saluran pencernaan tidak ditemukan adanya korelasi antara karbonasi dalam minuman dengan kesehatan saluran pencernaan. Faktor yang menyebabkan penyakit pada saluran cerna sangat kompleks sehingga tidak bisa disimpulkan minuman ringan berkarbonasi menyebabkan ternjadinya penyakit – penyakit ini.
Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, seorang pakar gastroenterologi dari Universitas Indonesia juga menambahkan mengenai keterkaitan minuman berkarbonasi terhadap kesehatan lambung, “Secara penelitian klinis juga memperlihatkan bahwa konsumsi minuman berkarbonasi oleh seseorang dalam kondisi yang sehat dalam jumlah yang wajar tidak akan menimbulkan gangguan terhadap kesehatan lambung.” Hasil studi literatur SEAFAST Center ini akan mulai dipublikasikan pada bulan April 2014 supaya masyarakan bisa mendapatkan informasi yang benar mengenai minuman berkarbonasi dan lebih memahami fakta di balik karbonasi ini. “Kami ingin membantu membangun masyarakan yang lebih memahami apa yang mereka konsumsi, tidak berdasarkan pada persepsi umum semata namun informasi yang berlandaskan pada bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga mereka dapat membuat keputusan”, tegas Suroso.   Sumber: Kupas Fakta Tentang Karbonasi Dalam Minuman: Pemaparan Hasil Studi Literatur "Efek Karbonasi dalam Minuman Terhadap Kesehatan". ASRIM 2014 Apr 2.