Tubuh kita membutuhkan asupan kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalori yang didapat tidak hanya dari makanan, tetapi juga dari minuman. Sumbangan makanan pokok, lauk pauk dan penggunaan minyak berpengaruh ke dalam jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh. Begitu juga minuman ringan berpemanis, misalnya teh dalam kemasan, isotonik, sari buah, hingga minuman berkarbonasi/bersoda mengandung gula yang menyumbang terhadap asupan kalori pada tubuh. Komposisi zat gizi yang menyumbang asupan kalori berdasarkan karbohidrat, protein dan lemak. Banyak informasi yang beredar di masyarakat bahwa konsumsi kalori yang berlebih terutama pada minuman berpemanis mengakibatkan berbagai macam penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, hingga gangguan ginjal. Pentingnya memperhatikan keseimbangan kalori untuk mencegah resiko gangguan ginjal. Pada kesempatan ini  Asosiasi Industri Minuman Ringan atau ASRIM mengundang para pakar, Dr. Elvina Karyadi, MSc, PhD, SpGK (Dokter Spesialis Gizi Klinik) dan Dr.Ginova Nainggolan, SpPD KGH (Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Ginjal  dan Hipertensi) untuk membahas isu seputar faktor keseimbangan kalori dan resiko gangguan ginjal. Dr. Elvina Karyadi, MSc, PhD, SpGK, sebagai narasumber tentang gizi menjelaskan bahwa makanan yang kita dapat dari kebutuhan karbohidrat, protein dan lemak. Bentuk karbohidrat tidak saja karbohidrat kompleks, tetapi juga karbohidrat sederhana termasuk gula.  Gula tidak hanya terdapat pada makanan, tetapi juga pada minuman.  Kelebihan asupan kalori dapat menyebabkan diabetes. Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Ginjal & Hipertensi, Dr. Ginova Nainggolan, SpPD-KGH, mendukung pernyataan tersebut bahwa kondisi diabetes dan hipertensi merupakan faktor pendorong terjadinya penyakit ginjal. Menurut beliau jika kita menarik kesimpulan bahwa peningkatan resiko penyakit ginjal disebabkan oleh satu faktor tunggal seperti halnya mengkonsumsi minuman berpemanis atau minuman bersoda misalnya, maka hal itu tidak tepat. Penurunan fungsi ginjal itu penyebabnya kompleks dan multi faktor. Kita tidak bisa mengarahkan pada satu penyebab saja. Gaya hidup santai (kurang gerak) yang ditambah dengan pola asupan gizi tidak seimbang justru berperan penting dalam meningkatkan resiko penyakit ginjal, merupakan pernyataan dari Dr. Ginova Nainggolan, SpPD-KGH. Dr. Elvina menambahkan bahwa obesitas penyumbang kejadian diabetes merupakan akibat dari diet buruk dengan jumlah lemak lebih tinggi atau sama dengan jumlah karbohidrat, seharusnya diet yang dilakukan dalam keadaan seimbang yaitu jumlah karbohidrat 60%, lemak 25% dan protein 15%. Apabila konsumsi diet tidak seimbang disertai dengan kurangnya olahraga dan peningkatan sres, dapat  meningkatkan resiko kejadian diabetes. sharma-obesity-headless-person1 Hasil kajian dari US National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Desease mengidentifikasikan bahwa resiko penyakit ginjal kronis disebabkan oleh faktor-faktor seperti: diabetes, tekanan darah tinggi, dan sejarah medis keluarga yang mengidap gagal ginjal. Sebesar 26% penyakit ginjal disebabkan oleh diabetes dan sebesar 31% penyakit ginjal disebabkan hipertensi. Dr. Ginova Nainggolan, SpPD-KGH menyatakan tidak ada korelasi langsung antara minuman bersoda dengan gangguan ginjal. Salah satu temuannya yang sudah dipublikasikan sebagai Jurnal Ilmiah. (American Journal of Clinical Nutrition. First published ahead of print September 9, 2009) adalah tidak ada perbedaan dalam hal resiko secara klinis pada penurunan fungsi ginjal dengan minuman berpemanis. Penelitian ini juga menyimpulkan adanya kelemahan hubungan konsumsi minuman berpemanis dengan peningkatan resiko penyakit ginjal kronis. “Selama diikuti dengan gaya hidup yang seimbang, meminum minuman bersoda tidak serta merta merusak fungsi ginjal. Konsumsi berbagai jenis obat-obatan yang tidak mengindahkan anjuran-anjuran dokter dan dilakukan secara berkepanjangan justru lebih meningkatkan resiko kerusakan ginjal,” jelas dr. Ginova. Dr. Elvina menambahkan bahwa perlunya konsumsi diet yang seimbang dengan menerapkan pedoman gizi seimbang dengan 4 pilar penyangganya, yaitu makan makanan yang beragam, menerapkan pola hidup bersih , melakukan aktivitas fisik dan memantau berat badan ideal turut membantu mencegah resiko penyakit ginjal. Dr. Ginova turut menjelaskan bahwa untuk mencegah penyakit ginjal, maka perlu rutin cek tekanan darah dan gula darah serta hindari konsumsi obat sembarangan. “Masyarakat harus mendapatkan informasi yang benar dan komprehensif terkait dengan isu-isu kesehatan, termasuk tentang asupan makanan dan minuman, serta pentingnya gaya hidup aktif. Kesimpangsiuran informasi dapat membingungan masyarakat, dan lebih jauh menciptakan persepsi yang salah. Kita ingin membangun masyarakat yang semakin pintar dan kristis. Salah satunya dengan menghadirkan informasi-informasi seputar produk minuman yang disertai dengan bukti penelitian ilmiah teruji,” ungkap Suroso Natakusuma, Sekretaris Jenderal (Sekjen) ASRIM dalam media briefing Korelasi Keseimbangan Kalori dan Gangguan Ginjal di Jakarta, hari ini (26/02/2015). Sumber: Memahami Faktor Keseimbangan Kalori dan Hubungannya Dengan Resiko Gangguan Ginjal: Konsumsi Minuman Karbonasi  dengan  Resiko Penyakit Ginjal. ASRIM 2015 Februari 26th.