19th Jakarta Diabetes Meeting yang diadakan tanggal 13-14 November 2010 ini menyajikan serangkaian simposium dan workshop bertajuk “Diabetes, Lipid and Vaskular Risk”. Ada 5 pilihan workshop yang tersedia. Salah satu workshop yang saya ikuti beserta 50 peserta lain ini berjudul “Injection Technique” dan disajikan sangat menarik oleh ketiga pembicaranya, yaitu dr. Budiman Sujatmika,Sp.PD; DR. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD, PhD; dan dr. Rochismandoko,Sp.PD. Topik yang disajikan ini penting namun baru pertama kali disajikan dan bagus untuk dibagikan kepada dokter maupun awam penderita diabetes yang rutin menggunakan insulin. Apa teknik penyuntikan yang paling baik untuk insulin? [caption id="attachment_7934" align="alignright" width="300" caption="Slide Perbandingan Absorpsi Insulin Subkutan dibanding Intramuskular"][/caption] Teknik penyuntikan secara subkutan paling baik untuk penyuntikan insulin karena terbukti paling efektif. Dengan penyuntikan subkutan, insulin mencapai efek maksimal pada menit ke-90 lalu turun perlahan. Sedangkan efek maksimal penyuntikan intramuscular tercapai pada menit ke-20 lalu turun dan hilang dengan segera. Sayangnya teknik penyuntikan subkutan ini sering salah dilakukan dan akhirnya 12-34% teknik yang dilakukan adalah teknik penyuntikan intramuskular (ke dalam otot). Kesalahan ini tergantung dari lokasi penyuntikan, kebiasaan hidup penderita, panjang jarum yang digunakan, apakah tempat penyuntikan dicubit atau tidak, dan seberapa lama kemudian jarum dicabut setelah disuntikkan. Kesalahan teknik penyuntikan ini sering terjadi orang dewasa namun lebih sering lagi pada anak-anak, orang yang kurus, dan sering terjadi pada penyuntikan pada daerah lengan dan paha. Studi menunjukkan bahwa kesalahan ini paling sering terjadi pada orang ras Asia dibanding ras lain, yaitu ras kulit putih, kulit hitam, dan Hispanik. Bagaimana teknik penyuntikan subkutan yang benar?
  • Arah jarum 90° terhadap kulit, bukan 45° seperti yang sering dilakukan.
  • Panjang jarum yang digunakan sebaiknya berukuran 4/5/6 milimeter saja. Jarum yang kecil lebih aman, efektif, nyeri yang ditimbulkan juga lebih minimal, dan insulin yang terbuang/tersisa pada jarum juga lebih sedikit. Tidak ada jurnal yang merekomendasikan penggunaan jarum 8 milimeter. Jika terpaksa menggunakan jarum 8 milimeter, maka arah suntikan adalah 45°.
  • Jika dilakukan pencubitan, arah jarum harus tetap 90° terhadap bidang yang dicubit.
Sebenarnya perlu tidak dicubit? Ada beberapa hal yang menentukan perlu tidaknya dilakukan pencubitan. Pertama dari gemuk atau tidaknya penderita. Jika bertubuh gemuk maka tidak perlu disuntik, begitu pula untuk yang beratnya ideal. Jika bertubuh kurus, maka perlu dicubit. Pada daerah paha, pada pria perlu dicubit sedangkan pada wanita tidak perlu dicubit karena lemak pada paha wanita lebih banyak daripada pria. Pada daerah lengan pria maupun wanita tidak perlu dicubit. Pada daerah bokong jelas tidak perlu dicubit karena lemak di daerah tersebut sangat tebal. Contohnya pada seorang pasien dengan indeks massa tubuh normal, yaitu 22kg/m2, didapatkan lemak pada bokong setebal 42 milimeter. [caption id="attachment_7936" align="alignright" width="300" caption="Presentasi oleh dr. Budiman Sujatmika,Sp.PD"] [/caption] Pilih alat suntik yang mana? Ada dua pilihan alat suntik, yaitu syringe dan pen. Syringe cocok digunakan untuk penggunaan rutin setiap hari, untuk Anda yang menbuat campuran insulin sendiri, bagi yang mempunyai perawat pribadi, dan yang menggunakan insulin dosis rendah (di bawah 5U). Ukuran syringe sebaiknya disesuaikan dengan ukuran vial insulin. Jika vial insulin 100 U sebaiknya menggunakan syringe 100 U juga. Pertama Anda harus memasukkan udara sejumlah insulin yang akan dipakai. Setelah menyedot insulin, keluarkan udara dalam syringe. Setelah menyuntik, jarum bisa langsung ditarik, Anda tidak perlu menahan jarum selama 10 detik. Pen mudah dibawa, lebih praktis penggunaannya, serta tidak menarik perhatian jika digunakan di depan umum. Pen hanya dapat digunakan untuk single type insulin/fixed dose insulin.  