Umumnya aktivitas remaja sangat tinggi setiap harinya. Mereka bisa berangkat pagi-pagi dan pulang menjelang malam untuk mengikuti semua kegiatan sekolah dan kegiatan tambahan lain di luar sekolah. Akibatnya, segala kebutuhan remaja saat beraktivitas akan mereka penuhi dengan cara yang singkat agar tidak mengganggu aktivitas harian mereka. Dalam hal ini termasuk saat mereka memenuhi kebutuhan makan. Masa remaja merupakan masa transisi dari seorang anak menjadi dewasa, dan tidak ada batasan umur yang baku untuk mendefinisikan masa ini namun sebagian besar berpendapat bahwa masa remaja dimulai semenjak pubertas hingga usia 18 tahun1. Sayangnya, banyak orang dewasa yang seringkali mengabaikan masa remaja seorang anak terutama karena perubahan psikososial yang dihadapi mereka, mereka cenderung dianggap pemberontak. Namun, sebenarnya masa ini merupakan masa yang penting dalam kehidupan seorang manusia. Selama masa ini, pertumbuhan seorang anak terus terjadi dengan pesat, seperti di tahun pertama kehidupan seorang anak. Terlebih, remaja tidak hanya mengalami pertumbuhan secara biologis namun juga secara psikologis dan sosial. Sehingga pantaslah bila remaja memerlukan kecukupan gizi yang baik, tidak kalah dengan 5 tahun pertama kehidupan seorang anak.  Permasalahan dalam Pemenuhan Gizi Remaja Masalah yang sering dihadapi oleh para remaja dalam memenuhi kebutuhan makannya adalah kecenderungan peningkatan konsumsi lemak total, lemak tersaturasi, kolesterol, garam dan gula serta kurangnya konsumsi buah, sayur dan makanan yang mengandung kalsium.2,4 Pola hidup seperti ini didukung oleh mudahnya akses untuk mendapatkan makanan tidak sehat yang murah dan cepat namun tinggi lemak dan gula serta rendah kandungan gizi seperti kentang goreng, permen, keripik dan soda. Hal ini juga diperparah dengan ketidakterlibatan orangtua dalam memberikan contoh gaya hidup sehat, kurangnya pengetahuan orangtua dalam menyiapkan makanan sehat bagi remaja dan lingkungan yang mendukung gangguan pola makan remaja seperti ketakutan untuk bertambah berat badan, atau keinginan membangun otot yang banyak dipengaruhi dari media. Kebutuhan Gizi Remaja Dalam sehari remaja membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan semasa anak-anak. Rata-rata kebutuhan remaja pria 1800-2300 kal/hari dan remaja perempuan 1600-2400 kal/hari. Kebutuhan ini didapat melalui makanan yang meruapakan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan serat. Berikut adalah tabel yang menujukan kebutuhan gizi harian remaja sesuai dengan usia dan jenis kelaminnya:

Zat gizi

Perempuan

Laki-laki

9-13 tahun

14-18 tahun

9-13 tahun

14-18 tahun

Karbohidrat (g/hr)

130

Serat total (g/hr)

26

28

31

38

Protein (g/hr)

34

46

34

52

n-6 Polysaturated Fat (g/hr)

10

11

12

16

n-3 Polysaturated Fat (g/hr)

1.0

1.1

1.2

1.6

Vitamin A (µg/hr)

600

700

600

900

Vitamin C (mg/hr)

45

65

45

75

Vitamin D (µg/hr)

5

Vitamin E (mg/hr)

11

15

11

15

Vitamin K (µg/hr)

60

75

60

75

Folat (µg/hr)

300

400

300

400

Kalsium (mg/hr)

1300

Zink (mg/hr)

8

9

8

11

Besi (mg/hr)

8

15

8

11

Disadur dari Guidelines for Adolescent Nutrition Services2

Akibat Jangka Panjang Bila kebutuhan zat gizi yang diperlukan selama masa remaja tidak dipenuhi maka akan berdampak terhambatnya pubertas yang dapat berdampak langsung pada fertilitas saat dewasa kelak dan juga berhentinya pertumbuhan. Tidak menutup kemungkinan, buruknya kualitas gizi yang dipilih saat remaja akan membawa akibat munculnya penyakit yang terkait dengan gizi secara langsung seperti obesitas atau anoreksia, atau yang tidak langsung seperti penyakit kardiovaskular, kanker dan osteoporosis yang bersifat kronis2,3. Perbaikan Pola Makan Selain memenuhi angka kecukupan yang ada pada tabel di atas, kebiasaan makan yang baik harus terus diterapkan pada masa remaja agar mereka menjadi terbiasa untuk menjalani hidup sehat saat dewasa kelak. Kebiasaan tersebut yaitu1,4 : -        Biasakan untuk memenuhi kebutuhan minum, minimal 8 gelas setiap harinya. Sumber minuman yang bisa dikonsumsi antara lain air putih, susu, jus buah, atau minuman dengan pemanis rendah atau tanpa kalori. -        Kurangi budaya “snacking” pada jam-jam selain jam makan dan tingkatkan budaya makan bersama keluarga dengan bahan makanan yang dimasak sendiri dan mengurangi konsumsi makanan cepat saji yang seringkali tinggi lemak dan garam. -        Tingkatkan konsumsi sayuran, buah-buahan dan gandum. Kurangnya konsumsi bahan ini menyebabkan kekurangn beberapa vitamin dan mineral. -        Tingkatkan konsumsi protein dibandingkan karbohidrat berlebih. -        Selain memperbaiki pola makan, tidak ada salahnya mengajarkan aktivitas fisik bagi para remaja. -        Sekolah dapat berperan untuk mempromosikan pola makan yang sehat serta memastikan asupan gizi pada pelajar. Pemberian akses yang mudah dan gratis terhadap air putih serta pemberian pendidikan mengenai gizi sebagai salah satu kurikulum di sekolah dapat menjadi bekal bagi para remaja untuk  dewasa kelak.   Daftar Pustaka :
  1. Lissauer T, Clayden G. Illustrated Textbook of Paediatrics. 4th ed. 2012. Elsevier :London, p.215-217,416-417 .
  2. Stang J, Story M (eds). Guidelines for Adolescent Nutrition Services. 2005. Diakses di www.epi.umn.edu/let/pubs/adol_book.shtm pada tanggal 6 Agustus 2014.
  3. Centers of Disease Control and Prevention. Adolescent and School Health, pembaruan terakhir Maret 2014. Diakses di www.cdc.gov/healthyyouth/nutrition/facts.htm pada tanggal 6 Agustus 2014.
  4. California Departement of Public Health. California Nutrition and Physical Activity Guidelines for Adolescents. 2012. Diakses di www.cdph.ca.gov pada 8 Agustus 2014.