Permasalahan berat badan seperti obesitas dapat menyerang segala usia, terlebih remaja. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi gemuk pada remaja umur 13-15 tahun di Indonesia sebesar 10,8 persen, terdiri dari 8,3 persen gemuk dan 2,5 persen sangat gemuk (obesitas). Sementara itu, prevalensi gemuk pada remaja umur 16 – 18 tahun sebanyak 7,3 persen yang terdiri dari 5,7 persen gemuk dan 1,6 persen obesitas.1 Peningkatan prevalensi obesitas ini berkaitan dengan terjadinya perubahan tren gaya hidup sehari-hari. Secara klinis, dalam jangka panjang akan berpengaruh pada meningkatnya resiko terhadap kesehatan, khususnya berbagai penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi, dan ganguan jantung, bahkan pada usia muda.2 Salah satu perubahan tren terjadi adalah kurangnya aktivitas fisik pada remaja. Hal tersebut terjadi karena perkembangan teknologi yang mendukung kativitas fisik pada remaja berkurang. Remaja pada saat ini cenderung menghabiskan waktu lebih banyak di dalam ruangan, seperti bermain komputer atau menonton televisi. Terlebih ketika gaya hidup pasif/santai tersebut diikuti dengan perubahan pola makan, seperti lebih banyak konsumsi camilan saat menonton televisi atau kegiatan lainnya. Apabila obesitas terjadi pada masa kanak-kanak, maka obesitas dapat berlanjut hingga remaja dan dewasa.3,4 Obesitas pada dasarnya terjadi karena ketidakseimbangan energi yang tidak tepat. Keseimbangan energi penting untuk mempertahankan berat badan yang sehat. Keseimbangan energi menggambarkan hubungan antara kalori (energi) yang dikonsumsi dari makanan dan minuman dan kalori (energi) yang dibakar oleh tubuh. Bagi sebagian besar orang, bila kalori (MASUK) = kalori (KELUAR), berat badan akan tetap stabil. Bila asupan melebihi pengeluaran secara terus-menerus, maka berat badan akan naik. Sebaliknya, bila kalori yang dibakar lebih banyak secara terus-menerus dibanding yang dikonsumsi, maka terjadi penurunan berat badan.3 Beberapa pedoman terbaru menjelaskan bawa sebagian besar orang dewasa membutuhkan aktivitas fisik dengan intensitas sedang minimal 150 menit per minggu. Manfaat kesehatan yang lebih besar lagi dapat diperoleh dengan meningkatkan durasi, frekuensi, atau intensitas aktivitas fisik. Sebagian orang dapat meningkatkan kesehatan dan kebugarannya dengan aktif bergerak secara teratur tanpa memandang umur, kelompok etnis, serta bentuk, atau ukuran tubuh. Bahkan, semua jenis aktivitas fisik, antara lain berjalan, berkebun, melakukan olahraga, dan melakukan aktivitas rumah tangga dapat berperan dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.5 Diet untuk menurunkan berat badan menggunakan prinsip keseimbangan energi. Ada beberapa metode dalam pengaturan pola makan, salah satunya adalah ‘The Trafficlight Diet’. Tujuan program ini adalah menyediakan nutrisi terbaik dengan asupan energi terendah. Asupan energi harian berkisar antara 900-1200 kkal (378—5040 KJ)/hari, dan penelitian terbaru menetapkan asupan energi menjadi 1500 kkal (6300 kJ)/hari. Pada program ini terdapat green food yaitu makanan rendah kalori dan lemak yang boleh dikonsumsi bebas, yellow food artinya makanan rendah lemak, tetapi kandungan kalori sedang dan dikonsumsi dalam jumlah terbatas, dan red food yaitu makanan dengan kandungan lemak dan kalori tinggi dan dikonsumsi  sekali dalam seminggu.6 Berikut ini tips untuk menurunkan berat badan pada remaja:
  1. Pengaturan pola makan.
Mengurangi porsi makan dan camilan yang mengandung lemak bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menurunkan berat badan. Tidak hanya makanan, konsumsi jenis minuman tertentu juga menyebabkan terjadinya obesitas. Pilihlan jenis minuman dan makanan dengan kandungan kalori yang rendah hingga sedang. Hindari pemilihan makanan atau minuman tinggi kalori.6,7
  1. Kelola kalori harianmu dengan memilih jenis makanan dengan kandungan kalori yang rendah. Jangan ragu-ragu melakukan perbandingan antara jumlah kalori per sajian dan ukuran sajian pada setiap label kemasan makanan atau minuman.7
  2. Gantilah makananmu dengan buah dan sayur serta makanan dengan kandungan karbohidrat kompleks, seperti gandum, oat dan nasi merah agar tubuh tidak cepat lapar, sehingga asupan makanan tetap terjaga.8
  3. Imbangi kegiatan dengan aktivitas fisik. Aktivitas fisik mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap penggunaan energi. Latihan aerobik teratur dikombinasikan dengan pengurangan energi akan menghasilkan penurunan berat badan yang lebih besar dibandingkan hanya dengan diet. Berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah, naik turun tangga untuk membakar kalori serta mengurangi durasi menonton televisi atau bermain komputer bisa membantu menurunkan berat badan. Dianjurkan melakukan aktivitas fisik sedang selama 20-30 menit setiap hari.3,9
Konsultasikan diri dengan dokter dan ahli gizi sebelum melakukan program diet untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda. Pengelolaan makan, minum dan aktivitas fisik yang rutin dan intensif membantu Anda mendapatkan berat badan ideal. Jangan lupa untuk selalu memotivasi diri untuk hidup sehat dimanapun Anda berada.   DAFTAR PUSTAKA
  1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Status Gizi Anak Umur 5-18 tahun. Riset Kesehatan Dasar 2013. Indonesia: Kementerian Kesehatan RI; 2013. Hal.256–262.
  2. Scottish Intercollegiate Guidelines Network. Management of obesity : a national clinical guideline. Edinburgh: SIGN; 2010.
  3. Beverage Institute for Health and Wellness. 2013. Keseimbangan Energi. [online] Diakses 7 Juli 2015 http://www.beverageinstituteindonesia.org/landing_page/energy-balance/#
  4. Sjarif DR, Lestari ED, Mexitalia M, Nasat SS. Obesitas pada Anak dan Remaja. Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. 1st ed. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2011. Hal. 230 – 244.
  5. Beverage Institute for Health and Wellness. 2013. Aktivitas Fisik [online] Diakses 7 Juli 2015 http://www.beverageinstituteindonesia.org/landing_page/physical-activity/
  6. Kalavainen M, Utriainen P, Vanninen E, Korppi M, Nuutinen O. Impact of childhood obesity treatment on body composition and metabolic profile. World Journal of Pediatrics. 2011 Nov 21;8(1):31–7.
  7. Beverage Institute for Health and Wellness. 2013. Tips untuk Mengelola Kalori dari Minuman. [online] Diakses 7 Juli 2015 http://www.beverageinstituteindonesia.org/article/tips-for-managing-beverage-calories/
  8. Spear et al. Recommendations for Treatment of Child and Adolescent Overweight and Obesity. Illinois: AAFP; 2007
  9. Beverage Institute for Health and Wellness. 2013. Aktivitas Fisik Bagi Kesehatan. [online] Diakses 7 Juli 2015 http://www.beverageinstituteindonesia.org/expert/physical-activity-for-health-what-kind-how-much-how-intense/