Sebelum menyuntik Anda harus membuang dulu sebanyak 2 tetes agar takaran insulin tepat. Setelah menyuntik Anda harus menahan jarum selama 10 detik baru kemudian dicabut. Hal ini untuk memastikan insulin benar-benar masuk. Setelah dipakai, jarum harus langsung dibuang. Jika jarum tetap terpasang maka akan memungkinkan udara masuk ke dalam pen. Sebaiknya jarum hanya digunakan sekali pakai saja. Jarum terbuat dari bahan silikon yang bentuknya akan berubah setiap kali Anda gunakan. Jika terlalu sering dipakai, ketajaman jarum berkurang dan malah dapat melukai kulit Anda. Di mana daerah aman untuk menyuntik? Sebaiknya Anda menghindari penyuntikan pada radius 2 centimeter dari pusar. Jagalah jarak sebesar 1 telapak tangan di bawah lipatan paha dan 1 telapak tangan di atas lutut. Penyuntikan pada lengan dan paha sebaiknya di bagian luarnya, bukan di bagian dalam. Penyuntikan insulin paling baik di daerah perut terutama untuk orang tua karena efeknya lebih lama. Sebaiknya berpindah-pindah tempat tiap menyuntik, minimal berjarak 1 inch dari tempat suntikan sebelumnya. Anda dapat menggunakan pola rotasi melingkar seperti arah jarum jam (clock wise rotation) atau menyamping (side to side area). Jangan lupa melakukan inspeksi terlebih dahulu apakah terdapat infeksi, edema, keloid, atau lipohipertrofi. Jangan menyuntik di dekat tahi lalat. Tips Menyuntik Insulin Sebaiknya penyuntikan dilakukan di waktu-waktu yang sama tiap harinya. Cucilah tangan sebelum menyuntik. Satu alat suntik hanya untuk satu orang. Pastikan jenis insulin yang digunakan sudah benar. Penyuntikan dilakukan pada suhu ruangan. Keluarkan insulin dari kulkas 30 menit sebelum penyuntikan. Insulin yang belum dipakai memang harus disimpan di kulkas namun insulin yang sudah dipakai tidak perlu disimpan di kulkas lagi. Jika dilakukan desinfeksi dengan alkohol, maka tunggu hingga alkohol mengering. Otot harus berada dalam posisi rileks. Buang gelombang udara pada syringe/pen. Jangan menggoyangkan jarum selama penyuntikan. Jangan mengusap bekas suntikan karena dapat menimbulkan iritasi dan untuk menghindari terjadinya jaringan parut. Jika keluar darah pada tempat bekas suntikan, Anda tidak perlu mengulang penyuntikan. Jika tempat bekas suntikan menjadi memar kebiruan, berarti jarum mengenai pembuluh darah. Hal ini akan normal kembali dengan sendirinya. Sebaiknya Anda jangan menyuntik di daerah tersebut lagi. [caption id="attachment_7935" align="alignright" width="300" caption="Praktek Penyuntikan Langsung ke Penderita Diabetes"] [/caption] Efek samping Penyuntikan Insulin Rutin Efek samping yang paling sering terjadi adalah lipohipertrofi yang ditandai dengan benjolan-benjolan pada bekas tempat penyuntikan yang disebabkan karena lapisan lemak yang mengeras. Anda tidak boleh menyuntik pada daerah yang mengalami lipohipertrofi ini. Sayangnya fakta menunjukkan bahwa 48% dokter ternyata tidak memperhatikan ada tidaknya lipohipertrofi ini sebelum menyuntik. Praktek Penyuntikan Langsung ke Penderita Diabetes Setelah sesi presentasi, panitia mengundang dua orang pemakai insulin rutin yaitu Bapak Surono dan Ibu Lilis. Dua orang peserta workshop diperbolehkan untuk mempraktekkan penyuntikan insulin secara langsung dan disaksikan oleh seluruh peserta. Sesi tanya jawab juga hidup karena peserta yang interaktif dan pembicara yang selalu menambahkan joke di setiap jawaban.