Salah satu gangguan kesehatan yang menyerang tulang dan banyak dikhawatirkan adalah osteoporosis. Pasalnya komplikasi yang mungkin terjadi akibat osteoporosis dapat menyebabkan terbatasnya aktivitas sehari-hari. Osteoporosis berisiko menyebabkan patah tulang, nyeri, dan kelainan bentuk tulang. Keadaan ini membuat perubahan gaya hidup, gangguan psikososial seperti depreasi, hilangnya kepercayaan diri, bahkan kematian. Osteoporosis merupakan kelainan tulang yang ditandai dengan rendahnya massa tulang, pengeroposan tulang, rusaknya arsitektur tulang dan gangguan kekuatan tulang yang meningkatkan risiko patah tulang.1 Menurut National Osteoporosis Foundation (NOF), osteoporosis telah menyerang lebih dari 9,9 juta warga Amerika yang berusia di atas 50 tahun, dan hampir 43,1 juta warga lainnya berisiko terkena penyakit tersebut akibat rendahnya massa tulang.1 Sementara di Indonesia, data penderita Osteoporosis pada tahun 2005 adalah sebesar 19,7%.6 Tak hanya menyebabkan gangguan kesehatan dan psikologis saja, NOF juga memperkirakan kerugian finansial akibat osteoporosis, baik yang disebabkan oleh rendahnya produktifitas dan tingginya biaya pengobatan akan terus meningkat hingga tahun 2025.1 Oleh karena itu, kita perlu mengatasi osteoporosis sejak dini untuk menurunkan risiko patah tulang dan komplikasinya serta meminimalisir kerugian materi yang akan dialami. Beberapa cara untuk mencegah terjadinya osteoporosis, antara lain:
  • Konsumsi kalsium dan vitamin D dalam jumlah cukup sesuai kebutuhan tubuh. Anda juga bisa mengonsumsi suplemen bila diperlukan.1
  • Melakukan latihan fisik secara teratur. Sebaiknya latihan fisik yang dilakukan adalah yang bersifat menahan beban dan memperkuat otot untuk meningkatkan ketangkasan, kekuatan, postur tubuh, keseimbangan, menurunkan risiko terjatuh dan patah tulang.1,2
  • Modifikasi gaya hidup, misalnya dengan mengurangi konsumsi alkohol, kafein, dan rokok.4 Zat nikotin dalam rokok mempercepat proses penyerapan tulang. Apalagi bagi wanita, nikotin bisa menurunkan aktivitas estrogen dalam tubuh sehingga susunan sel tulang tidak lagi kuat dalam menghadapi proses pelapukan.3 Selain itu, kafein dan alkohol juga bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas).3
Diperlukan deteksi dini pada beberapa orang yang memiliki risiko tinggi terkena osteoporosis. NOF merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan densitas massa tulang (bone mass density) bagi wanita yang berusia lebih dari 65 tahun, pria usia lebih dari 70 tahun tanpa risiko, dan pada wanita pascamenopause di atas 50-69 tahun dengan faktor risiko yang nyata. Pemeriksaan ini bisa dilakukan paling tidak setiap 2 tahun sekali.1,5 Jika telah mengalami gejala atau diketahui berisiko tinggi terkena osteoporosis, tatalaksana atau melakukan perawatan sejak dini penting dilakukan untuk mencegah hal yang lebih buruk lagi pada tulang. Caranya dengan mempertahankan konsumsi protein dalam jumlah cukup, menggunakan penyangga tubuh yang sesuai, penggunaan pelindung panggul bagi seseorang dengan risiko terjatuh yang tinggi. Selain itu, buat lingkungan rumah seaman mungkin bagi penderita, misalnya dengan menyediakan pegangan pada tangga. Latihan keseimbangan juga diperlukan dan mengontrol konsumsi obat-obatan yang bisa menekan susunan saraf pusat. Bahkan bila diperlukan perlu juga untuk mengoreksi gangguan pandangan dan pendengaran.1   Referensi
  1. National Osteoporosis Foundation Clinician's guide to prevention and treatment of osteoporosis. Washington, DC: National Osteoporosis Foundation (NOF); April 1, 2014. http://nof.org/files/nof/public/content/file/2610/upload/895.pdf
  2. The Coca-cola Company. Manfaat aktivitas fisik bagi kesehatan. [homepage on the Internet]. 2013 [cited 2014 Oct 6]. Available from: http://www.beverageinstituteindonesia.org/article/health-benefits-of-physical-activity/
  3. Mulyaningsih F Mencegah dan mengatasi osteoporosis dengan berolahraga. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta; 2008. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/131808341/Mencegah%20dan%20Mengatasi%20Osteoporosis.pdf
  4. Watts NB, Bilezikian JP, Camacho PM, Greenspan Sl, Harris St, Hodgson Sf, et al. American association of clinical endocrinologists medical guidelines for clinical practice for the diagnosis and treatment for postmenopausal osteoporosis. Endocr Pract 2010; 16 (Suppl 3)(November/Desember 2010):1-37. https://www.aace.com/files/osteo-guidelines-2010.pdf
  5. Compston J, Cooper A & Cooper C Guideline for the diagnosis and management of osteoporosis: In postmenopausal women and men from the age of 50 years in the UK. UK: National Osteoporosis Guideline Group (NOGG); March 2014. http://www.shef.ac.uk/NOGG/NOGG_Pocket_Guide_for_Healthcare_Professionals.pdf
  6. Sihombing HC. Karakteristik kasus menopause osteoporosis. 2009. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/126307-S-5653-Karakteristik%20kasus-Pendahuluan.pdf